Beras analog dari limbah kulit apel dalam kemasan yang dihasilkan mahasiswa FTP Universitas Brawijaya (UB). Dok Humas UB
Beras analog dari limbah kulit apel dalam kemasan yang dihasilkan mahasiswa FTP Universitas Brawijaya (UB). Dok Humas UB

Mahasiswa UB Berdayakan Warga Tulungrejo Buat Beras dari Kulit Apel

Antara • 17 September 2020 21:46
Malang: Enam mahasiswa Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) Universitas Brawijaya (UB) memberdayakan ibu-ibu PKK di Desa Tulungrejo, Batu, Jawa Timur, untuk memanfaatkan limbah kulit buah apel menjadi beras analog bernama Beras Analog Kulit Apel (Benkap). Koordinator Tim Benkap M Mukasyafatul Asror, mengatakan, kegiatan ini merupakan program pelatihan terpadu dalam penanganan limbah organik, khususnya kulit buah apel.
 
Keenam mahasiswa tersebut adalah Moch Mukasyafatul Asror, Arva Saktia Zulemita, Esthy Dwi Anggraeni, Erni Wahyu Wijayanti, Husna Atikah, dan Rizal Nur Alfian. Mereka dibimbing oleh dosen Joko Prasetyo.
 
"Benkap merupakan program yang solutif dengan memberdayakan unsur masyarakat dalam menangani permasalahan limbah organik di Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji," ujar Mukasyafatul di Malang, Kamis, 17 September 2020.

Desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji dikenal memiliki beberapa Usaha Mikro, Kecil, dan menengah (UMKM0 keripik apel cukup besar. Sebagian warganya juga bekerja sebagai pekerja atau buruh pengupas kulit apel. Masyarakat di daerah itu belum produktif dalam peningkatan ekonomi.
 
Baca: Dosen IPB Ciptakan Kit Diagnostik Alzheimer
 
Selain itu, proses produksi keripik apel jika terus menerus dilakukan akan menimbulkan limbah kulit apel yang menumpuk. Potensi limbah kulit apel sehari sekitar 40 kilogram.
 
Sebagian masyarakat hanya memanfaatkan limbah kulit apel sebagai pakan ternak dan sisanya dibuang begitu saja. Jika kebiasaan tersebut masih berlangsung secara terus menerus akan berdampak besar pada lingkungan dan kesehatan warga desa.
 
Selain itu, di dalam kulit apel memiliki banyak kandungan untuk dijadikan olahan produk yang ekonomis dan bermanfaat. Rendahnya pengetahuan masyarakat mengenai pengolahan kulit apel menyebabkan masyarakat tidak mengetahui manfaat kulit apel dengan baik.
 
 

Mukasyafatul mengatakan, proses pembuatan Benkap cukup mudah, hanya dengan fortifikasi tepung kulit buah apel dan bahan-bahan lain. 
 
Dalam kegiatan tersebut, tim mengajarkan mekanismenya. Pertama, kulit buah apel dikeringkan menggunakan oven untuk memudahkan proses menjadikan tepung kulit apel, kemudian dilakukan proses pencampuran dengan fortifikasi tepung lain seperti sorgum, meizena serta penambahan larutan GMS.
 
Baca: GeNose UGM, Deteksi Covid-19 Lewat Hembusan Napas
 
Selanjutnya, didapatkan adonan dan potong menggunakan noodle maker serta gunting lalu dikeringkan, terakhir adalah proses pengemasan beras analog dengan berat bersih 250 gram/pcs.
 
Benkap memiliki kandungan protein dan antioksidan tinggi yang dapat mencegah kanker dan diabetes serta bisa meningkatkan daya tahan tubuh untuk mengurangi risiko terpaparnya virus dan bakteri.
 
"Tim kami juga telah menggagas produk turunan dari Benkap, yaitu berupa pupuk organik cair (POC) dari apel reject dan tepung kulit apel sebagai pengembangan dari keberlanjutan program kami," tuturnya
 
Hingga saat ini, program Benkap masih berlanjut dan akan terus dikembangkan untuk mencapai peningkatan kesejahteraan masyarakat Desa Tulungrejo. Melalui program ini, diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat Desa Tulungrejo dengan penjualan produk Benkap sebesar Rp3.200.640, per bulan. Langkah selanjutnya dari program ini, yaitu bekerja dengan dinas pemerintahan terkait untuk mendukung keberlanjutan program.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(AGA)
  • Halaman :
  • 1
  • 2
Read All




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan