Ilustrasi siswa di dalam kelas. Foto: MI/Andri Widiyanto
Ilustrasi siswa di dalam kelas. Foto: MI/Andri Widiyanto

Hati-Hati Candaan Tarik Kursi di Sekolah, Pakar IPB Sebut Bisa Berakibat Fatal

Citra Larasati • 10 September 2026 17:07
Ringkasnya gini..
  • Candaan tarik kursi di lingkungan sekolah dapat membuat seseorang terjatuh dan mengalami cedera serius.
  • Dalam kondisi tertentu, benturan pada tulang belakang dapat menyebabkan cedera sumsum tulang belakang atau spinal cord injury (SCI).
  • Orang yang mengalami jatuh atau trauma pada daerah tulang belakang perlu segera mendapatkan pertolongan medis.
Jakarta: Candaan tarik kursi di lingkungan sekolah dapat membuat seseorang terjatuh dan mengalami cedera serius. Dalam kondisi tertentu, benturan pada tulang belakang dapat menyebabkan cedera sumsum tulang belakang atau spinal cord injury (SCI).

Hal tersebut bisa mengganggu fungsi gerak, sensorik dan reflek organ tubuh, bahkan berpotensi mengancam nyawa. Dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi (FKGiz) IPB University, dr Citra Ariani, Sp KP, M Biomed, menjelaskan bahwa cedera sumsum tulang belakang terjadi ketika trauma (luka fisik) merusak bagian dari sistem saraf pusat yang berada di dalam tulang belakang. 

Kerusakan dapat terjadi langsung saat benturan maupun berkembang setelahnya melalui proses cedera sekunder.

Cedera Dapat Berkembang Setelah Benturan

Menurut Citra, trauma keras pada tulang belakang dapat menyebabkan cedera primer yang merusak sel-sel saraf atau pembuluh darah yang memperdarahi serabut saraf. 

Setelah itu, cedera sekunder juga dapat berlangsung berupa rangkaian reaksi biologis yang memperluas kerusakan melalui proses peradangan. “Proses cedera sekunder dapat terjadi dari hitungan menit hingga berbulan-bulan setelah trauma terjadi,” jelas dr Citra yang juga pakar ilmu biomedik fisiologi.

Secara rinci ia menjelaskan, kerusakan pada bagian tertentu dari sumsum tulang belakang dapat menyebabkan hilangnya fungsi sensorik, motorik, atau keduanya. Gangguan tersebut dapat berupa hilangnya kemampuan merasakan sentuhan, panas, atau nyeri, serta kelemahan hingga kelumpuhan.

“Spinal cord injury juga dapat mengganggu fungsi saraf otonom. Salah satunya adalah hilangnya kontrol untuk menahan buang air kecil. Nyeri neuropatik akibat cedera sekunder pun dapat bertahan lama dan mengganggu kualitas hidup,” tambahnya.
 

Bisa Mengancam Nyawa

Citra membeberkan, cedera tulang belakang juga tidak selalu langsung terlihat berat. Seseorang yang masih sadar dan dapat berbicara setelah mengalami trauma belum tentu berada dalam kondisi aman.

“Pada cedera servikal yang berat, juga terdapat kemungkinan gagal napas karena gangguan saraf yang mengendalikan otot-otot pernapasan,” ujar dr Citra.

Tindakan Medis Segera

Ia menegaskan, orang yang mengalami jatuh atau trauma pada daerah tulang belakang perlu segera mendapatkan pertolongan medis. Pasien juga tidak boleh dipindahkan tanpa stabilisasi yang baik karena dapat memperparah cedera.

Tanda bahaya yang perlu diwaspadai meliputi nyeri punggung hebat, rasa menekan di leher atau kepala, kelumpuhan mendadak, kesulitan menggerakkan bagian tubuh, rasa baal, hilangnya kontrol buang air kecil atau besar, serta penurunan kesadaran.

“Orang tua dan guru perlu memberi contoh kepada anak-anak untuk melakukan kegiatan permainan atau olahraga secara aman,” pesan Citra. 
 

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(CEU)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan