"Kami sharing pengalaman, sharing data dan apa yang bisa diperbaiki agar MBG tepat sasaran, bermanfaat bagi seluruh murid," beber Mu'ti saat ditemui di Jakarta, Senin, 6 Juli 2026.
Mu'ti mengungkapkan ada tiga poin penting dalam pertemuan itu. Pertama, adalah mengupayakan distribusi MBG.
"Pertama kami diskusi soal yang berkaitan dengan bagaimana distribusi MBG yang paling baik," ungkap dia.
Kedua, terkait keberadaan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dan kantin sekolah. Mu'ti menyebut ke depan terbuka peluang kantin sekolah dioptimalkan sebagai dapur MBG.
| Baca juga: Hasil Rapat dengan BGN, DPR Setuju 4 Langkah Efisiensi Program MBG |
"Apakah memang harus semua murid menerima? Apakah dimungkinkan misalnya hanya murid yang betul-betul membutuhkan yang menerima?" ujar Mu'ti.
Ketiga, dibahas juga mengenai strategi penyaluran MBG di daerah Tertinggal, Terdepan dan Terluar (3T). Strategi dirancang agar program bisa berjalan dengan baik.
"Tapi semua masih diskusi, belum ada keputusan, karena Kepala BGN memang berdiskusi dengan kami sebagai penerima manfaat paling banyak," ujar dia.
Dia mengatakan hasil diskusi tersebut akhirnya akan bermuara pada keputusan Presiden RI Prabowo Subianto. Mu'ti menyebut belum ada keputusan terkait diskusi yang berjalan.
"Termasuk bagaimana mekanismenya. Apakah semua murid harus menerima? Kalau tidak semua harus menerima. Basisnya bagaimana? Apakah basisnya itu semua? Apakah basisnya itu ekonomi? Ini yang masih terus kita eksplorasi," beber dia.
| Baca juga: Guru Besar IPB: Sukses MBG Bergantung Tata Kelola Dapur yang Profesional |
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda