X-Ray Photoelectron Spectroscopy (XPS) FTUI. DOK FTUI
X-Ray Photoelectron Spectroscopy (XPS) FTUI. DOK FTUI

Ada Dana Abadi Rp 13,9 Triliun untuk Periset, LPDP: Ayo Maksimalkan!

Ilham Pratama Putra • 29 April 2026 17:24
Ringkasnya gini..
  • Pemerintah memiliki dana abadi penelitian
  • Dana abadi penelitian belum dimanfaatkan secara optimal
  • Periset diminta memanfaatkan dana yang dimiliki untuk menghasilkan riset yang berdampak
Jakarta: Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) mengajak para periset Indonesia untuk mengoptimalkan pemanfaatan dana abadi penelitian sebesar Rp13,9 triliun. Pemanfaatan dana tersebut diharapkan dapat mendorong inovasi yang berdampak nyata bagi kemajuan bangsa.
 
Direktur Fasilitasi Riset LPDP Ayom Widipaminto mengungkapkan bahwa ketersediaan anggaran riset saat ini masih sangat mencukupi. Ia berharap dana tersebut nantinya memberikan manfaat untuk mendukung berbagai proyek strategis nasional.
 
"Saat ini dana abadi penelitian kami punya Rp13,99 triliun dan setiap tahun ada dana yang cukup longgar Rp900 miliar dengan saldo lebih dari Rp2 triliun. Itu bisa kita optimalkan dan kita manfaatkan sebesar-besarnya," kata Ayom di Jakarta, Rabu 29 April 2026.
 
Baca juga: Prabowo Minta LPDP Berikan 80% Kuota Beasiswa untuk Mahasiswa STEM

Ia menerangkan, sejak 2013 LPDP telah mendanai lebih dari 3.300 proyek riset dengan total dana Rp3 triliun. Ayom menyebutkan akses tersebut baru dinikmati oleh sekitar 17.000 periset di seluruh Indonesia.

Kondisi tersebut, lanjut dia, mendorong LPDP untuk terus memperluas jangkauan akses pendanaan agar dana abadi yang dikelola negara. Ia berharap dana yang tersedia benar-benar bisa dirasakan manfaatnya secara berkelanjutan oleh para periset.
 
Lebih lanjut, ia menjelaskan LPDP kini menawarkan skema yang lebih ramah bagi peneliti untuk pemanfaatan dana riset. Pihaknya telah memangkas berbagai kendala administratif yang selama ini dianggap menyulitkan pemanfaatan dana. 
 
"Kami di LPDP menawarkan fleksibilitas, baik itu secara tahun anggaran, standar pendanaannya, kemudian pelaporannya kami mudahkan," ujar Ayom.
 
Namun, Ayom mengingatkan bahwa fleksibilitas dan kemudahan birokrasi tersebut harus dibarengi dengan peningkatan kepercayaan terhadap output atau hasil riset yang dihasilkan oleh para peneliti. Jangan sampai kata dia kemudahan dana malah menurunkan integritas penggarapan riset. 
 
Saat ini, Kemendiktisaintek dan LPDP juga sudah menyiapkan dana sebesar Rp57 miliar untuk mendanai 122 program riset kampus. Anggaran ini diharapkan dapat memperkuat ekosistem inovasi nasional.
 
Kucuran dana tersebut disalurkan melalui Program Bestari Saintek. Direktur Jenderal Sains dan Teknologi, Kemdiktisaintek Ahmad Najib Burhani menjelaskan bahwa program pendanaan riset tersebut akan diberikan dengan skema seleksi yang ketat. 
 
"Dukungan dana ini diharapkan dapat mengatasi kendala pembiayaan yang dihadapi peneliti," kata Najib di Jakarta, Rabu 29 April 2026.
 
Berdasarkan data Kemendiktisaintek sebanyak 122 proyek riset terpilih ini melibatkan 854 dosen dan tenaga kependidikan. Secara kelembagaan, perguruan tinggi pengampu riset ini didominasi oleh Perguruan Tinggi Negeri (PTN) sebesar 57,8 persen, sementara Perguruan Tinggi Swasta (PTS) menyumbang angka yang sangat signifikan sebesar 42,2 persen.
 
Baca juga: 
 

"Angka ini menegaskan peran krusial PTN dan juga PTS sebagai penggerak riset nasional sekaligus memperlihatkan geliat serta kontribusi banyak PTS yang semakin aktif di dalam kegiatan riset nasional kita," kata Najib.
 
Najib melanjutkan, riset-riset tersebut terdistribusi ke dalam delapan sektor strategis. Diantaranya ada riset sektor Pangan dan Pertanian sebanyak 45 tim, disusul Sosial Humaniora, Seni Budaya, dan Pendidikan sebanyak 30 tim, serta Kemaritiman 12 tim.
 
Selanjutnya, Teknologi Informasi dan Komunikasi ada 9 tim, Kesehatan dan Obat ada 8 tim, Kebencanaan 8 tim. Kemudian bidang Energi dan Energi Baru Terbarukan sebanyak 6 tim, serta Material Maju 4 tim.
 
Dalam kesempatan yang sama, Direktur Fasilitasi Riset LPDP Ayom Widipaminto menyatakan bahwa pihaknya memberikan fleksibilitas terhadap pendanaan yang diberikan. Namun pihaknya menuntut tanggung jawab besar agar riset yang dihasilkan diadopsi oleh industri.
 
"Menyalurkan pendanaan tentu hal yang mudah. Namun mempertanggungjawabkan itu lebih sulit. Dan lebih sulit lagi adalah bagaimana kita mengawal pendanaan itu bisa berdampak," ujarnya.
 
Indonesia Harus Tentukan Spesialisasi Riset Berbasis AI

 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(CEU)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan