Alkohol. DOK Medcom.id/Mohamad Rizal
Alkohol. DOK Medcom.id/Mohamad Rizal

Hati-Hati! Beberapa Gelas Alkohol Saja Sudah Bisa Ganggu Kinerja Otak

Renatha Swasty • 26 Februari 2026 14:52
Ringkasnya gini..
  • Alkohol bisa melemahkan komunikasi antarwilayah otak.
  • Wilayah-wilayah otak cenderung bekerja secara lebih terisolasi satu sama lain.
  • Pola jaringan otak ini turut memberikan penjelasan ilmiah atas sejumlah gejala yang kerap muncul akibat konsumsi alkohol berlebih.
Jakarta: Mengonsumsi beberapa gelas minuman beralkohol ternyata sudah cukup untuk mengganggu cara kerja otak. Sebuah penelitian terbaru menemukan alkohol membuat pemrosesan informasi di otak menjadi lebih terpusat di area-area tertentu, sekaligus melemahkan komunikasi antarwilayah otak secara keseluruhan.
 
Padahal, sebagian besar penelitian sebelumnya belum menelaah dampak alkohol terhadap otak sebagai satu sistem yang saling terhubung. Otak adalah organ dengan keseimbangan yang luar biasa rumit, sehingga gangguan sekecil apa pun pada jalur komunikasi internalnya dapat berdampak langsung pada emosi dan perilaku manusia.
 
Melansir laman ScienceAlert, tim peneliti yang dipimpin oleh ilmuwan dari Universitas Minnesota meyakini hasil temuan mereka dapat menjawab mengapa dua orang dengan kadar alkohol yang sama bisa merasakan tingkat mabuk yang jauh berbeda.

"Alkohol terbukti meningkatkan efisiensi pemrosesan di tingkat lokal serta mempererat pengelompokan antara wilayah-wilayah otak yang berdekatan, sehingga pola jaringan otak berubah menjadi lebih terstruktur dan kaku layaknya susunan kerangka, alih-alih tetap fleksibel dan acak seperti kondisi normalnya," ungkap para peneliti.
 
"Yang patut mendapat perhatian, perubahan tersebut ternyata berbanding lurus dengan melemahnya konektivitas otak secara keseluruhan, dan kedua fenomena ini secara bersama-sama menjadi cerminan kuat dari seberapa parah seseorang merasakan efek mabuk secara subjektif," tambah mereka.
 
Penelitian ini melibatkan 107 partisipan berusia 21 hingga 45 tahun. Dalam dua sesi berbeda, mereka diberikan minuman plasebo atau minuman beralkohol hingga mencapai ambang batas legal mengemudi di AS, yaitu 0,08 gram per desiliter.
 
Studi ini melibatkan 107 peserta yang sehat berusia 21 hingga 45 tahun. Dalam dua sesi terpisah, mereka diberikan salah satu dari dua jenis minuman, yaitu minuman beralkohol yang dirancang untuk mendorong kadar alkohol darah hingga batas legal mengemudi di Amerika Serikat sebesar 0,08 gram per desiliter, atau minuman plasebo tanpa kandungan alkohol.
 
Setengah jam setelah mengonsumsi minuman tersebut, seluruh peserta menjalani pemindaian menggunakan mesin MRI guna memetakan aktivitas otak mereka. Tim peneliti kemudian mengolah data tersebut melalui berbagai metode matematis untuk mengamati pola komunikasi di antara 106 wilayah otak yang berbeda.
 
Hasil analisis menunjukkan wilayah-wilayah otak cenderung bekerja secara lebih terisolasi satu sama lain. Kondisi ini diibaratkan seperti arus lalu lintas yang hanya berputar dalam satu kawasan kecil, tanpa mampu bergerak bebas ke seluruh penjuru kota.
 
Meski kadar alkohol seluruh peserta sama, intensitas rasa mabuk yang mereka rasakan ternyata tidak sama. Para peneliti menemukan semakin terputus koneksi antarwilayah otak seseorang, semakin kuat pula efek mabuk yang ia rasakan.
 
Lebih dari itu, terganggunya pola jaringan otak ini turut memberikan penjelasan ilmiah atas sejumlah gejala yang kerap muncul akibat konsumsi alkohol berlebih, seperti pandangan yang mengabur dan langkah kaki yang goyah. Salah satu wilayah yang paling terdampak adalah lobus oksipital, bagian otak yang bertanggung jawab mengolah informasi visual. Ketika konektivitasnya terganggu, data dari mata menjadi lebih sulit dijangkau oleh bagian otak lainnya.
 
"Temuan kami menunjukkan bahwa transfer informasi menjadi lebih terisolasi dan kurang terintegrasi, sejalan dengan pengaruh alkohol yang sudah diketahui terhadap sistem penghargaan, kontrol diri, dan cara otak merespons rangsangan dari luar," tulis para peneliti.
 
Kendati demikian, para peneliti mengakui kaitan tersebut belum diuji secara langsung dalam studi ini, melainkan disimpulkan melalui model komputasi berbasis data pemindaian otak. Selain itu, temuan ini juga baru berlaku pada kondisi otak yang sedang istirahat total, sehingga diperlukan penelitian lanjutan untuk melihat bagaimana dampaknya dalam skenario yang lebih beragam dan dalam rentang waktu yang lebih panjang.
 
Berdasarkan penelitian sebelumnya, para peneliti juga menyoroti individu dengan riwayat konsumsi alkohol berat baik akut maupun kronis, kemungkinan menunjukkan perubahan otak yang berbeda saat mabuk, dengan jaringan yang lebih kacau dan tidak terorganisir dibandingkan peminum biasa.
 
Para peneliti mendorong studi berikutnya untuk menjangkau kelompok peserta yang lebih luas, termasuk mereka yang memiliki kondisi fisik dan mental yang lebih rentan, untuk memperoleh gambaran yang lebih komprehensif.
 
"Mengingat perubahan cepat dalam demografi populasi dan meningkatnya konsumsi alkohol di kalangan orang dewasa yang lebih tua, kajian mengenai korelasi saraf dari penggunaan alkohol akut sepanjang rentang kehidupan sangat dibutuhkan, termasuk pada kelompok dengan pola konsumsi lebih berat dan beragam gejala afektif negatif," ujar para peneliti. (Talitha Islamey)
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(REN)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan