Sayangnya, jejak rekam luar biasa ini masih banyak yang terkubur dan belum terdokumentasi dengan baik. Kini, tantangan terbesar bangsa ini bukan cuma soal melahirkan penemuan baru, melainkan bagaimana generasi muda mampu menguji, merawat, dan mengembangkan pengetahuan lokal yang sudah lama diwariskan leluhur.
Isu krusial ini dibedah tuntas dalam Gelar Wicara bertajuk “Indonesia dalam Sejarah Sains, Sains dalam Sejarah Indonesia” yang digagas oleh Direktorat Diseminasi dan Pemanfaatan Sains dan Teknologi, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) bersama Komisi X DPR RI di Museum Multatuli, Lebak, Banten.
Direktur Jenderal Sains dan Teknologi Kemendiktisaintek, Ahmad Najib Burhani, menegaskan bahwa sains sejatinya sangat lekat dengan identitas bangsa kita.
"Tradisi pengetahuan telah berkembang dalam masyarakat Nusantara melalui pengalaman empiris di bidang pelayaran, pertanian, pengobatan, astronomi, teknologi maritim, hingga pengelolaan lingkungan. Sains merupakan bagian dari perjalanan panjang peradaban Nusantara yang perlu terus dikembangkan untuk menjawab tantangan masa depan,” ujar Najib, dikutip dari siaran pers, Minggu, 9 Agustus 2026.
Menurut Najib, mengenali akar sejarah ini penting untuk mendongkrak rasa percaya diri bangsa. Pengetahuan lokal wajib dikawinkan dengan ilmu kontemporer. “Sains tidak boleh hanya tumbuh di ruang laboratorium atau kampus, tetapi harus hadir dalam kehidupan sehari-hari, menjadi dasar pengambilan keputusan, serta mendorong lahirnya inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat,” katanya.
Publik Percaya Sains, tapi Pasif Bertindak
Satu fakta mengejutkan datang dari pemaparan Direktur Diseminasi dan Pemanfaatan Sains dan Teknologi, Yudi Darma. Lewat Survei Nasional Persepsi dan Minat terhadap Saintek 2025 bersama LSI, terungkap ada paradoks di tengah masyarakat kita.Dari 1.203 responden, 87,9 persen menyatakan percaya terhadap sains dan 81,1 persen menaruh respek pada ilmuwan. Namun, rasa percaya ini tidak diiringi dengan aksi nyata alias partisipasi publik yang sangat tiarap.
"Sebanyak 88,2 persen masyarakat tidak terlibat dalam aktivitas saintek, 74,1 persen masyarakat mengaku tidak pernah berdiskusi tentang saintek, dan 87,3 persen jarang bahkan bisa dikatakan tidak pernah membaca jurnal atau buku ilmiah dalam satu tahun terakhir," tutur Yudi.
Kondisi ini menjadi PR besar. Edukasi sains ke depan tak boleh sekadar pamer hasil riset, tapi harus disulap menjadi habit sehari-hari melalui ruang publik yang asyik seperti museum dan diskusi sejarah.
Kekayaan Pengetahuan Lokal yang Terlupakan
Anggota Komisi X DPR RI, Bonnie Triyana, turut menyoroti pentingnya konsep pluriversalitas pengetahuan. Intinya, kearifan lokal tak perlu dilawankan dengan sains modern. Justru, ilmu sains hadir untuk memvalidasi dan mengembangkan pengetahuan tradisional agar makin relevan.Bukti kehebatan Nusantara juga dipaparkan oleh para panelis. Dosen SGPP Indonesia Luthfi Adam mencontohkan bagaimana Kebun Raya Bogor di abad ke-19 sukses menjadi pusat riset botani top dunia berkat keringat tenaga lokal.
Dosen Sejarah Unpad Budi Gustaman menambahkan, kearifan warga dalam membaca musim dan perilaku hewan adalah bentuk observasi ilmiah yang diwariskan turun-temurun. Sementara Kolumnis Historia ID Rahadian Rundjan menegaskan perairan Nusantara abad ke-18 dan 19 telah menjadi episentrum ekspedisi ilmiah dunia.
Melalui momentum ini, Kemendiktisaintek berharap Gen Z tak membiarkan sejarah sains berhenti menjadi tumpukan arsip usang. Saatnya kembali menggali, meriset, dan mendiseminasikan warisan pengetahuan lokal demi memperkuat taring Indonesia di panggung sains global.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda