Usus. DOK Pexel
Usus. DOK Pexel

Perut Sakit Setiap Kali Stres? Ternyata, Ada Hubungan Langsung Antara Otak dengan Usus

Bramcov Stivens Situmeang • 23 Maret 2026 09:59
Ringkasnya gini..
  • Otak memiliki jalur langsung ke lambung dan usus yang disebut gut-brain connection.
  • Usus yang terganggu dapat mengirimkan sinyal ke otak, dan sebaliknya, gangguan pada otak bisa memengaruhi kondisi usus.
  • Komunikasi dua arah antara usus dan otak yang sangat kuat dinilai layak dianggap sebagai indra tersendiri.
Jakarta: Pernahkah Sobat Medcom merasa mual sebelum presentasi penting atau justru sakit perut saat sedang banyak pikiran? Ternyata, ada penjelasan ilmiah di balik sensasi aneh di perut yang muncul setiap kali kita stres atau cemas lho.
 
Jawabannya berkaitan langsung dengan sesuatu yang disebut gut-brain connection (koneksi usus-otak), yakni sebuah jalur komunikasi dua arah antara sistem pencernaan kita dan otak. Sebelum membahas lebih jauh soal temuan ilmiah terbarunya, yuk kenalan dulu dengan apa itu gut-brain connection dan kenapa hal ini penting banget buat kesehatan kita.

Apa itu gut-brain connection?

Melansir laman health.harvard.edu, saluran pencernaan kita ternyata sangat peka terhadap emosi. Rasa marah, cemas, sedih, bahkan bahagia sekalipun bisa memicu berbagai reaksi di dalam perut.
 
Otak memiliki jalur langsung ke lambung dan usus. Bahkan, sekadar memikirkan makanan sudah bisa memicu lambung memproduksi cairan pencernaan sebelum makanan masuk.

Menariknya, jalur ini bekerja dua arah. Usus yang terganggu dapat mengirimkan sinyal ke otak, dan sebaliknya, gangguan pada otak bisa memengaruhi kondisi usus.
 
Karena itu, masalah pencernaan tidak selalu sekadar persoalan fisik. Kondisi tersebut juga bisa menjadi dampak dari stres atau kecemasan yang dialami.
 
Hal ini juga menjelaskan kenapa banyak orang mengalami gangguan pencernaan fungsional tanpa penyebab fisik yang jelas. Uniknya, kondisi tersebut dapat membaik setelah menjalani pendekatan psikologis.
 
Sejumlah penelitian menunjukkan terapi mengurangi stres atau menangani kecemasan terbukti efektif. Pendekatan ini sering kali lebih mampu memperbaiki gejala pencernaan dibandingkan dengan pengobatan medis konvensional saja.
 
Jadi, kalau Sobat Medcom sering sakit perut saat lagi banyak tekanan, bisa jadi itu sinyal dari otak yang sedang butuh perhatian juga.

Koneksi Usus-Otak dan Risiko Pikun di Usia Tua

Nah, setelah paham soal koneksi usus-otak, ada temuan yang lebih mengejutkan lagi. Simak selengkapnya.
 
Melansir laman Science Alert, koneksi ini ternyata tidak hanya soal pencernaan dan stres saja, tetapi juga berkaitan langsung dengan kemampuan berpikir dan daya ingat di usia senja. Sebuah tinjauan terhadap 15 studi pada manusia yang diterbitkan antara 2012 hingga 2025 merangkum temuan terkuat hingga saat ini soal hubungan tersebut.
 
Meski hasilnya masih bersifat awal, kajian ini mengisyaratkan menyeimbangkan kembali kondisi mikrobioma usus berpotensi mencegah atau memperlambat penurunan kemampuan kognitif pada orang dewasa yang lebih tua. 
 
Tinjauan uji klinis ini melibatkan 4.275 peserta dewasa berusia di atas 45 tahun dari Eropa, Asia, Amerika Utara, dan Timur Tengah yang didiagnosis dengan demensia, gangguan kognitif, atau kondisi yang meningkatkan risikonya.
 
Sebagian peserta menjalani intervensi mikroba usus, baik melalui strategi pola makan seperti diet Mediterania, diet ketogenik, atau suplemen omega-3, maupun melalui probiotik, prebiotik, hingga transplantasi feses. Hasilnya cukup menarik.
 
Mereka yang mendapatkan intervensi pengaturan usus menunjukkan keragaman mikroba usus yang lebih tinggi, sekaligus peningkatan yang lebih besar pada daya ingat, fungsi eksekutif, dan kemampuan kognitif secara keseluruhan. Manfaat ini paling terasa pada individu dengan gangguan kognitif ringan atau yang baru di tahap awal, sementara efeknya terbatas pada kasus Alzheimer stadium lanjut.
 
Sebelum membahas lebih dalam, mungkin kamu bertanya-tanya soal salah satu intervensi yang disebut tadi, yaitu transplantasi feses. Kedengarannya memang tidak biasa, tapi ini adalah prosedur medis nyata yang sedang banyak diteliti.
 
Yuk, pahami dulu apa itu sebelum kita lihat hasilnya dalam penelitian.
 
Transplantasi feses, dalam dunia medis dikenal sebagai Fecal Microbiota Transplantation (FMT). Transplantasi ini merupakan prosedur di mana feses dari donor yang sehat dipindahkan ke dalam saluran pencernaan pasien.
 
Tujuannya untuk memperkenalkan kembali bakteri-bakteri baik ke dalam usus si pasien yang kondisi mikrobanya sedang tidak seimbang. Prosedur ini masih tergolong eksperimental dan sebagian besar masih dalam tahap penelitian, khususnya untuk kondisi seperti Alzheimer.
 
Di antara semua intervensi yang diteliti, transplantasi feses menunjukkan hasil paling mencolok meski masih bersifat eksperimental. Dalam satu studi yang dikaji, lima pasien Alzheimer yang menerima prosedur ini memperlihatkan peningkatan keragaman mikroba usus dan perbaikan pada dua tes kognitif yang mengukur daya ingat, perhatian, bahasa, serta kemampuan memecahkan masalah.
 
Sedangkan, perubahan pola makan dan suplemen nutrisi datang dengan risiko jauh lebih kecil. Orang dewasa yang lebih tua yang menjalani diet Mediterania dengan minyak zaitun atau kacang campuran terbukti memiliki skor kognisi yang jauh lebih baik dibandingkan dengan kelompok yang menjalani diet rendah lemak.
 
Prebiotik dari serat tanaman ditemukan mampu meningkatkan fungsi otak pada lansia. Sementara itu, probiotik disebut dapat membantu mengatasi gangguan suasana hati dan stres.
 
Dalam penelitian berjudul The association between gut microbiota and cognitive decline: A systematic review of the literature yang diterbitkan di jurnal Nutrition Research, Maret 2026, para peneliti yang dipimpin oleh Sofia Libriani memaparkan sejumlah temuan penting. Mereka menjelaskan modulasi mikrobiota usus berkaitan dengan perbaikan daya ingat, fungsi eksekutif, dan kognisi secara umum, terutama pada individu dengan gangguan kognitif ringan atau prodromal.
 
Penelitian ini juga mengidentifikasi beberapa kemungkinan mekanisme di balik manfaat tersebut. Senyawa yang dihasilkan oleh mikroba usus, seperti asam lemak rantai pendek, diduga memiliki efek anti-inflamasi sekaligus melindungi saraf.
 
Meningkatkan bakteri baik di usus juga berpotensi memperbaiki kebocoran pada dinding usus yang jika tidak ditangani dapat memicu peradangan dan berdampak pada otak. Selain itu, mikroba usus juga diduga mempengaruhi sistem imun dan kualitas tidur, dua faktor yang erat kaitannya dengan risiko demensia.
 
Para peneliti menegaskan meski hasilnya menjanjikan, uji klinis berskala besar masih sangat diperlukan. Uji jangka panjang juga dibutuhkan untuk memastikan efektivitas dan keamanan setiap intervensi.
 
Sejumlah ilmuwan berpendapat komunikasi dua arah antara usus dan otak ini begitu kuat. Mekanisme ini dinilai layak dianggap sebagai indra tersendiri, yakni indra keenam manusia yang jika dipahami lebih dalam dapat membuka jalan bagi penanganan tidak hanya demensia, tetapi juga berbagai kondisi kesehatan lainnya.
 
Itulah penjelasan ilmiah mengapa menjaga kesehatan usus ternyata bisa berpengaruh langsung pada cara kita berpikir dan mengingat. Semoga menambah wawasan ya!
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(REN)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan