Jakarta: Lembaga Southeast Asian Ministers of Education Organitation-Regional Centre for Food and Nutrition (SEAMEO-RECFON) melakukan penelitian terhadap gizi anak Indonesia. Sebanyak 4 ribu anak usia 7-18 diteliti pada tahun 2024.
SEAMEO-REFCON menemukan sejumlah persoalan kekurangan zat gizi mikro di berbagai wilayah Indonesia. Kalsium menjadi salah satu masalah yang paling banyak ditemukan, disusul vitamin A dan vitamin C.
Direktur SEAMEO-RECFON Rini Sekartini mengatakan penelitian dilakukan terhadap anak usia sekolah mulai dari tingkat sekolah dasar hingga sekolah menengah atas. Temuan persoalan gizi ini ditemukan di 25 persen wilayah Indonesia.
"Di studi ini, lebih dari satu per empat kabupaten kota mengalami masalah gizi," kata Rini dalam pemaparan hasil studi, Rabu, 9 September 2026.
Ia menyebut kekurangan kalsium ditemukan pada sekitar 78 persen wilayah yang diteliti. Sedangkan vitamin A sekitar 25 persen.
"Yang paling banyak ditemukan adalah kalsium, sekitar 78 persen, kemudian vitamin A 25 persen," ujarnya.
Lebih rinci, persoalan gizi pada jenjang SMP-SMA adalah terkait kalsium dan vitamin C. Rini menegaskan angka tersebut perlu dibaca sebagai gambaran kondisi gizi mikro dalam wilayah penelitian, bukan sebagai kesimpulan bahwa seluruh anak Indonesia mengalami kekurangan zat gizi tertentu.
Deputi Direktur Program SEAMEO-RECFON Brian Sri Prahastuti menjelaskan peneliti menggunakan metode recall untuk mengetahui konsumsi makanan anak dalam 24 jam terakhir. "Setelah dilakukan recall, kemudian berdasarkan diet tersebut dan dilakukan pemeriksaan, kita menemukan bahwa kasus kekurangan gizi mikro itu ternyata berbeda-beda," kata Brian.
Menurut dia, perbedaan tersebut menunjukkan kebutuhan gizi anak perlu dipetakan berdasarkan kondisi daerah. "Ketika kita berbicara ada kekurangan gizi mikro, kemudian kita akan memperbaiki status gizi pada anak, harusnya disesuaikan dengan kekurangan zat gizi mikro tersebut. Sehingga tidak bisa disamaratakan," jelasnya.
Atas studi tersebut, SEAMEO-RECFON pun menyusun panduan menu tujuh hari berbasis pangan lokal. Panduan tersebut mempertimbangkan pola makan dan ketersediaan bahan pangan di wilayah masing-masing.
Rini mengatakan persoalan gizi anak tidak dapat diselesaikan dengan hanya berfokus pada satu zat gizi. "Yang harus kita perhatikan adalah bagaimana menu makanan itu seimbang," tegasnya.
Temuan ini diharapkan dapat menjadi masukan dalam penyusunan kebijakan pemenuhan gizi anak. Termasuk dalam penyediaan makanan melalui program Makan Bergizi Gratis.
FOLLOW US
Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan