Mendikdasmen Abdul Mu'ti. Foto: Ilham Pratama/Medcom.id
Mendikdasmen Abdul Mu'ti. Foto: Ilham Pratama/Medcom.id

Abdul Mu'ti: Membangun Pendidikan Tak Harus dengan Uang

Ilham Pratama Putra • 07 Juli 2026 10:20
Ringkasnya gini..
  • Abdul Mu'ti menegaskan membangun pendidikan tak harus dengan uang, tetapi juga ide, waktu, dan kepedulian.
  • Kemendikdasmen mengajak seluruh elemen masyarakat bergotong royong melalui Gerakan PSPB.
  • Tantangan pendidikan, dari 2,9 juta anak tak sekolah hingga sekolah rusak, butuh kolaborasi lintas sektor.
Jakarta: Membangun pendidikan tidak melulu soal uang. Tanpa uang pun, pendidikan sejatinya dapat dibangun. 
 
"Sebuah ide, waktu, tenaga, hingga kepedulian terhadap sesama juga dapat menjadi kontribusi besar yang mengubah masa depan anak-anak Indonesia," kata Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu'ti di Jakarta, Senin 6 Juli 2026. 
 
Menurutnya, tantangan pendidikan Indonesia yang begitu besar membutuhkan gerakan gotong royong. Gerakan itu ia harapkan lahir dari seluruh elemen masyarakat, bukan hanya pemerintah.

Ia pun menceritakan kisah John Wood, mantan eksekutif Microsoft yang memilih meninggalkan kariernya setelah menyaksikan langsung anak-anak cerdas di Nepal tidak memiliki akses terhadap buku dan pendidikan yang layak. Pengalaman itu kemudian mendorong Wood mendirikan gerakan filantropi pendidikan yang berkembang menjadi organisasi internasional penyedia buku dan perpustakaan bagi jutaan anak.
 
Baca juga: Mendikdasmen Ketemu BGN, Ini 3 Poin yang Dibahas Soal MBG  

 
"Kisah itu mengajarkan bahwa perubahan besar sering kali dimulai dari kepedulian satu orang," ujar Mu'ti.
 
Ia juga mengutip buku The Power of Giving karya Azim Jamal dan Harvey McKinnon yang menurutnya memberikan pemahaman bahwa memberi bukan sekadar mengeluarkan sesuatu. Melainkan investasi bagi kehidupan bersama.
 
"Giving is not only about spending, tapi giving sesungguhnya about investing," katanya.
 
Menurut Mu'ti, selama ini masih banyak masyarakat yang menganggap kontribusi terhadap pendidikan harus selalu diwujudkan dalam bentuk materi. Padahal, berbagai bentuk dukungan nonmaterial justru sering kali memiliki dampak yang tidak kalah besar.
 
"Orang bisa memberi dengan memberi ide, memberi waktu, bahkan hanya ikut bergembira bersama orang lain. Apa pun yang kita berikan kepada orang lain, sesungguhnya akan kembali kepada diri kita sendiri," ujarnya.
 
Ia menilai semangat tersebut sejalan dengan budaya gotong royong yang sejak lama menjadi fondasi pembangunan pendidikan Indonesia. Karena itu, Kemendikdasmen membuka ruang partisipasi seluas-luasnya melalui PSPB agar siapa pun dapat berkontribusi sesuai kemampuan masing-masing.
 
"It is not about how much we give others, tetapi seberapa besar makna yang bisa kita berikan kepada orang lain. Karena itu kami membuka pintu kepada siapa pun untuk berpartisipasi," tegasnya.
 
Ajakan tersebut bukan tanpa alasan. Mu'ti mengakui dunia pendidikan Indonesia masih menghadapi tantangan yang tidak ringan.
 
Data Kemendikdasmen menunjukkan masih terdapat sekitar 2,9 juta anak tidak sekolah. Sementara lebih dari 200 ribu sekolah masih membutuhkan revitalisasi.
 
Di sisi lain, peningkatan kualitas pembelajaran juga membutuhkan dukungan besar. Mulai dari pelatihan guru, pengembangan pembelajaran mendalam (deep learning), kecerdasan artifisial (AI), coding, STEM, pendidikan karakter, hingga pengembangan bakat peserta didik.
 
Menurut Abdul Mu'ti, tidak semua kebutuhan tersebut dapat dipenuhi hanya melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Karena itu, Presiden Prabowo Subianto memberikan ruang bagi Kemendikdasmen untuk memperluas kemitraan dengan berbagai pihak dalam mendukung program prioritas pendidikan.
 
"Kami menyadari tidak semuanya bisa dipenuhi dengan APBN. Karena itu kami mencari mitra untuk menyukseskan program pemerintah sesuai ketentuan yang berlaku," katanya.
 
Baca juga: Resmi! Coding dan AI Jadi Prioritas Pendidikan Nasional 2027  

 
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(CEU)




TERKAIT

BERITA LAINNYA