Kondisi merugikan tersebut selama bertahun-tahun mencekik para petani anggur di kawasan Banjar, Buleleng, Bali. Menghentikan siklus rugi ini, Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) turun tangan mengatasi kendala tersebut melalui program Co-Creation Living Lab Berbasis Etnosains: Optimalisasi Teknik Budidaya Anggur dan Inovasi Pascapanen untuk Peningkatan Nilai Ekonomi Petani.
Langkah hilirisasi riset nyata ini digulirkan lewat dukungan Direktorat Diseminasi dan Pemanfaatan Sains dan Teknologi (Minatsaintek), Ditjen Saintek, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) melalui pendanaan Program Bestari Saintek.
Dekan Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) Undiksha, Prof. Dr. I Wayan Widiana, S.Pd., M.Pd., menegaskan bahwa terobosan ini hadir untuk menjawab langsung kegelisahan warga Banjar yang mayoritas menggantungkan hidup pada perkebunan anggur.
"Nah awalnya kita kan melihat ada satu kawasan di Banjar. Itu kawasan anggur. Ini satu kecamatan, hampir semuanya pertaniannya anggur. Nah saat ini, keresahan para pertanian itu ketika panen anggur, itu harganya anjlok, kemudian murah. Lalu kalau dijual pun, hanya mentahan," ujar Wayan saat ditemui di Living Lab pengolahan anggur di Banjar, Bali, Rabu, 28 Oktober 2026.
Sulap Buah Mentah Jadi Jus Bernilai Tinggi
Melihat potensi bahan baku yang melimpah ruah, Undiksha merancang formulasi pascapanen modern agar hasil panen memiliki daya simpan lama sekaligus nilai tambah ekonomi yang tinggi. Setelah memetakan potensi antara produk fermentasi atau wine dan sari buah murni, pasar lokal menunjukkan animo luar biasa terhadap jus anggur segar."Kita mencoba mencarikan solusi, bagaimana jika kita kelola buah anggur itu salah satunya menjadi jus atau bahkan wine. Kalau yang diminati oleh masyarakat ternyata adalah jus anggurnya," papar Wayan.
Fasilitas produksi yang dibangun tidak dibiarkan menjadi sarana pasif semata, melainkan dirancang sebagai living lab, ekosistem laboratorium hidup yang beroperasi langsung di tengah aktivitas harian komunitas tani.
"Jadi kita mencoba membuatkan fasilitas kepada kelompok tani yang ada di sini sebagai percontohan saja. Mudah-mudahan diikuti kelompok tani yang lain secara mandiri ke depan," terangnya.
Sari Buah Anggur Bali hasil penerapan program Bestari Saintek, Foto: Medcom/Citra Larasati
Dampaknya langsung terasa. Penerimaan pasar melesat pesat, ditandai dengan banjir pesanan untuk berbagai agenda perhelatan besar warga di Bali. "Nah ternyata setelah di tes di pasaran, jus anggur ini peminatnya tinggi. Jadi kita sudah mulai memproduksi dalam skala besar. Yang banyak peminatnya itu adalah ketika ada hajatan besar, sehingga dia meminta order itu 300, 500, bahkan hingga 700 botol karena ada hajatan," ungkapnya.
Alokasi Hibah dan Kapasitas Produksi Massal
Transformasi operasional kelompok tani di Banjar ditopang oleh suntikan dana dari Ditjen Minat Saintek yang kemudian dibelanjakan dalam bentuk fasilitas dan mesin modern dari. Alokasi dana difokuskan sebesar 60 persen pada pengadaan mesin pengolahan, botol kemasan khusus, dan infrastruktur sanitasi berstandar mutu tinggi.Fasilitas ini sanggup memacu volume produksi dalam skala komersial yang stabil. "Sekali produksi itu mungkin 700-900 botol yang isinya 250 ml," beber Wayan.
Kemandirian pengolahan ini otomatis memotong rantai pasok konvensional yang selama ini menekan posisi tawar petani ke titik terendah. "Pertama ada memang pengepul anggur. Jadi dikumpulkan ke pengepul, kemudian dikirim ke pasar-pasar tradisional. Kita berharap dengan adanya ide begini, tidak lagi dikumpulkan di pengepul untuk diancar ke pasar-pasar tradisional. Kita cari alternatif lain untuk diolah," tegasnya.
Pelatihan SDM hingga Penguatan Manajemen Finansial
Bukan sekadar mengirim unit mesin, pendampingan holistik diberikan mencakup transfer keahlian tenaga kerja lokal, mulai dari pengawasan standar higienitas hingga edukasi mitigasi risiko usaha agar operasional tani benar-benar mencetak profit."Dan saya secara pribadi mewakili juga teman-teman tim dan kelompok, saya juga mengucapkan terima kasih kepada Kemendiktisaintek yang sudah memberikan fasilitas kepada kelompok tani yang ada di sekitar Undiksha untuk bisa mengembangkan potensi-potensi yang ada, terutama program Bestari Saintek ini," paparnya.
Wayan mengaku optimistis bahwa kehadiran nyata di lapangan menjadi magnet paling efektif untuk mengubah paradigma para petani di seluruh kawasan sentra anggur tersebut. "Mereka butuh contoh dulu sebenarnya. Karena untuk bisa seperti ini kan butuh motivasi, butuh niat, butuh melihat contoh, sudah bisa berjalan belum. Nah kalau sudah ada contoh seperti ini, saya yakin mereka akan tergerak, mereka akan termotivasi di kelompoknya masing-masing," terang Wayan.
Direktur Diseminasi dan Pemanfaatan Sains dan Teknologi (Minat Saintek) Kemendiktisaintek, Prof. Yudi Darma, Ph.D., mengapresiasi langsung keberhasilan tim peneliti Undiksha yang turun mendampingi kelompok tani anggur setempat secara langsung di lapangan.
"Jadi program yang diampu oleh teman-teman dari Undiksha ini adalah program Bestari Saintek berbasiskan living lab. Jadi langsung kita lihat, ini ada kelompok tani yang menghasilkan buah anggur. Nah sekarang mereka tidak hanya sampai dioptimalisasi teknik budidaya, tapi juga mencarikan inovasi pascapanen.
"Jadi selama ini saya dengar mereka menjual langsung buah anggur di pasar-pasar tradisional. Nah sekarang kita lihat tadi, ini produknya sudah berbeda. Jadi sari buah anggur, kemudian ada juga yang sampai ke wine tadi ya," ujar Yudi ditemui di sela-sela kunjungannya di Bali.
Suasana living lab pengolahan anggur di Banjar, Bali. Foto: Medcom/Citra Larasati
Jadi Komoditas Rebutan
Intervensi teknologi pascapanen ini secara langsung memutus "kutukan" panen raya. Buah anggur yang dahulu kerap terbuang percuma kini diolah menjadi sari buah steril dan produk olahan bernilai jual tinggi dengan serapan pasar lokal yang sangat agresif."Nah sekarang dengan adanya program kita ini, jadi buah anggur yang berlimpah tadi diolah. Kemudian otomatis setelah diolah itu memiliki nilai ekonomi yang jauh lebih tinggi. Nah tadi kita mendengarkan sekali produksi, mereka bisa menghasilkan 700 sampai mungkin hampir 1.000 botol gitu. Dan itu langsung ada permintaan pasar," kata Yudi.
Terlebih lagi masyarakat Bali sering mengadakan acara hingga festival. "Jadi setiap festival dan acara itu mereka order hasil-hasil pengolahan anggur ini. Jadi malah sekarang kita dengar mereka itu kekurangan bahan-bahan pasok dan bahan dasar," jelasnya.
Tingginya permintaan tersebut membuat Kemendiktisaintek kian mendorong penguatan kapasitas hulu ke hilir."Jadi kita berharap nanti dengan keberhasilan teman-teman mengelola buah anggur untuk pascapanen ini, nanti seluruh produksi tanaman perkebunan anggur di wilayah sini itu bisa diolah. Ini yang perlu kita dorong terus," imbuh Yudi.
Bestari Saintek Kemendiktisaintek
Program Ekosistem Hidup Berbasis Sains dan Teknologi (Bestari Saintek) merupakan program strategis Ditjen Minatsaintek yang didanai bersama Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). Bestari Saintek dirancang sebagai jembatan riset perguruan tinggi agar tidak berhenti di lemari arsip maupun sekadar publikasi jurnal ilmiah semata.Melalui konsep living lab, riset dan inovasi akademisi diuji langsung dalam ekosistem masyarakat guna menghasilkan Non-Traditional Research Output (NTRO), seperti model bisnis, produk siap pasar, dan teknologi tepat guna, yang berdampak langsung pada penguatan rantai pasok dan kesejahteraan ekonomi lokal.