Mendikdasmen Abdul Mu'ti. Foto: Ilham Pratama/Medcom.id
Mendikdasmen Abdul Mu'ti. Foto: Ilham Pratama/Medcom.id

SPMB 2026 Masih Proses, Alarm MPLS Bebas Perpeloncoan Sudah Dinyalakan

Ilham Pratama Putra • 23 Juni 2026 12:09
Ringkasnya gini..
  • Abdul Mu’ti meminta MPLS Ramah 2026 bebas kekerasan, perundungan, dan perpeloncoan.
  • MPLS diarahkan menjadi proses adaptasi murid dengan sekolah secara aman dan nyaman.
  • Keberhasilan MPLS diukur dari kenyamanan murid, bukan kemeriahan kegiatan.
Jakarta: Proses Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) 2026 masih berlangsung saat ini. Sejumlah daerah masih menjalankan penerimaan murid baru untuk tahun ajaran baru mendatang. 
 
Meski begitu, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti sudah mewanti agar siswa baru mendapat ruang yang aman dan nyaman di sekolah. Pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Ramah 2026 dikenalkan sebagai bagian dari proses menerima murid baru mendatang. 
 
"Seluruh sekolah perlu memastikan kegiatan penyambutan peserta didik baru terbebas dari praktik perpeloncoan maupun kegiatan yang tidak memiliki nilai edukatif," tegasnya dalam konferensi pers secara daring, dikutip Selasa 23 Juni 2026. 

Ia mengatakan MPLS bukan sekadar kegiatan seremonial atau pengenalan tata tertib sekolah. Melainkan bagian dari proses adaptasi murid untuk mengenal lingkungan belajar, guru, teman, serta budaya sekolah.
 
Baca juga: Cara Daftar Ulang SPMB SMA/SMK Jateng 2026: Jadwal, Syarat, dan Aturan Resmi

"Program MPLS bukanlah sekadar program seremonial saja, tetapi merupakan bagian dari upaya kita membangun satu visi, membangun satu pandangan, dan sekaligus komitmen yang sama untuk menjadikan sekolah sebagai rumah yang aman, rumah yang nyaman, dan rumah bagi semua anak-anak Indonesia," ujar Mu'ti. 
 
Menurutnya, tahun ajaran baru menjadi fase penting bagi murid, khususnya mereka yang memasuki jenjang baru seperti kelas 1 SD, kelas 7 SMP, dan kelas 10 SMA/SMK. Melalui MPLS, para murid diharapkan lebih siap secara intelektual, sosial, dan emosional dalam menjalani proses pendidikan.
 
Mu'ti menerangkan MPLS harus meninggalkan pola lama yang berpotensi menghadirkan kekerasan, perundungan, maupun kegiatan yang membebani siswa. Sebaliknya, kegiatan tersebut harus dirancang sebagai pengalaman awal sekolah yang penuh kasih sayang, penghargaan, dan budaya damai.
 
"MPLS ramah bukan sekadar perubahan istilah, tetapi perubahan cara pandang dalam menyambut murid baru dari kegiatan MPLS yang rentan dengan kekerasan, perpeloncoan, dan yang kurang bermakna, menjadi MPLS yang penuh kasih sayang, memuliakan, dan budaya damai," jelasnya.
 
Karena itu, ia meminta seluruh sekolah menjalankan MPLS sesuai panduan yang telah ditetapkan pemerintah. Setiap kegiatan harus memiliki nilai pendidikan dan mendukung tumbuh kembang murid.
 
Baca juga: 
 

"MPLS Ramah harus bebas dari perpeloncoan, kekerasan, bullying, serta segala bentuk kegiatan yang tidak memiliki nilai edukatif dan justru membebani para murid," tegas Mu’ti.

Sekolah Jadi Ruang Pertemuan Semua Murid

Lebih lanjut, Mu’ti menyampaikan sekolah harus menjadi ruang perjumpaan bagi anak-anak dari berbagai latar belakang. MPLS diharapkan dapat membangun hubungan positif antar murid serta menumbuhkan sikap saling menghormati.
 
Ia menggambarkan sekolah sebagai meeting point atau ruang perjumpaan dan melting point atau ruang penyatuan, tempat para murid dapat saling mengenal dan tumbuh bersama. Melalui proses ini, murid-murid dipersiapkan agar lebih siap secara intelektual, secara sosial dan emosional, sekaligus mengembangkan bakat, minat, dan karakternya sejak hari pertama di sekolah.
 
"Selain membangun hubungan sosial, MPLS Ramah juga diarahkan untuk membentuk kebiasaan baik, mulai dari hidup bersih, sehat, hingga menciptakan lingkungan sekolah yang asri," tegasnya.

Keberhasilan MPLS Diukur dari Kenyamanan Murid

Mu’ti mengatakan keberhasilan MPLS tidak ditentukan dari banyaknya kegiatan atau kemeriahan acara yang dibuat sekolah. Ukuran keberhasilan utama adalah apakah murid merasa diterima, aman, dan nyaman saat memulai perjalanan pendidikannya.
 
"Keberhasilan MPLS Ramah tidak diukur dari banyaknya dan meriahnya kegiatan yang dilaksanakan, tetapi dari bagaimana setiap anak merasa diterima, merasa aman, dan merasa nyaman berada di sekolah," ujarnya.
 
Ia berharap pengalaman pertama murid di sekolah dapat meninggalkan kesan positif. Ketika murid pulang dengan cerita tentang guru yang ramah, teman baru yang baik, serta semangat untuk kembali belajar, maka tujuan MPLS Ramah mulai tercapai.
 
Untuk mewujudkan hal tersebut, Mu’ti meminta pemerintah daerah, kepala sekolah, guru, tenaga kependidikan serta orang tua berkolaborasi dalam memastikan pelaksanaan MPLS Ramah berjalan baik. Ia juga mengajak para murid memanfaatkan MPLS sebagai kesempatan untuk mengenal lingkungan sekolah, membangun persahabatan baru, serta mengembangkan potensi diri.
 
"Bangun semangat baru, persahabatan baru dan terus kembangkan bakat serta potensi terbaik yang kalian miliki untuk meraih cita-cita," tutup Mu’ti.
 
Baca juga: Cuma Sampai 24 Juni! ini Cara Pilih Sekolah SPMB Jakarta 2026 Jalur Afirmasi dan SPMB Bersama

 
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(CEU)




TERKAIT

BERITA LAINNYA