Direktur Pendidikan Khusus dan Pendidikan Layanan Khusus (PKPLK) Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) Saryadi mengatakan pemulihan terdampak bencana bukan hanya bangunan sekolah. Tapi juga berjalan bersamaan dengan pemulihan mental siswa untuk mengikuti kegiatan belajar mengajar.
“Pemulihan anak-anak tidak berhenti tersedianya ruang kelas. Karena anak-anak juga perlu mendapatkan pendampingan psikososial,” kata Saryadi dalam Taklimat Media Perkembangan Penanganan Bencana NTT di Bidang Pendidikan, Senin, 14 September 2026.
Dari data Kemendikdasmen hingga 10 September 2026, sebanyak 2.447 satuan pendidikan terdampak gempa di tujuh kabupaten di Flores. Dampak tersebut dirasakan langsung oleh 287.864 peserta didik serta 32.585 guru dan tenaga kependidikan.
Lebih lanjut, sebanyak 62.722 warga satuan pendidikan bahkan sempat berada di pengungsian pada periode penanganan bencana. Secara rinci, warga satuan pendidikan terdampak merupakan 54.494 peserta didik dan 8.228 guru serta tenaga kependidikan.
Saryadi mengatakan kondisi tersebut membuat dukungan psikososial menjadi bagian penting dalam pemulihan pendidikan pascabencana. Hingga saat ini, kegiatan dukungan psikososial telah dilaksanakan di 75 sekolah bersama berbagai mitra.
Kemendikdasmen juga menyiapkan penguatan kapasitas bagi pendidik dan tenaga kependidikan di wilayah terdampak. Pemerintah akan melatih 120 fasilitator nasional dan 1.700 fasilitator daerah.
Baca Juga :
Jam Belajar Sekolah Terdampak Erupsi Anak Gunung Krakatau, Kemendikdasmen: Tidak Harus Penuh

Layanan psikososial murid terdampak gempa Flores, NTT. DOK Kemendikdasmen
Pelatihan tersebut nantinya menyasar sekitar 51.000 pendidik dan tenaga kependidikan di tujuh kabupaten terdampak. Fokusnya mencakup dukungan psikososial dan pemulihan pembelajaran pascabencana.
“Dengan fokus pada dukungan psikososial dan pemulihan pembelajaran pascabencana,” ujar Saryadi.
Upaya tersebut dilakukan karena sekolah bukan hanya membutuhkan bangunan yang aman untuk kembali digunakan. Anak-anak juga perlu mendapatkan dukungan agar dapat kembali mengikuti proses pembelajaran setelah mengalami situasi bencana dan pengungsian.
Selain pendampingan psikososial, pemerintah menyalurkan berbagai bantuan untuk mendukung keberlangsungan pendidikan. Kemendikdasmen telah menyalurkan bantuan awal senilai Rp6 miliar yang mencakup 10.000 paket makanan anak, 1.000 paket sembako, 5.500 full kit, 1.500 family kit, dan 10.000 buku bacaan.
Kemendikdasmen juga menyalurkan voucher bantuan senilai Rp1,1 miliar untuk mendukung operasional pendidikan darurat. Bantuan tersebut disalurkan secara bertahap sejak akhir Agustus 2026.
Di samping itu, Pemerintah juga memberikan santunan sebesar Rp5 juta untuk peserta didik yang meninggal dunia dan Rp10 juta untuk guru yang meninggal dunia. Bantuan juga diberikan kepada guru dan peserta didik yang mengalami luka.
"Jadi proses pemulihan pendidikan di Flores akan dilakukan secara bertahap. Mulai dari penanganan kondisi darurat hingga rehabilitasi dan rekonstruksi sekolah secara permanen. Kemendikdasmen pun mengajak pemerintah daerah dan masyarakat memastikan hak pendidikan anak-anak di Flores tetap terpenuhi meski proses pemulihan pascabencana masih berlangsung," ujar Saryadi.