Fenomena ini bukan sekadar overthinking biasa. Sebab, ada penjelasan ilmiah di balik cara kerja otak yang kerap memutar kembali interaksi sosial, khususnya saat malam hari.
Jawabannya berkaitan dengan cara kerja otak di malam hari, khususnya saat memproses pengalaman sosial yang belum sepenuhnya selesai. Untuk memahaminya, penting melihat apa yang sebenarnya terjadi di dalam otak ketika tubuh mulai beristirahat.
Melansir Times of India, sepanjang hari otak sibuk menyaring berbagai rangsangan dari luar, mulai dari pekerjaan, percakapan, layar gawai, hingga aktivitas fisik. Kondisi ini membuat perhatian terus terarah ke lingkungan sekitar. Namun, saat malam tiba dan aktivitas melambat, rangsangan dari luar pun berkurang drastis.
Pada fase ini, otak mulai beralih ke dalam Jaringan Mode Default (DMN). DMN merupakan sebuah sistem yang terkait dengan introspeksi dan memori menjadi lebih aktif.
Dalam penelitian berjudul The Journey of the Default Mode Network: Development, Function, and Impact on Mental Health yang diterbitkan di jurnal MDPI Biology pada 10 April 2025, para peneliti yang dipimpin oleh Felipe Rici Azarias memaparkan sejumlah temuan penting. Mereka menjelaskan jaringan otak ini tidak hanya aktif saat istirahat, tetapi juga berperan penting dalam memproses emosi, ingatan autobiografis, dan interaksi sosial.
Selain itu, jaringan ini secara aktif memindai pengalaman sosial yang belum terselesaikan, terutama saat tubuh beristirahat dan rangsangan dari luar berkurang. Mungkin terasa berlebihan, tapi otak kita memang tidak selalu bisa membedakan mana bahaya nyata dan mana sekadar obrolan yang sedikit awkward.
Manusia sejak zaman dulu hidup dalam kelompok kecil yang erat. Penolakan sosial dulu berarti bahaya sungguhan.
Pola pikir purba itu masih tertanam sampai sekarang. Akibatnya, ketidaknyamanan ringan dalam percakapan dapat memicu respons stres tingkat rendah.
Hormon kortisol pun ikut berperan. Ketika kadarnya meningkat, otak tetap berada dalam kondisi waspada, bahkan saat tubuh seharusnya mulai beristirahat.
Hal ini juga dijelaskan oleh Dr. Madhukar Bhardwaj dari Aakash Healthcare. Ia menyebutkan kebiasaan memutar ulang percakapan di malam hari merupakan respons alami terhadap stres sosial yang belum terselesaikan.
Dalam suasana hening, otak meninjau kembali interaksi yang terjadi untuk memproses emosi sekaligus mengantisipasi potensi ancaman. Apabila berlangsung terus-menerus, kondisi ini dapat mengganggu kualitas tidur dan kesehatan mental.
Bukan Sekadar Mengingat, Otak Sedang Mensimulasikan
Sering kali, yang muncul di pikiran bukan versi netral dari kejadian. Detail tertentu terasa lebih besar, lebih kritis, bahkan sedikit berubah dari kejadian aslinya.Hal ini terjadi karena otak tidak sekadar mengingat, tetapi juga mensimulasikan berbagai kemungkinan. Otak menjalankan skenario “bagaimana jika” untuk mempersiapkan diri menghadapi interaksi berikutnya.
Studi dari National Institute of Mental Health mengaitkan proses ini dengan cara otak memperbarui pemahaman berdasarkan pengalaman. Temuan ini sejalan dengan penelitian Azarias dan tim yang menjelaskan konsep perjalanan waktu mental, yakni kemampuan otak untuk mengulang kejadian masa lalu sekaligus membayangkan kemungkinan di masa depan.
Proses ini melibatkan kerja sama antara hipokampus dan korteks prefrontal dalam membangun ulang narasi sosial secara berulang, bahkan di luar kesadaran. Dikutip dari Alo Dokter dan Halo Doc, Hippocampus atau hipokampus merupakan bagian kecil di otak yang berperan penting dalam mengingat informasi baru dan menghubungkan emosi ke dalam ingatan tersebut.
Sedangkan, Prefrontal cortex adalah bagian penting dari otak manusia yang memegang peranan kunci dalam mengatur perilaku, emosi, dan pengambilan keputusan. Kebiasaan ini juga berkaitan dengan cara otak menyimpan memori. Penelitian yang didukung National Institutes of Health menunjukkan bahwa tidur berperan penting dalam memproses ingatan emosional.
Pada tahap awal tidur, otak menyortir pengalaman sepanjang hari, dan pengalaman yang mengandung stres cenderung diproses lebih dulu. Penelitian Azarias dan tim memperkuat temuan ini.
Mereka mencatat saat seseorang mengalami stres kronis, kemampuan otak untuk beralih dari mode perenungan ke tidur yang lebih dalam bisa terganggu. Akibatnya, proses yang seharusnya berjalan otomatis justru terasa sadar dan melelahkan.
Tidur yang seharusnya menjadi waktu pemulihan berubah menjadi ruang perenungan tanpa akhir. Lantas, apa yang bisa dilakukan untuk mengatasi masalah ini? Simak selengkapnya.
Hal yang perlu dilakukan bukan menghentikan pikiran sepenuhnya, melainkan membantu otak memahami bahwa situasi sudah aman. Beberapa langkah sederhana dapat dicoba:
- Menuliskan hal-hal yang masih mengganjal sebelum tidur agar pikiran terasa lebih lega
- Bernapas perlahan untuk membantu menurunkan kadar kortisol dan memberi sinyal bahwa tubuh dalam kondisi aman
- Membuat batas mental dengan mengingatkan diri sendiri bahwa hal tersebut bisa dipikirkan kembali keesokan hari.
Nah, itulah penjelasan ilmiah di balik kebiasaan otak yang kerap memutar ulang momen memalukan saat mau tidur. Semoga membantu ya, Sobat Medcom!
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News