Jakarta: Sejumlah musisi dan band luar negeri bakal konser di Indonesia mulai akhir tahun hingga tahun depan. Salah satu yang menjadi perhatian banyak penggemar harga tiket yang dibanderol sangat fantastis.
Meski harga tiket kerap melampaui Upah Minimum Regional (UMR), namun selalu ludes terjual dalam hitungan menit (sold out). Guru Besar Bidang Perilaku Konsumen Berkelanjutan Universitas Airlangga (Unair), Gancar Candra Premananto, menegaskan maraknya fenomena tiket mahal yang habis terjual bukan indikator kuat tingginya daya beli masyarakat secara umum.
Menurut Gancar, fenomena sold out tiket konser lebih berhubungan dengan faktor fanatisme dan loyalitas konsumen yang sangat kuat. Bukan semata-mata tingkat kesejahteraan ekonomi.
“Bukan masalah daya beli tinggi. Namun, lebih karena fanatisme tinggi dari para penggemar yang menjadikan mereka rela melakukan berbagai hal agar bisa membeli tiket. Seperti berhemat hingga memanfaatkan pinjaman online (pinjol),” ujar dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Unair itu dikutip dari laman unair.ac.id, Selasa, 15 September 2026.
“Bagi mereka, pertunjukkan yang belum tentu terjadi setahun sekali tersebut layak menjadi prioritas untuk membahagiakan diri (self-reward),” tutur dia.
Dia mengatakan perdebatan di media sosial yang menganggap ekonomi Indonesia dalam kondisi aman hanya karena tiket konser habis terjual adalah sebuah ilusi. Konsumsi tiket hiburan mahal dikategorikan sebagai pemenuhan kebutuhan tersier.
“Padahal, pemenuhan kebutuhan tersier yang dilakukan saat ini merupakan bentuk konsumsi dengan short-term orientation (orientasi jangka pendek). Mengingat perekonomian jangka panjang penuh dengan ketidakpastian, konsumen memilih untuk membahagiakan dirinya dalam jangka pendek,” jelas dia.
Gancar menjelaskan dari sudut pandang indikator makroekonomi seperti inflasi dan tingkat pengangguran, fenomena tiket konser mahal ini tidak serta-merta merefleksikan kondisi ekonomi nasional yang sesungguhnya. Jumlah pembeli tiket konser ini sebenarnya hanya merepresentasikan porsi kecil dari total populasi (bubble effect).
Segmentasi pembeli tiket konser berdasarkan pada loyalitas konsumen yang sangat fanatik (hardcore loyalist). Kondisi ini tidak bisa terukur dari konsumsi kebutuhan tersier yang sifatnya tidak rutin.
“Kapasitas stadion besar seperti GBK atau JIS mampu menampung 70 hingga 80 ribu penonton. Jumlah tersebut bahkan tidak sampai 1 persen dari total penduduk Indonesia yang mencapai lebih dari 280 juta jiwa. Porsinya sangat kecil dan sama sekali tidak merepresentasikan kondisi seluruh penduduk Indonesia,” papar dia.
Gancar mengimbau masyarakat untuk tetap bijak mengelola keuangan pribadi di tengah tren hiburan berbiaya tinggi. Meski short-term orientation memiliki sisi positif, seperti meningkatkan destination awareness dan ekonomi daerah secara sporadis, perhatian terhadap manfaat jangka panjang tidak boleh diabaikan.
“Sosialisasi dan literasi berinvestasi untuk produk-produk primer dan sekunder jangka panjang tetap perlu diperhatikan dan disikapi secara serius oleh masyarakat,” ujar dia.
FOLLOW US
Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan