Chief Executive Officer QS Quacquarelli Symonds, Jessica Turner, menuturkan QS didirikan lebih dari tiga dekade lalu dengan sebuah misi memberdayakan orang-orang yang termotivasi di mana pun di dunia agar dapat mewujudkan potensinya melalui prestasi pendidikan, mobilitas internasional, dan pengembangan karier. QS meyakini kekuatan pendidikan mampu membawa perubahan.
Dalam forum seperti ini yang mempertemukan para pemimpin dan gagasan, pendidikan terus menciptakan peluang dan dampak bermakna bagi individu maupun masyarakat. Apalagi, pendidikan tinggi di seluruh dunia sedang mengalami perubahan besar.
Mengusung tema “Advancing Education for Purpose and Impact”, pihaknya ingin menyatukan pengalaman, gagasan, dan ambisi komunitas ini. Sekaligus mengajak mempertimbangkan bagaimana universitas di seluruh Asia dan kawasan Pasifik dapat terus memajukan pendidikan tinggi dengan cara menciptakan dampak yang bermakna dan bertahan lama.
“Kami mendengar universitas ingin meningkatkan reputasi, menjalin kemitraan baru, memperluas kemampuan untuk menarik mahasiswa berkualitas tinggi termasuk dari luar negeri, serta mencari wawasan dan kemitraan yang mendukung ambisi penelitian dan inovasi mereka, termasuk potensi komersialisasi hasil kerja di lingkungan universitas. Karena itu, kami merancang program yang dapat mencapai semua tujuan tersebut, dan saya yakin seluruh tujuan itu akan terwujud selama tiga hari ke depan,” kata Jessica saat membuka QS Higher Ed Summit 2026.
Pada 3-5 November 2026, QS Higher Ed Summit akan membahas internasionalisasi, penelitian dan inovasi, kesiapan kerja, transformasi teknologi, keberlanjutan, serta peran universitas yang terus berkembang dalam mendorong kemajuan ekonomi dan sosial. Ini adalah kesempatan bertukar gagasan, belajar dari beragam perspektif yang dibawa bersama dalam kelompok besar dan memanfaatkan keahlian yang ada.
Forum ini juga menjadi kesempatan menantang cara berpikir pihak terkait dan bersama-sama menjawab pertanyaan bagaimana menciptakan dampak yang bermakna dan bertahan lama melalui pendidikan tinggi.
“Semoga Anda menemukan kesempatan untuk terhubung dan belajar, serta membawa pulang sesuatu yang membantu Anda dan institusi Anda melakukannya dengan sedikit lebih baik,” kata Jessica.
CEO Bina Nusantara, Bernard Gunawan, berharap forum ini menjadi tempat untuk memanfaatkan kekuatan dan keahlian kolektif mendorong masa depan pendidikan tinggi di Asia-Pasifik. Jumlah pendaftar pendidikan tinggi mencapai 137 juta pada tahun 2022 di kawasan Asia Timur, Asia Tenggara, dan Asia Selatan dengan lebih dari 10 juta mahasiswa terdaftar di pendidikan tinggi di seluruh Indonesia pada tahun
2025.
Banyaknya jumlah pendaftar mesti menjawab pertanyaan bagaimana pendidikan menciptakan tujuan dan dampak lebih besar bagi para pembelajar, komunitas, dan masyarakat di dunia yang sedang diubah oleh teknologi.
“Pertanyaan tersebut sangat selaras dengan tema pertemuan puncak tahun ini, Advancing Education for Purpose and Impact, yang sejalan dengan visi Binus University untuk membina dan memberdayakan masyarakat dalam membangun dan mengabdi kepada bangsa,” ujar Edward.
Dia menuturkan sepanjang perjalanan 45 tahun BINUS Univeristy, pihaknya berkomitmen menciptakan dampak positif bagi individu, komunitas, dan bangsa. Komitmen ini juga mendorong pihaknya memperluas akses terhadap pendidikan berkualitas, memajukan penelitian dan inovasi, serta memperkuat kolaborasi antarpemangku kepentingan di seluruh Indonesia dan kawasan yang lebih luas.
QS Higher Ed Summit 2026. Medcom.id/Renatha Swasty
Pihaknya berupaya mempersiapkan para pembelajar dan komunitas menghadapi masa depan, di mana teknologi terus mengubah cara hidup, belajar, bekerja, dan terhubung satu sama lain.
“Dengan catatan ini, saya menantikan keterlibatan dan pertukaran yang bermanfaat selama beberapa hari ke depan. Semoga diskusi ini menghasilkan kolaborasi jangka panjang yang memajukan pendidikan untuk tujuan dan dampak,” kata Edward.
Rektor Unpad Arief S menyebut universitas berperan penting memajukan ilmu pengetahuan, mengembangkan talenta, dan mendorong inovasi. Namun, saat ini tanggung jawab kampus melampaui keunggulan akademik.
Kampus diharapkan tidak hanya menghasilkan lulusan unggul dan penelitian berkualitas tinggi, tetapi juga memberikan kontribusi bermakna bagi masyarakat. Arief meyakini universitas yang hebat tidak hanya diukur dari capaian akademiknya, tetapi juga dari dampak positif yang diciptakannya bagi masyarakat.
“Keunggulan tetap penting, tetapi keunggulan harus memiliki tujuan, dan tujuan itu pada akhirnya harus mengarah pada dampak. Hal ini sangat relevan bagi universitas di seluruh kawasan Asia-Pasifik. Kawasan kita, sebagaimana kita ketahui bersama, memiliki potensi yang sangat besar, tetapi juga menghadapi tantangan yang signifikan, termasuk perubahan iklim, masalah kesehatan masyarakat, ketimpangan, dan transformasi teknologi yang pesat,” ujar dia.
Menjawab tantangan-tantangan itu, universitas mesti bekerja sama dengan lebih erat bersama pemerintah, industri, masyarakat, dan antaruniversitas. Masa depan pendidikan tinggi tidak hanya bergantung pada seberapa baik universitas bersaing, tetapi juga pada seberapa efektif mereka berkolaborasi.
“Melalui kolaborasi, kita dapat mengubah pengetahuan menjadi solusi praktis dan menciptakan peluang yang lebih besar bagi pembangunan berkelanjutan,” ujar Arief.
Dia berharap melalui pertemuan puncak ini menjadi kesempatan membangun hubungan yang bermakna dan persahabatan yang langgeng. Arief meyakini nilai sejati dari sebuah pertemuan puncak bukan hanya pada gagasan yang dipertukarkan, tetapi juga pada kemitraan dan tindakan yang menyusul sesudahnya.
“Saat kita memulai pertemuan puncak ini, marilah kita perkuat komitmen bersama untuk menjadikan pendidikan tinggi lebih relevan, inklusif, dan berdampak,” harap Arief.
President of The Education University of Hong Kong (EdUHK), John Lee Chi-Kin, menyebut kolaborasi mendorong pengembangan pendidikan, penelitian, peningkatan kapasitas guru dan dosen, pembinaan talenta, serta pertukaran pengetahuan. Kolaborasi dapat menciptakan peluang untuk saling belajar dan membangun hubungan yang melampaui batas negara, budaya, dan disiplin ilmu.
“Saya pribadi yakin bahwa percakapan dan kemitraan yang terjalin selama pertemuan puncak ini akan menginspirasi lahirnya berbagai kemungkinan kerja sama baru dan meninggalkan dampak yang bertahan lama di kawasan kita,” ujar John Lee Chi-Kin.
QS Higher Ed Summit: Asia Pacific 2026 diselenggarakan oleh QS Quacquarelli Symonds dengan BINUS University sebagai tuan rumah (host) dan co-host Universtas Padjajaran dan The Education University of Hong Kong. Forum akan berlangsung pada 3-5 November 2026.