Tidur. DOK Pexels
Tidur. DOK Pexels

Kenapa Orang Bisa Ngigo saat Tidur? Ternyata Ini Sebabnya

Renatha Swasty • 15 September 2026 10:49
Ringkasnya gini..
  • Sleep talking adalah bagian dari fenomena parasomnia yang terjadi karena sebagian area otak tetap aktif saat area lain tertidur.
  • Peneliti mengungkapkan ucapan saat sleep talking kerap selaras dengan mimpi pada fase REM dan lebih umum dialami anak-anak.
  • Fenomena ini umumnya normal dan tidak berbahaya, namun frekuensi yang meningkat bisa menjadi tanda tubuh kurang istirahat.
Jakarta: Pernah mendengar seseorang berbicara, tertawa, atau bergumam ketika sedang tidur? Fenomena ini dikenal sebagai sleep talking atau berbicara saat tidur yang lebih dikenal mengigau.

Kondisi tersebut sebenarnya cukup umum dan dalam banyak kasus tidak perlu dikhawatirkan. Berbicara saat tidur termasuk dalam kelompok parasomnia, yakni berbagai perilaku atau pengalaman yang terjadi ketika seseorang sedang tidur.

Menurut psikolog tidur sekaligus Profesor Psikologi di Mississippi State University, Michael R. Nadorff, parasomnia juga mencakup fenomena seperti mimpi buruk, berjalan saat tidur, hingga berbicara ketika tertidur.

Melansir theconversation.com, Nadorff menjelaskan sebagian besar parasomnia bersifat umum dan tidak berbahaya. Kondisi tersebut baru dianggap sebagai gangguan apabila terjadi begitu sering hingga menimbulkan masalah dalam kehidupan seseorang 

Tidur Memiliki Beberapa Tahapan

Tidur sebenarnya bukanlah satu kondisi yang berlangsung dengan cara yang sama sepanjang malam. Seseorang melewati beberapa tahapan tidur yang berulang.

Sekitar seperempat waktu tidur dihabiskan dalam fase REM (rapid eye movement). Pada tahap ini, sebagian besar mimpi, terutama mimpi yang terasa sangat jelas atau hidup, terjadi. Sementara itu, sekitar 75-80 persen waktu tidur merupakan fase non-REM. Tahapan ini termasuk tidur yang lebih dalam dan menjadi waktu bagi tubuh untuk beristirahat serta melakukan proses pemulihan.

Keseluruhan tahapan tersebut disebut sebagai arsitektur tidur. Siklusnya berulang kira-kira setiap 90 menit sepanjang malam. Pada awal tidur, fase non-REM mengambil porsi lebih besar. Menjelang pagi, proporsi tidur REM kemudian meningkat.

Tidur ternyata bukan hanya dilakukan manusia. Berbagai jenis mamalia, mulai dari tikus, kucing hingga gajah, diketahui juga tidur dalam bentuk tertentu.

Penelitian menunjukkan tidur memiliki berbagai fungsi penting bagi tubuh. Ketika tidur, misalnya, sejumlah proses membantu memperkuat ingatan agar dapat bertahan dalam jangka panjang. Pada anak-anak, tidur juga menjadi waktu penting bagi pertumbuhan. Selain itu, sistem kekebalan tubuh termasuk aktif ketika seseorang tidur. Karena itu, tidur menjadi waktu bagi otak dan tubuh untuk memulihkan serta merawat dirinya.

Kebutuhan tidur juga berbeda berdasarkan usia. Remaja dianjurkan tidur sekitar 8-10 jam setiap malam. Anak usia 3-5 tahun membutuhkan sekitar 10-13 jam, sedangkan anak usia 6-12 tahun membutuhkan sekitar 9-12 jam tidur per malam.
 

Otak Tidak Benar-benar Mati saat Tidur

Meski seseorang yang tertidur terlihat seperti sedang sepenuhnya beristirahat, bukan berarti otaknya berhenti bekerja. Berbagai bagian otak tetap aktif dan menjalankan fungsi yang berbeda pada tahapan tidur tertentu. Kondisi inilah yang kemudian dapat membantu menjelaskan mengapa seseorang bisa berbicara ketika sedang tidur.

Para ilmuwan menduga sleep talking terjadi ketika bagian otak yang mengatur bahasa dan kemampuan berbicara masih aktif, sementara bagian lain yang biasanya mencegah seseorang mengeluarkan suara ketika tidur justru sedang tidak aktif.

Dengan kata lain, otak tidak tertidur secara bersamaan seluruhnya. Ada bagian yang masih bekerja ketika bagian lainnya sudah berada dalam kondisi tidur.

Orang yang berbicara ketika tidur tidak selalu mengucapkan kalimat yang jelas. Dalam banyak kasus, suara yang terdengar justru berupa gumaman, tawa atau bisikan. Ketika kata-kata benar-benar muncul, kata “tidak” menjadi salah satu yang paling sering terdengar. Dalam penelitian ini menunjukkan kata tersebut mencakup sekitar 5 persen dari seluruh kata yang diucapkan saat tidur.

Ucapan lainnya sering kali berbentuk pertanyaan dan terkadang mengandung kata-kata kasar. Bahkan, percakapan yang terdengar ketika seseorang tidur sering kali seperti menunjukkan adanya konflik dengan orang lain.

Menariknya, seseorang yang berbicara dalam tidur juga dapat terdengar seperti sedang melakukan percakapan sungguhan. Ia mungkin berhenti sejenak seolah memberikan kesempatan bagi lawan bicaranya untuk menjawab, meskipun sebenarnya tidak ada orang lain di sana.

Para peneliti menduga ucapan tersebut bisa menjadi salah satu sisi dari percakapan yang terjadi dalam mimpi. Pada orang yang sedang berada dalam fase REM, penelitian di laboratorium tidur menunjukkan ucapan yang keluar ketika tidur memiliki kesesuaian dengan isi mimpi sekitar 80 persen.

Artinya, dalam kondisi tertentu, apa yang diucapkan seseorang saat tidur dapat berkaitan erat dengan apa yang sedang dialaminya dalam mimpi.

Seseorang yang sedang sleep talking ternyata memang dapat memberikan respons ketika diajak berbicara. Peneliti menemukan sekitar setengah orang yang sedang berbicara dalam tidur dapat merespons pertanyaan atau pernyataan yang diberikan kepadanya.

Namun, hal tersebut bukan berarti seseorang bisa membuat orang yang sedang tidur membocorkan rahasia. Tidak ada bukti ilmiah yang menunjukkan orang dapat dipaksa mengungkapkan sesuatu yang sebenarnya tidak ingin mereka katakan ketika sedang tidur.

Penelitian mengenai sleep talking memang masih terbatas. Namun, fenomena tersebut tampaknya dapat terjadi pada berbagai tahap tidur, bukan hanya pada satu fase tertentu. Studi juga menemukan adanya perbedaan pola tidur antara orang yang sering berbicara saat tidur dan mereka yang tidak mengalaminya.

Salah satu penelitian yang dikutip Nadorff menemukan orang yang mengalami sleep talking tidur lebih dari satu setengah jam lebih sedikit setiap malam dan memperoleh waktu tidur REM sekitar setengah dari orang yang tidak mengalami kondisi tersebut

Mengapa Orang bisa Berbicara Saat Tidur?

Penjelasan yang paling masuk akal saat ini adalah bahwa otak tidak memasuki kondisi tidur secara bersamaan. Pada sebagian orang, bagian otak yang berkaitan dengan tidur dapat tetap aktif lebih lama dibandingkan bagian yang biasanya membantu seseorang tetap diam ketika tidur.

Karena itu, seseorang tidak perlu langsung khawatir jika pernah mengalaminya. Namun, orang yang mengalami sleep talking juga memiliki kemungkinan lebih besar mengalami parasomnia lain, seperti berjalan saat tidur.

Bicara saat tidur jauh lebih umum ditemukan pada anak-anak dibandingkan orang dewasa. Para peneliti belum sepenuhnya memahami penyebabnya, namun anak-anak diketahui memiliki lebih banyak tidur gelombang lambat, yaitu bagian dari tidur non-REM yang lebih dalam.

Seiring bertambahnya usia, proporsi tidur gelombang lambat tersebut cenderung menurun. Perubahan dalam pola atau arsitektur tidur inilah yang diduga menjadi salah satu alasan mengapa sleep talking juga semakin jarang terjadi ketika seseorang tumbuh dewasa.

Umumnya normal, tetapi bisa ditangani

Secara umum, bicara saat tidur dianggap sebagai kondisi normal, sama seperti parasomnia lainnya, kondisi tersebut juga cenderung semakin jarang dialami ketika seseorang bertambah usia.

Namun, apabila sleep talking mengganggu atau muncul bersamaan dengan kondisi lain seperti berjalan saat tidur, mimpi buruk, atau mengompol, seseorang dapat berkonsultasi dengan psikolog tidur karena tersedia berbagai bentuk penanganan.

Ada satu hal lain yang perlu diperhatikan. Para ilmuwan mengetahui bahwa sleep talking dan beberapa jenis parasomnia lainnya lebih sering terjadi ketika seseorang mengalami kelelahan berlebihan.

Jadi, jika seseorang tiba-tiba lebih sering berbicara ketika tidur, kondisi tersebut bisa menjadi salah satu tanda bahwa tubuh membutuhkan waktu tidur yang lebih cukup. (Levina Fidelia)
 

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(REN)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan