"Kita akan mencari opportunity-opportuniy yang benefitnya buat mahasiswa,” kata Vice-Rector for Collaboration & Global Engagement BINUS University, Rini Setiowati, dalam wawancara Live TikTok Medcom.id dikutip Jumat, 16 Oktober 2026.
Rini menyebut sebagai tuan rumah manfaatnya akan sangat luas. Selain meningkatkan nama baik kampus dan bermanfaat buat mahasiswa, kolaborasi itu juga menjadi titik awal pembangunan riset bersama.
"Kerja sama yang memberi manfaat nyata bagi mahasiswa, mulai dari pertukaran pelajar hingga proyek akademik lintas negara," beber dia.
QS Higher Education Summit: Asia Pacific akan digelar pada 3-5 November 2026 di Bali. Forum ini akan mempertemukan rektor dan perwakilan perguruan tinggi dari kawasan Asia Pasifik serta sejumlah institusi di luar kawasan, pembuat kebijakan, dan pelaku industri untuk membahas peningkatan kualitas pendidikan tinggi.
Baca Juga :
OSC Medcom.id dalam Global Scholarship Summit 2026: Pendidikan Tinggi Tak Boleh Dibatasi Usia
Wawancara Medcom.id dengan Vice-Rector for Collaboration & Global Engagement BINUS University, Rini Setiowati. Foto: Medcom.id
Dia menuturkan kerja sama yang juga dapat dijajaki berkaitan dengan peluang mengirim mahasiswa ke universitas mitra maupun penyesuaian kurikulum jika diperlukan. Namun, peluang tersebut masih perlu dibahas dan ditindaklanjuti dengan calon mitra, sehingga belum dapat dianggap sebagai hasil yang sudah terealisasi.
"Salah satu pertimbangannya adalah minat mahasiswa yang semakin besar untuk mengikuti program pertukaran atau pengalaman belajar di kawasan asia pasifik," ujar dia.
Menurut Rini, forum internasional memungkinkan perguruan tinggi bertemu banyak calon mitra dalam satu kesempatan. Kampus juga dapat memperkenalkan kapasitas dan programnya kepada institusi yang sebelumnya belum mengenal mereka.
BINUS University bukan satu-satunya institusi Indonesia yang terlibat dalam penyelenggaraan itu. Rini menyebut Universitas Padjadjaran (Unpad) dan satu institusi dari Hong Kong menjadi co-host dalam forum tersebut.
Rini menilai keberhasilan kerja sama tidak berhenti ketika dua institusi bertemu atau menandatangani nota kesepahaman. Kampus perlu memantau pelaksanaan kerja sama, mengidentifikasi kendala, dan menyepakati kegiatan yang dapat dijalankan bersama.
Ia mencontohkan setelah ada pembicaraan atau kesepakatan, pihak kampus yang terlibat perlu memastikan program yang direncanakan benar-benar berjalan. Apabila ada kendala, kampus perlu membahas langkah perbaikan agar kerja sama tidak berhenti pada dokumen.
"Tindak lanjut ini penting agar pertemuan internasional tidak hanya menghasilkan visibilitas bagi kampus. Kolaborasi yang berjalan dapat membuka kesempatan bagi mahasiswa untuk belajar bersama mahasiswa dari negara lain, mengikuti pertukaran, atau mendapatkan pengalaman akademik lintas budaya," jelas dia.
Selain peluang kerja sama, penyelenggaraan forum di Indonesia juga dapat meningkatkan visibilitas perguruan tinggi nasional di mata internasional. Rini berharap pertemuan tersebut memperlihatkan bahwa universitas di Indonesia memiliki kualitas yang dapat diperbandingkan dengan institusi luar negeri.
"Nilai penting forum internasional pada akhirnya terletak pada peluang membangun relasi antarkampus yang bisa dimanfaatkan oleh mahasiswa. Karena itu, hasil pertemuan perlu diikuti program nyata setelah summit berakhir," tutur dia.