Bangunan baru SD Inpres Naimata. Medcom.id/Renatha Swasty
Bangunan baru SD Inpres Naimata. Medcom.id/Renatha Swasty

Cerita Tukang Lokal di Kupang: Biayai Kuliah Lewat Proyek Revitalisasi Sekolah

Renatha Swasty • 22 Juli 2026 09:04
Ringkasnya gini..
  • Program revitalisasi sekolah di Kupang tak cuma perbaiki fasilitas kelas, tetapi juga membuka lapangan kerja dan rezeki bagi warga sekitar.
  • Melibatkan tenaga kerja lokal, hasil upah proyek membantu mahasiswa membayar biaya kuliah hingga memenuhi kebutuhan harian warga.
  • Komdigi tegaskan revitalisasi pendidikan juga menggerakkan ekonomi daerah lewat penggunaan bahan bangunan dari toko UMKM lokal sekitar.
Kupang: Revitalisasi pendidikan tak cuma bermanfaat bagi siswa dan murid, warga sekitar juga ikut kecipratan dampaknya. Salah duanya, yakni Efer Baun dan Stefanus Tefo. 
 
Keduanya merupakan kepala tukang revitalisasi pendidikan masing-masing di SD Inpres Naimata dan SMAN 8 Kupang. Efer yang merupakan mahasiswa Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) Kupang itu mendengar ada pekerjaan revitalisasi dari sekuriti sekolah. 
 
Tak menyia-nyiakan kesempatan, Efer langsung mendatangi ketua panitia pembangunan untuk menanyakan kerja sebagai tukang. Berbekal pengalaman sebelumnya dan harga yang cocok, Efer menjadi kepala tukang. 

Dia bersama empat rekannya dan tim lain mengerjakan dua unit kelas baru. Seluruhnya merupakan orang asli Kupang.
 
"Kalau dari pemerintah harus tiga bulan, tapi karena waktu itu ada hujan, jadi mundur dua bulan jadi lima bulan," cerita Efer di SD Inpres Naimata, Selasa, 21 Juli 2026. 
 
Dari hasil kerja itu, Efer membawa pulang uang sekitar Rp5 jutaan. Uang itu sangat membantunya sebagai mahasiswa semester 8 jurusan Manajemen Pendidikan. 
 
"Uangnya buat biaya kuliah, bantu adik-adik," kata dia. 
 
Cerita Tukang Lokal di Kupang: Biayai Kuliah Lewat Proyek Revitalisasi Sekolah
Kepala tukang di SD Inpres Naimata, Efer Baun. Medcom.id/Renatha Swasty
 
Stefanus juga merasakan manfaat besar bekerja di revitalisasi pendidikan SMAN 8 Kupang. Pria yang sehari-hari bekerja serabutan itu mendapat tawaran bekerja membangun gedung baru sekolah. 
 
Selama tiga bulan, dari September 2025 hingga Desember 2025 dia bersama empat rekannya dan tim lain mengerjakan gedung baru sekolah. Atas hasil kerjanya, dia mendapat uang sekitar Rp6 jutaan. 
 
Uang itu sangat berarti. Sebab, sebagai buruh serabutan penghasilannya tidak menentu. Apabila ada pekerjaan dia bisa membawa pulang Rp150 ribuan dalam sehari. 
 
"Uangnya untuk kebutuhan sehari-hari. Buat sekolah anak juga," beber pria berusia 68 tahun itu. 
 
Cerita Tukang Lokal di Kupang: Biayai Kuliah Lewat Proyek Revitalisasi Sekolah
Kepala tukang di SMAN 8 Kupang, Stefanus Tefo. Medcom.id/Renatha Swasty 
 
Direktur Ekosistem Media Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), Farida Dewi Maharani, menyebut revitalisasi pendidikan tidak hanya bicara infrastruktur saja. Tetapi juga kebermanfaatan untuk anak, guru, serta warga lingkungan sekitar.
 
Dia menuturkan sekolah yang bagus membuat anak sekolah dengan nyaman, orang tua juga bisa mendapatkan manfaat secara ekonomi. Sebab, yang mengerjakan juga adalah warga lingkungan sekitar. 
 
"Mengangkat UMKM lokal, karena untuk semua barang bangunan tidak didatangkan dari luar, tapi memanfaatkan, diprioritaskan adalah UMKM bangunan di sini," beber dia. 
 
Cerita Tukang Lokal di Kupang: Biayai Kuliah Lewat Proyek Revitalisasi Sekolah
Ruang kelas baru di SMAN 8 Kupang. Medcom.id/Renatha Swasty
 
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(REN)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan