Ilustrasi/Istimewa
Ilustrasi/Istimewa

Di Balik Booming AI: Pakar ITS Ingatkan Ancaman Krisis Air dan Energi

Citra Larasati • 05 November 2026 15:19
Ringkasnya gini..
  • Pembangunan data center AI butuh air pendingin dan listrik masif tanpa henti 24 jam.
  • Pakar ITS ingatkan rasio air di Jawa sentuh 0,4, sinyal rawan krisis saat kemarau.
  • Pemerintah didesak kaji dampak ekologis dan emisi karbon sebelum beri lampu hijau.
Jakarta: Ambisi Indonesia mempercepat pembangunan infrastruktur kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) lewat pendirian data center skala besar bak pisau bermata dua. Di balik lompatan teknologi digital tersebut, tersimpan ancaman nyata terhadap ketahanan air dan pasokan energi nasional.

Rencana pembangunan data center untuk AI tersebut berpotensi menambah tekanan terhadap ketersediaan air dan energi. Menanggapi fenomena tersebut, pakar lingkungan dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Prof Ir Joni Hermana MScES PhD  menekankan urgensi dampak lingkungan dari ekspansi ini sejak tahap perencanaan.

Joni menjelaskan, data center untuk AI harus beroperasi selama 24 jam tanpa henti untuk menjaga keberlangsungan layanan. Selain membutuhkan pasokan listrik yang stabil, fasilitas tersebut juga memerlukan air untuk menjaga suhu perangkat agar tetap optimal.

“Artinya, untuk menyokong infrastruktur tersebut, pasokan air maupun listrik tidak boleh berhenti,” ujarnya.

Menurut Guru Besar Departemen Teknik Lingkungan ITS tersebut, kebutuhan air perlu dicermati karena data center bukan satu-satunya sektor yang bergantung pada sumber daya air. Di tengah kebutuhan domestik, industri, dan pertanian, penambahan konsumsi air untuk operasional data center berpotensi memperbesar tekanan terhadap pasokan yang tersedia. 

Lebih lanjut, Joni turut menyoroti bahwa kebutuhan air data center tidak dapat dinilai hanya berdasarkan rata-rata ketersediaan pasokan tahunan. Menurutnya, perhitungan juga perlu mempertimbangkan perubahan ketersediaan air pada musim kemarau, karena kebutuhan air masyarakat turut meningkat.

“Adapun rasio kebutuhan terhadap ketersediaan air di Pulau Jawa telah mendekati 0,4 yang menandakan kondisi rawan krisis air,” ungkapnya.
  Alumnus doktoral University of Newcastle, Inggris tersebut menambahkan, ketimpangan antara pasokan dan kebutuhan air dapat berdampak langsung terhadap masyarakat apabila sumber daya yang tersedia tidak mencukupi. Oleh karena itu, Joni mengatakan bahwa kapasitas air yang secara nominal masih tersedia belum tentu seluruhnya dapat dimanfaatkan, khususnya ketika terjadi penurunan pasokan pada musim kemarau.

Selain tekanan terhadap sumber daya air, Joni berpendapat ekspansi data center AI juga berpotensi meningkatkan emisi karbon akibat tingginya konsumsi listrik. Ia menjelaskan bahwa perhitungan dampak lingkungan perlu mencakup emisi langsung maupun tidak langsung.

“Termasuk emisi dari pembangkitan listrik yang memasok fasilitas tersebut serta aktivitas pendukung operasionalnya,” imbuh Rektor ITS periode 2015–2019 tersebut.

Menutup penjelasannya, Joni menekankan perlunya kajian komprehensif yang melibatkan berbagai pihak sebelum pembangunan data center dilanjutkan. Menurutnya, pertimbangan ekonomi perlu diseimbangkan dengan kemampuan menopang kebutuhan operasional fasilitas tersebut.

“Jangan sampai kita tersandera oleh kebijakan sendiri hingga mengorbankan kesejahteraan masyarakat,” pungkasnya. 

Upaya tersebut sejalan dengan komitmen ITS dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs). Kontribusi ini khususnya berkaitan dengan tujuan ke-6 tentang Air Bersih dan Sanitasi Layak serta tujuan ke-13 mengenai Penanganan Perubahan Iklim.
 

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(CEU)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan