Program yang diresmikan bertepatan dengan National Reading Month ini dirancang untuk menjadikan membaca sebagai kebiasaan sehari-hari yang menyenangkan. Tak sekadar imbauan, pemerintah setempat bahkan menyiapkan hadiah berupa insentif tunai bagi warga yang konsisten membaca buku.
Melalui platform digital CrowdTaskSG, setiap warga yang membaca minimal 15 menit per hari akan mendapatkan reward berupa 20 virtual coins. Koin-koin yang terkumpul tersebut nantinya dapat ditukarkan dengan uang tunai, dengan skema penukaran 1.000 koin bernilai setara dengan S$1 atau sekitar Rp15 ribu.
Langkah inovatif ini diharapkan mampu mengajak setidaknya 150.000 pengguna untuk bergabung dalam ReadSG Challenge hingga September 2027. Dengan durasi membaca yang singkat di sela-sela rutinitas harian, warga diharapkan dapat mengasah fokus dan kemampuan berpikir kritis secara berkelanjutan.
Peluncuran Meriah dan Fasilitas Interaktif
Mengutip laman read.gov.sg dan @kobieducation, acara peluncuran ReadSG diselenggarakan dengan menghadirkan berbagai zona bertema interaktif bagi para pengunjung. Di tempat ini, masyarakat dapat bersantai, membaca, hingga mengeksplorasi marketplace dan stasiun aktivitas yang tersedia.Selain itu, area Plaza diubah menjadi ruang terbuka yang hidup untuk keluarga dan komunitas. Ruang tersebut dirancang khusus agar semua kalangan dapat berkumpul dan membaca bersama.
Tak hanya itu, program ini juga menawarkan berbagai kemudahan dan aktivitas menarik bagi peserta, antara lain:
1. Pencarian Rekomendasi Buku
Fitur kuis kepribadian sederhana untuk membantu pembaca menemukan genre atau gaya bacaan yang paling sesuai (Find Your Reading Flavour).2. Pencatatan Kemajuan (Log Daily Reading)
Memudahkan pengguna memantau perkembangan membaca harian mereka.3. Acara dan Hadiah Eksklusif
Pengguna dapat melakukan check-in di acara-acara terpilih untuk mendapatkan koin bonus dan goodies eksklusif.
Laman ReadSG. DOK read.gov.sg
Mengapa Singapura Sangat Fokus pada Literasi?
Singapura terus menorehkan prestasi gemilang di tingkat internasional, salah satunya tercermin dalam skor PISA 2025, saat Singapura berhasil meraih posisi teratas untuk ranah Sains dan Matematika, serta mencatatkan skor rata-rata tertinggi untuk kemampuan Membaca. Keberhasilan ini disokong oleh berbagai kebijakan strategis pemerintah setempat, antara lain:- Pembangunan budaya membaca secara terstruktur dan berkelanjutan di tingkat nasional
- Perluasan akses program pengembangan akademik bagi seluruh siswa
- Investasi berkelanjutan pada pengembangan profesionalisme guru
- Peningkatan literasi digital dan pemahaman kritis untuk menghadapi era kecerdasan buatan (AI).
Bagaimana dengan Indonesia?
Indonesia juga memiliki inisiatif serupa melalui Gerakan Indonesia Membaca yang digagas oleh Perpustakaan Nasional RI. Program ini bertujuan meningkatkan minat baca masyarakat sekaligus membangun budaya literasi yang kuat di seluruh wilayah Indonesia.Mengutip laman indonesiamembaca.perpusnas.go.id, pelaksanaan gerakan ini dijalankan melalui sejumlah program unggulan, seperti #GIM Membaca Nyaring untuk anak-anak, #GIM Sepekan 1 Buku bagi pelajar, dan #GIM Duta Baca Masuk Sekolah. Berbagai program tersebut dirancang untuk menumbuhkan minat baca sekaligus memperkuat kecakapan literasi di Indonesia.
Bedanya, jika Singapura memberikan insentif finansial langsung lewat platform digital untuk membangun kebiasaan membaca masyarakatnya. Sebaliknya, program literasi di Indonesia saat ini lebih fokus pada penguatan ekosistem dan kampanye komunitas.
Jadi, gimana Sobat Medcom? Tertarik membangun kebiasaan membaca lewat tantangan berhadiah uang tunai seperti di Singapura, atau lebih semangat mengikuti keseruan Gerakan Indonesia Membaca? (Talitha Islamey)