Mengusung tema “Bridging Bridges: Connecting Nations and Stronger Partnerships through Global Halal Trade and Economy”, ajang bergengsi ini bertransformasi menjadi ruang kelas raksasa bagi 450 delegasi yang mewakili 48 negara. Forum ini berfokus pada pertukaran pengetahuan dan penguatan kapasitas lembaga untuk membangun ekosistem halal yang terintegrasi dan inklusif.
Forum strategis pendidikan tata kelola ini dihadiri para pembuat kebijakan puncak, di antaranya Menko PMK Pratikno, Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya, Menteri UMKM Maman Abdurrahman, serta Utusan Khusus Presiden Ahmad Ridha Sabana. Pertukaran kepakaran antarnegara juga diperkuat dengan kehadiran Wakil PM Malaysia Dato’ Seri Ahmad Zahid bin Hamidi, Menteri Food and Drug Safety Korea Selatan Yu-Kyoung Oh, hingga Ketua B57+ Asia Pacific Arsjad Rasjid, beserta para akademisi dan pimpinan lembaga sertifikasi halal dunia.
Dalam forum yang diwarnai agenda transfer ilmu lintas negara tersebut, Kepala BPJPH Ahmad Haikal Hasan memberikan pemahaman fundamental bahwa "halal" memiliki karakter universal yang melampaui sekat bahasa, menjadikannya modal utama bagi kolaborasi global.
"Halal is one language! Because halal in Korean language is halal. In Arabic, halal is halal. In Russian, halal is halal. In Argentina, halal is halal. In Brazil, yes Brazil, halal is halal. China? China, halal is halal. See? This is a miracle," ujar Kepala BPJPH Ahmad Haikal Hasan dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu, 19 September 2026.
Perluas Literasi
Lebih jauh, forum H20 menjadi wadah strategis untuk mendobrak stigma dan memperluas literasi masyarakat dunia tentang makna halal yang sesungguhnya. Konsep halal diedukasikan sebagai standar hidup sehat dan baik yang dapat diterima oleh siapa saja, terlepas dari latar belakang suku, agama, dan budaya.“Halal bukan hanya untuk Muslim saja. Halal juga berkaitan dengan kesehatan, transparansi, traceability. Halal adalah simbol kesehatan, double clean. Halal is elite food, halal is high and no higher than halal,” lanjut Haikal.
Materi edukasi pada H20 Summit ini juga menekankan bahwa industri halal modern telah berevolusi. Kajiannya tidak lagi terbatas pada konsumsi makanan dan minuman, tetapi mencakup ekosistem luas seperti kosmetik, obat-obatan, hingga barang gunaan yang dijamin mutunya melalui regulasi Jaminan Produk Halal (JPH).
Semangat literasi ini diwujudkan melalui kesepakatan harmonisasi standar, peningkatan pengakuan sertifikasi, dan penguatan kapasitas lembaga riset antarnegara demi memastikan kemudahan serta transparansi tata niaga halal internasional.
Tidak berhenti di tingkat global, H20 yang berlangsung dari 18 hingga 20 September 2026 ini turut memfasilitasi forum studi banding bagi kawasan ASEAN. Pembahasan rencana pembentukan ASEAN Halal Council menjadi salah satu agenda utama guna merajut konektivitas ekosistem pendidikan dan perdagangan halal serumpun.
Kolaborasi ini dirancang agar pemahaman dan penerapan standar produk halal dapat berlangsung lebih mudah, terarah, dan memberikan kepastian edukatif bagi seluruh pelaku industri.