Kebakaran di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) Foto: BPBD Kab. Malang.
Kebakaran di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) Foto: BPBD Kab. Malang.

Bahaya Efek 'Kuali', Pakar IPB Ungkap Alasan Kebakaran Bromo Cepat Menjalar

Citra Larasati • 13 Agustus 2026 15:09
Ringkasnya gini..
  • Kondisi geografis Bromo yang bak 'kuali' bikin arah angin liar dan api cepat meluas, sebut Guru Besar IPB.
  • Medan berlereng dan vegetasi kering bikin kebakaran TNBTS sulit padam jika hanya andalkan alat seadanya.
  • Tragedi kebakaran 2023 wajib jadi alarm. Deteksi dini dan kolaborasi pemadaman darat-udara adalah kunci.
Jakarta: Kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) kerap menjadi langganan amukan si jago merah. Karakter alamnya yang unik dan estetik ternyata menyimpan bahaya mematikan saat musim kemarau tiba.
 
Bukan sekadar faktor cuaca panas, ada alasan ilmiah mengapa api di kawasan ikonis ini sangat agresif dan sulit dijinakkan. Guru Besar Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University, Prof Bambang Hero Saharjo, membeberkan bahwa deteksi dini adalah fondasi utama sebelum percikan kecil berubah menjadi bencana ekologis raksasa.
 
“Pemantauan terhadap indikasi terjadinya kebakaran harus dilakukan sedini mungkin dan sepasti mungkin. Tujuannya untuk menghentikan seluruh potensi api yang akan berkembang menjadi api besar,” ujar Bambang, di Jakarta, Kamis, 13 Agustus 2026.

Terjebak dalam 'Kuali' Raksasa

Menaklukkan api di Bromo tidak bisa disamakan dengan memadamkan kebakaran di lahan biasa. Area TNBTS didominasi oleh ruang terbuka dengan lereng yang curam, dipenuhi hamparan vegetasi yang sangat mudah mengering.

Saat api merambat ke area berlereng dan tertiup angin gunung, pergerakannya menjadi sangat liar dan nyaris mustahil dilawan dengan alat pemadam seadanya.
 
Lebih lanjut, Bambang menyoroti bahwa faktor paling mematikan justru berasal dari bentuk topografi Bromo itu sendiri. “Kondisi geografis TNBTS yang menyerupai bentuk kuali turut memengaruhi pola penjalaran api. Perubahan arah dan kecepatan angin dapat membuat pergerakan api sulit diprediksi. Kondisi tersebut semakin berisiko ketika bahan bakar berupa vegetasi kering tersedia dalam jumlah besar,” ungkapnya.

Ancaman Ekologis Flora Endemik

Menghadapi medan yang ekstrem, pemadaman konvensional tidak akan cukup. Prof Bambang menyarankan perlunya kombinasi taktis antara pemadaman jalur darat dan udara yang presisi. Bahkan, pengerahan helikopter (water bombing) harus dihitung matang-matang agar hembusan baling-baling tidak justru meniupkan bara dan memicu titik api baru.
 
Jika dibiarkan meluas, dampaknya akan menghancurkan keanekaragaman hayati TNBTS. Permukaan tanah akan kehilangan tutupannya, memicu pemanasan suhu lokal, dan merusak siklus pemulihan ekosistem.
 
“Risiko tersebut menjadi semakin penting karena TNBTS memiliki vegetasi khas pada berbagai ketinggian, mulai dari puspa, rasamala, dan saninten di zona pegunungan bawah hingga cemara gunung, edelweis Jawa, dan cantigi di zona pegunungan atas,” ujarnya.

Tragedi 2023 Harus Jadi Alarm Keras

Hilangnya kobaran api dari pandangan bukan berarti kawasan Bromo sudah aman sepenuhnya. Sistem pengawasan ketat wajib dilanjutkan untuk memastikan tidak ada bara api yang tertinggal dan kembali menyala. Selain itu, masyarakat dan relawan yang terjun membantu pemadaman harus dibekali pengetahuan dasar agar langkah evakuasi tidak menjadi bumerang yang memperbesar kobaran api.
 
“Pengendalian kebakaran harus dilakukan secara sungguh-sungguh, mulai dari pencegahan, pemadaman, hingga penanganan pascakebakaran. Kebakaran besar tahun 2023 semestinya menjadi cermin untuk melakukan perubahan agar kejadian serupa tidak berulang,” ucapnya.
 
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(CEU)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan