Berangkat dari keresahan melihat kebakaran lahan yang nyaris melahap area belakang sekolahnya, Alya Nurul dan Nabil Lutfianyah, dua siswa kelas 12 IPA MAN 2 Lebak, Banten, menciptakan Solar Fire Guard Sentinel.
"Sebenarnya masalah utamanya itu bukan hanya api yang membesar, melainkan kebakaran yang terlambat kita ketahui. Makanya kita membuat robot yang di mana dia dapat memberitahukan kepada pengguna agar kita bisa meminimalisir kebakaran itu apinya cepat membesar," tutur Alya, dikutip dari laman Kemenag, Selasa, 1 September 2026.
Robot cerdas bertenaga surya ini dipersenjatai sensor gas MQ-2, pengukur suhu DHT22, dan sensor api yang dengan mikrokontroler ESP32. Jika suhu sekitar mendadak tembus 35 derajat Celsius dan terdeteksi kepulan asap, sistem akan langsung menembakkan notifikasi peringatan ke ponsel pintar pengguna.
Menariknya, Nabil mengaku sempat kewalahan membangun sistem ini dari nol. Namun, ia tak kehabisan akal dan memanfaatkan teknologi kekinian untuk menuntaskan proyeknya.
"Dalam kesulitan saat monitoring dari ngambil data ke dashboard-nya, karena saya juga sebenarnya belum paham coding, jadi saya memakai bantuan tools AI untuk mengoreksi sampai berhasil," ungkap Nabil.
Tak puas sampai di situ, duo inovator muda ini bersiap menyuntikkan sistem kamera berbasis AI pada robot mereka demi meningkatkan akurasi pelacakan titik api di kawasan blank spot listrik.
Cegah Tragedi Ciliwung Lewat Arsa Ban
Semangat inovasi serupa juga membara di Jawa Barat. Dua siswa MA Husnul Khotimah Kuningan, Bio Royan dan Naufal Imam Fahmi, sukses melahirkan Arsa Ban. Sebuah robot pemantau banjir sungai kecil dan drainase. Inspirasi ini datang usai Bio prihatin melihat permukiman langganan banjir luapan Ciliwung."Kami membuat robot ini agar memudahkan dan juga membuat warga-warga sekitar yang tinggal di dekat sungai kecil maupun drainase yang belum memiliki sistem pemantauan, agar mereka dapat melakukan evakuasi dengan lebih cepat," ujar Naufal.
Mesin pendeteksi ini memanfaatkan Arduino Uno R3 dengan sensor ultrasonik dan float switch. Arsa Ban akan menyala hijau untuk status aman, kuning untuk waspada, dan merah saat bahaya mengintai.
Ketika indikator merah menyala, robot otomatis melempar SMS peringatan massal ke 500 nomor warga sekitar secara real-time. "Kami memilih SMS karena jauh lebih mudah untuk menjangkau masyarakat secara luas. Karena jika menggunakan Telegram, tidak semua orang memiliki Telegram. Jadi biar lebih simpel," kata Bio.
Berkat dedikasi menghadirkan solusi konkret yang aplikatif dan mandiri energi dengan panel surya, karya siswa MA Husnul Khotimah ini sukses menyabet penghargaan Honorable Mention di ajang bergengsi Kompetisi Sains Muslim Indonesia (KOSMI). Sebuah bukti nyata bahwa talenta pelajar madrasah siap bersaing di kancah teknologi nasional,