"Pilihkan bacaan yang bermatu dan setara dengan usianya," kata Ketua Komisi X DPR RI Agung Widyantoro dalam Diseminasi Bahan Bacaan Literasi di Kabupaten Brebes di Teras Padi, Brebes, Jawa Tengah, Sabtu, 24 Oktober 2026.
Anak-anak zaman sekarang menghadapi ancaman yang jauh lebih interaktif dan terselubung dalam gawai mereka. Misalnya, saat bermain game di gawai, di sela-sela permainan Ketika berhasil menang, sering kali muncul tampilan visual yang tidak senonoh.
Selain itu, tidak sedikit anak-anak menyanyikan atau berjoget dengan iringan lagu-lagu dewasa yang liriknya bertema perselingkuhan atau patah hati. Hal ini dikarenakan mereka hanya menyukai musik dan gerakannya tanpa memahami bahwa pesan lagu tersebut tidak sesuai dengan perkembangan usia mereka.
Nah, untuk menangkal dampak negatif konten digital itu, guru dan orang tua harus mampu menyediakan alternatif berupa buku bacaaan yang benar-benar bermutu dan setara dengan usia perkembangan anak.
"Agar mereka, anak-anak kita, memiliki bekalan. Carikan bahan-bahan bacaan yang setara
dengan usianya," kata Agung.
Ketua Komisi X DPR RI, Agung Widyantoro, dalam Diseminasi Bahan Bacaan Literasi di Kabupaten Brebes. Medcom.id/Renatha Swasty
Sebetulnya, guru tak kesulitan menyediakan buku bacaan bermutu. Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa) Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) telah mengedarkan 5.538.300 eksemplar buku bacaan bermutu. Buku ini didistribusikan ke 18.444 SD dan 6.165 SMP di 510 kabupaten/kota pada 38 provinsi.
Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Hafidz Muksin menyebut buku-buku yang diedarkan ini telah dikurasi oleh Badan Bahasa. Buku-buku ini dipastikan memiliki 'gizi'.
Buku memilki kualitas fisik menarik dan aman, selain itu memiliki visual dan narasi yang memikat. Buku-buku ini juga ditulis melalui proses kurasi ketat.
Karya-karya yang terpilih adalah dari hasil sayembaya penulisan cerita anak nasional. Sehingga, judul-judul yang disebar sekarang telah divalidasi dan dinilai kelayakannya untuk anak-anak.
"Ini adalah bahan literasi yang betul-betul kita jadikan sebagai pendukung untuk penguatan literasi," ujar Hafidz kepada 100 guru SD, SMP, dan SMA yang hadir dalam kegiatan itu.
Guru memiliki peran krusial memastikan 'gizi' bacaan ini tersampaikan dengan baik kepada siswa, terutama sekolah-sekolah yang tingkat literasinya masih rendah atau berada dalam kategori 'merah' berdasarkan hasil Asesmen Nasional.
Di Kabupaten Brebes sendiri ada 103 sekolah yang kebagian buku bacaan bermutu, rinciannya, 94 SD dan 9 SMP. Masing-masing SD mendapat 200 judul, sementara SMP mendapat 300 judul.
Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Hafidz Muksin, dalam Diseminasi Bahan Bacaan Literasi di Kabupaten Brebes. Medcom.id/Renatha Swasty
Hafidz menyebut guru di sekolah penerima bantuan buku harus aktif mempelajari cara memanfaatkan buku bacaan tersebut di kelas, bukan hanya menyimpannya.
"Namun yang terpenting bukan cetakannya, bukan pengirimannya. Yang terpenting adalah
kebermanfaatannya. Sehingga nanti di sini yang SD, SMP, akan juga dikasih pengetahuan bagaimana cara untuk memanfaatkan buku bacaan tersebut di sekolah
untuk meningkatkan literasi anak-anak," ujar Hafidz.
Sekolah yang memiliki papan interaktif digital (PID) juga dapat mengakses buku bacaan bermutu untuk dibaca bersama-sama di ruang kelas.
Sementara itu, Agung mengatakan guru juga harus jeli memilih bahan literasi atau lagu-lagu bernuansa afirmasi positif bagi tumbuh kembang anak. Selain itu, hindari konten-konten yang merusak focus belajar siswa.
"Jangan pernah sekali-kali pandang dengan, tampilkan anak-anak kita dengan lagu-lagu yang
sehariannya tidak sesuai dengan perkembangan keseluruhan," tegas Agung.
Bagi sekolah yang bahkan belum memiliki fasilitas perpustakaan fisik, guru dituntut kreatif untuk tetap menghidupkan budaya baca. Sekaligus aktif menyuarakan aspirasi pembangunan fasilitas perpustakaan kepada pihak terkair agar ekosistem literasi yang sehat dapat terbentuk.