Peneliti fokus pada fasting-mimicking diet (FMD) atau diet yang meniru efek puasa, yaitu pembatasan ketat asupan kalori selama beberapa hari. Saat terjadi peradangan, yaitu kondisi ketika sistem kekebalan tubuh bereaksi terlalu kuat dan terlalu lama, diet FMD dapat mengurangi peradangan dalam tubuh.
Periodontitis sendiri merupakan penyakit yang bersifat inflamasi (peradangan). Jadi, mungkinkah cara ini bisa menjadi metode pengobatan penyakit gusi?
Untuk menyelidikinya, tim peneliti internasional merekrut 28 pasien periodontitis. Separuh dari mereka menjalani diet ketat selama lima hari, sementara separuh lainnya diminta melanjutkan pola makan dan minum seperti biasa.
Setelah enam bulan, kelompok yang menjalani FMD menunjukkan lebih sedikit penanda peradangan dalam darah dan cairan celah gingiva (cairan yang terdapat di antara gigi dan gusi). Baik pada mulut maupun tubuh secara keseluruhan, sinyal peradangan pada kelompok FMD tampak berkurang.
"Penelitian kami menunjukkan perubahan gaya hidup bisa menjadi hal penting yang mendampingi kebiasaan menyikat gigi yang benar bagi pasien," ujar periodontolog Giuseppe Mainas dari King's College London dikutip dari sciencealert.com, Selasa, 7 Juli 2026.
Peserta yang menjalani FMD diminta hanya mengonsumsi 1.100 kalori selama dua hari, kemudian 750 kalori untuk tiga hari berikutnya. Pada hari keenam dan ketujuh, pola makan mereka kembali normal.
Pola mingguan ini diulang sebanyak tiga kali selama tiga bulan, dilanjutkan dengan pemantauan dan tes darah selama tiga bulan berikutnya.
Sebagai perbandingan, pria umumnya membutuhkan 2.500 kalori per hari untuk tetap sehat, sementara wanita membutuhkan sekitar 2.000 kalori. Satu buah pisang kira-kira memberikan 100 kalori.
Kedua kelompok sama-sama menjalani prosedur pembersihan karang gigi secara mendalam (deep cleaning) untuk mengatasi periodontitis mereka di awal periode penelitian enam bulan ini. Pembatasan kalori di sini berfungsi sebagai terapi pendamping, bukan satu-satunya pengobatan.
Prosedur deep cleaning ini, yang merupakan penanganan standar untuk penyakit gusi tingkat lanjut, justru dapat memicu lonjakan peradangan di mulut. Inilah salah satu alasan mengapa peneliti ingin melihat apakah diet dapat membantu meredakannya.
Baca Juga :
Cukup Foto Pakai HP, Dosen UGM Ciptakan 'Denteksi', AI yang Bisa Cek Kesehatan Gigi Mandiri
Hal ini diharapkan dapat memberikan prospek kesehatan jangka panjang yang lebih baik, meskipun peneliti belum mengujinya secara langsung dalam studi ini, sekaligus mengurangi risiko dampak lanjutan dari peradangan akibat penyakit gusi.
Periodontitis sebelumnya telah dikaitkan dengan risiko stroke dan kerusakan otak yang lebih tinggi. Sehingga, masalah yang ditimbulkan tampaknya tidak hanya terbatas pada mulut.
Para peneliti menduga ada beberapa alasan mengapa puasa dapat memberikan manfaat bagi pasien penyakit gusi.
"Puasa mengurangi stres oksidatif dalam tubuh, yang merupakan penyebab umum peradangan dan dapat merusak sel serta DNA," jelas periodontolog Luigi Nibali dari King's College London.
"Konsumsi makanan tinggi kalori dan karbohidrat olahan, misalnya pada kue dan biskuit, juga dapat memicu peradangan, sehingga membatasi jenis makanan ini turut membantu mengurangi stres oksidatif dalam tubuh."
Temuan ini sejalan dengan penelitian-penelitian sebelumnya yang mengaitkan pola makan sehat dengan tingkat peradangan yang lebih rendah dalam tubuh, serta risiko penyakit gusi yang lebih kecil.
Para peneliti berharap dapat melakukan studi lanjutan dengan skala lebih besar dan jangka waktu lebih panjang. Hasil awal ini menunjukkan penerapan diet tertentu bersamaan dengan deep cleaning standar berpotensi memberikan manfaat bagi penderita periodontitis.
Ke depannya, bukan tidak mungkin ditemukan cara untuk menghasilkan efek anti-inflamasi serupa bagi orang-orang yang tidak dapat membatasi asupan kalori karena kondisi tertentu, seperti penderita diabetes.
"Intervensi yang diuji ini menghasilkan perubahan pada respons inflamasi baik secara lokal maupun sistemik; namun, temuan ini masih bersifat eksploratif," tulis para peneliti dalam laporan penelitian mereka.
"Tren biomarker yang bersifat eksploratif ini menunjukkan perlunya penelitian lanjutan dengan skala yang lebih besar, meskipun kesimpulan mengenai efikasi klinis belum dapat ditarik pada tahap ini."
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda