Ilustrasi. Foto: Dok. IPB
Ilustrasi. Foto: Dok. IPB

Dosen IPB Ciptakan Kit Diagnostik Alzheimer

Pendidikan inovasi Pendidikan Tinggi Riset dan Penelitian
Citra Larasati • 17 September 2020 14:39
Jakarta: Dosen Institut Pertanian Bogor (IPB) tengah mengembangkan sebuah kit yang dapat mendiagnosa secara dini kemunculan penyakit Alzheimer. Alzheimer merupakan penyakit otak yang mengakibatkan penurunan daya ingat, kemampuan berpikir, berbicara dan perubahan perilaku secara bertahap, serta belum diketahui apa penyebabnya.
 
"Secara ekonomi, kit ini memiliki nilai komersial yang sangat tinggi. Sebab selama ini, kit komersial yang tersedia, didatangkan via impor sehingga sulit terjangkau dan membutuhkan waktu cukup lama dalam perolehannya dan secara komersial bernilai tinggi,” ujar Dosen IPB dari Fakultas Kedokteran Hewan, Dr drh Huda S Darusman, dalam keterangannya, Kamis, 17 September 2020.
 
Pengembangan kit diagnostik Alzheimer berbasis Elisa dalam negeri ini berpotensi memberikan manfaat baik secara saintifik maupun ekonomi. Protein amyloid beta 42 (Aβ42) sebagai bahan untuk pembuatan alat diagnostik penyakit Alzheimer pada manusia ini merupakan upaya yang strategis.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Dikembangkan sebagai upaya penunjang diagnostik, berupa uji penapisan terhadap marka yang merupakan penanda dini penyakit Alzheimer tersebut. Penapisan berbasis pendeteksian peptida atau protein ini dapat dilaksanakan secara efektif dan akurat melalui teknik immunoassay atau dikenal dengan Enzyme Linked Immunoassay (Elisa).
 
"Teknik ini mengoptimalkan bahan antibodi spesifik atau antibodi monoklonal terhadap peptida Aβ42 tersebut," sambung Huda.
 
Baca juga:Prolislim, Obat Herbal Pelangsing Ciptaan Dosen IPB
 
Kepala Pusat Studi Satwa Primata (PSSP) IPB ini mengatakan, penelitian ini dikembangkan melalui tahapan produksi monoklonal antibodi terhadap amiloid, purifikasi, konjugasi. Selanjutnya akan diaplikasikan pada teknik ELISA untuk mendeteksi kadar amiloid pada monyet ekor panjang.
 
Setelah itu akan dilakukan validasi dan verifikasi hasil dengan membandingkannya terhadap kit komersial. "Kit yang kami hasilkan juga akan divalidasi untuk mendeteksi kadar amyloid pada sampel manusia. Sehingga harapan kami untuk kit ini benar-benar dapat memberikan solusi riil dalam pengembangan penapisan Alzheimer,” kata Huda.
 
Tingkat kesiapan teknologi dari penelitian ini adalah pada tingkat lima dan enam di akhir penelitian atau tahun ke-3 penelitian. Pada tahun terakhir penelitian juga diharapkan prototype antibodi monoklonal Aβ42 sebagai kandidat imunoterapi ini akan diujicobakan pada sampel primata dan terhadap sampel manusia.
 
"Yaitu pasien yang memiliki latar belakang penyakit Alzheimer dan akumulasi peptida Aβ42," terang Huda.
 
PSSP IPB University akan bekerja sama dengan Rumah Sakit atau Lembaga Kesehatan terkait untuk mendapatkan sampel uji asal manusia dan melakukan pengujian sesuai kaidah etika penelitian. Melalui tahapan ini didapatkan data potensi dasar dari antibodi monoklonal terhadap peptida Aβ42 tersebut.
 
Data tersebut dapat disusun untuk dipresentasikan pada forum ilmiah nasional dan atau berpotensi sebagai bahan publikasi ilmiah di jurnal bereputasi internasional. Dengan demikian, lanjutnya, kit diagnosis ini dapat bersaing dengan kit impor yang tersedia sekarang.
 
Bahkan bukan tidak mungkindapat menggantikan kit komersial yang ada sekarang ini sehingga manfaat secara ekonomi benar-benar terwujud. Selain itu, harapannya dari kit ini juga dapat menyumbangkan salah satu kemandirian bangsa dalam penelitian kesehatan, khususnya penyediaan bahan uji biologis untuk penelitian neurosains dan penyakit degeneratif.
 
(CEU)



FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif