Lanskap Kota Jakarta. Foto: Pexels
Lanskap Kota Jakarta. Foto: Pexels

Pengembangan Smart City Tidak Bisa Bergantung pada AI, Apa Peran Manusia?

Muhammad Syahrul Ramadhan • 29 Oktober 2026 17:07
Ringkasnya gini..
  • Rektor UPJ Elisabeth Rukmini mengingatkan pengembangan AI harus tetap menempatkan manusia sebagai pusat inovasi.
  • Penggunaan AI dalam pendidikan tinggi perlu mendukung pembelajaran tanpa menghilangkan peran pendidik.
  • Ketahanan kota masa depan tidak cukup mengandalkan teknologi, tetapi juga membutuhkan penguatan hubungan sosial dan ekonomi masyarakat.
Jakarta: Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) semakin memengaruhi berbagai aspek kehidupan, mulai dari pendidikan hingga pembangunan kota pintar. Namun, kemajuan teknologi tersebut harus tetap menempatkan manusia sebagai pusat inovasi, bukan justru menggantikan perannya.

Rektor Universitas Pembangunan Jaya (UPJ), Elisabeth Rukmini, menegaskan keberhasilan pengembangan teknologi tidak cukup hanya diukur dari kecanggihan atau peningkatan kinerja sistem. Teknologi juga harus mampu memperluas kemampuan dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

"Pengembangan teknologi untuk kota masa depan perlu menempatkan manusia sebagai pusatnya. Kita perlu menilai inovasi tidak hanya dari peningkatan kinerja sistem, tetapi juga dari kemampuannya memperluas kapasitas, menjaga martabat, dan membuka kesempatan bagi masyarakat," ujar Elisabeth dalam keterangannya, dikutip Kamis, 29 Oktober 2026. Menurut Elisabeth, perkembangan AI telah membawa perubahan besar dalam cara manusia berinteraksi dengan lingkungan perkotaan. Infrastruktur fisik kini semakin terhubung dengan aplikasi digital dan sistem kecerdasan buatan.

Perpaduan antara ruang fisik dan digital tersebut dikenal dengan istilah phygital. Konsep ini menjadi salah satu pendekatan dalam pengembangan kota masa depan yang semakin mengandalkan teknologi.

Meski demikian, Elisabeth mengingatkan bahwa penerapan teknologi harus tetap memperhatikan kebutuhan manusia. Inovasi seharusnya membantu masyarakat menjalankan aktivitas dengan lebih baik, bukan sekadar menggantikan fungsi yang selama ini dilakukan manusia.

Prinsip tersebut juga berlaku dalam dunia pendidikan tinggi. Menurut Elisabeth, pemanfaatan AI dalam pembelajaran harus tetap mempertahankan peran penting pendidik dalam mendampingi mahasiswa.
WhatsApp Image 2026-10-29 at 9_42_16 AM
ICUSME 2026. Foto: UPJ

Penggunaan AI, pembelajaran daring, hingga kredensial mikro membuka peluang bagi perguruan tinggi untuk menghadirkan sistem pendidikan yang lebih fleksibel dan sesuai kebutuhan peserta didik. Namun, penggunaan teknologi tersebut tidak boleh mengabaikan interaksi manusia dalam proses pembelajaran.

Elisabeth menekankan bahwa personalisasi pendidikan harus dibangun berdasarkan pemahaman terhadap kebutuhan masing-masing peserta didik. Dalam proses tersebut, teknologi berfungsi sebagai alat pendukung, sedangkan pendidik tetap memiliki peran penting dalam memberikan pendampingan.

Pandangan itu disampaikan Elisabeth dalam International Conference on Urban Sustainability, Mobility, and Engineering (ICUSME 2026) yang diselenggarakan UPJ melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) Dalam forum internasional tersebut, Elisabeth membawakan materi bertajuk The Phygital Urban Future: Keeping Humans at the Center of Engineering and Higher Education.

Selain penggunaan AI, konferensi tersebut turut menyoroti pentingnya hubungan sosial dan mobilitas tenaga profesional dalam membangun ketahanan perkotaan. Profesor dari Tamkang University, Taiwan, Jian-bang Deng, menjelaskan bahwa kemampuan kota menghadapi perubahan ekonomi dan geopolitik tidak hanya ditentukan oleh kualitas infrastruktur.

Menurut dia, jaringan sosial yang terbentuk melalui mobilitas tenaga profesional lintas negara juga berperan penting. Utamanya dalam memperkuat ketahanan masyarakat.

"Mobilitas tenaga profesional lintas negara membentuk jaringan yang menghubungkan institusi, komunitas, dan sumber daya di berbagai kota. Memahami jaringan ini penting untuk melihat bagaimana hubungan sosial dan ekonomi turut mendukung kemampuan kota beradaptasi terhadap perubahan," ujar Jian-bang Deng.

Melalui penelitiannya terhadap profesional Taiwan di Jakarta dan Ho Chi Minh City, Vietnam, Jian-bang Deng mengkaji bagaimana perpindahan tenaga profesional turut membangun jaringan ekonomi dan sosial lintas wilayah. Para profesional tersebut tidak hanya berpindah negara untuk bekerja, tetapi juga menghubungkan institusi, memperluas jejaring, dan membuka peluang kolaborasi.

Kajian ini menunjukkan bahwa pembangunan kota berkelanjutan membutuhkan pendekatan yang lebih luas. Selain infrastruktur dan teknologi, aspek sosial, ekonomi, serta kemampuan masyarakat beradaptasi juga perlu menjadi perhatian.

Persoalan tersebut turut dibahas dalam ICUSME 2026 melalui lima bidang kajian. Di antaranya yakni rekayasa infrastruktur berkelanjutan, teknologi kota pintar dan AI, ketahanan terhadap perubahan iklim, inklusi sosial, serta pembangunan ekonomi perkotaan.

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(RUL)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan