Delegasi SMA Labschool Jakarta terdiri atas 33 siswa, yakni 23 penari dan 10 pemusik, didampingi 2 guru. Tim berhasil meraih Gold Medal, Nomination Grand Prix, Special Award, dan Honorable Presentation World Folk 2026.
Ajang ini merupakan kejuaraan folklore tingkat dunia yang diselenggarakan oleh Euro Folk Academy dan Event Vacation dalam sistem kejuaraan European Association of Folklore Festivals (EAFF). Tahun ini, kompetisi diikuti oleh 55 grup dari 10 negara, yang mempertemukan berbagai kelompok seni untuk menampilkan kekayaan tradisi budaya dari negara masing-masing.
Kepala SMA Labschool Jakarta, Badru Zaman, menyampaikan, keikutsertaan siswa dalam ajang internasional tidak hanya menjadi kesempatan untuk meraih prestasi, tetapi juga menjadi ruang bagi siswa memperkenalkan budaya Indonesia kepada masyarakat dunia. Lebih dari sekadar meraih penghargaan, keikutsertaan para siswa dalam ajang ini menjadi wujud nyata pembelajaran yang menumbuhkan karakter, kreativitas, serta kecintaan terhadap budaya bangsa.
"Kami percaya bahwa pendidikan tidak hanya berlangsung di ruang kelas, tetapi juga melalui pengalaman berinteraksi dengan masyarakat dunia sambil tetap membawa identitas Indonesia. Kami sangat bangga para siswa dapat menjadi duta budaya yang memperkenalkan nilai-nilai gotong royong, rasa syukur, dan kekayaan tradisi Indonesia di tingkat internasional,” ujar Badru dalam keterangannya di Jakarta, Selasa, 1 September 2026.
Dalam ajang tersebut, SMA Labschool Jakarta menampilkan karya bertajuk “Rengkuh Panen, Rengkuh Tradisi”, sebuah pertunjukan yang mengangkat kehidupan masyarakat agraris di Pulau Jawa. Hamparan padi yang menguning menjadi simbol kemakmuran tanah Jawa sekaligus menggambarkan perjuangan para petani desa.

Tim SMA Labschool Jakarta di Bulgaria. Foto: SMA Labschool Jakarta.
Pertunjukan ini menggambarkan proses panen yang dilakukan secara bersama-sama, mulai dari memetik padi, membawa hasil panen, hingga berkumpul dalam sukacita syukuran desa. Pada bagian puncak, pertunjukan menghadirkan Sintren sebagai simbol rasa syukur, doa, dan harapan akan keberkahan yang terus mengalir bagi kehidupan masyarakat.
Guru pendamping delegasi Ulva Soraya, mengatakan bahwa persiapan siswa telah dilakukan sejak Mei 2026 dengan sekitar 20 kali latihan. Meski harus membagi waktu dengan padatnya kegiatan sekolah, para siswa tetap menunjukkan komitmen dan inisiatif untuk berlatih.
“Persiapannya sudah dimulai sejak Mei, sudah 20 kali latihan. Di tengah padatnya kegiatan sekolah, anak-anak tetap berkomitmen latihan. Bahkan mereka pernah berinisiatif latihan tanpa pelatih. Setelah sampai di Bulgaria pun mereka masih terus latihan bersama,” ujar Ulva.
Melalui perpaduan gerak tari, musik, dan kekayaan tradisi Jawa “Rengkuh Panen, Rengkuh Tradisi”, menjadi medium bagi siswa untuk memperkenalkan nilai gotong royong, rasa syukur, serta kekayaan budaya Indonesia kepada masyarakat internasional.
Salah satu perwakilan siswa, Muhamad Rafi Izdihar Wiweko, mengungkapkan bahwa pengalaman tampil di panggung internasional memberikan pengalaman baru bagi para siswa sekaligus menumbuhkan rasa bangga terhadap budaya Indonesia.
“Membawa budaya Indonesia ke ajang Folklore 2026 membuat saya semakin bangga terhadap budaya Indonesia. Saya sangat bersyukur mendapat kesempatan memperkenalkan budaya Indonesia di panggung internasional. Keikutsertaan dalam lomba ini menjadi pengalaman sangat berarti bagi kami,” kata Rafi.

TIM SMA Labschool Jakarta di XVI World Championship of Folklore 'World Folk 2026'. Foto: Labschool
Hal senada disampaikan Anandita Bougenville Nusantara, perwakilan siswa lainnya, yang menilai keikutsertaan dalam World Folk 2026 menjadi pengalaman yang memperkaya wawasan dan mempertemukan para siswa dengan peserta dari berbagai negara.
“Hal yang paling berharga dan saya pelajari dari pengalaman ini adalah bahwa keberagaman menjadi kesempatan untuk saling belajar dan memahami satu sama lain. Bertemu dengan peserta dari berbagai negara membuat saya melihat setiap orang memiliki latar belakang dan budaya yang berbeda, tetapi tetap bisa terhubung melalui pengalaman, rasa ingin tahu, dan saling menghargai,” tutur Anandita.
Delegasi SMA Labschool Jakarta juga melakukan kunjungan ke Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Sofia, Bulgaria. Delegasi diterima oleh Winbert Hutahaean selaku Head of Chancery KBRI Sofia, Bulgaria. Kunjungan ini menjadi bagian rangkaian kegiatan delegasi selama berada di Bulgaria sekaligus menjadi kesempatan memperkenalkan semangat dan kekayaan seni budaya Indonesia yang dibawa para siswa dalam ajang World Folk 2026.