Gunung Anak Krakatau. Foto: BNPB
Gunung Anak Krakatau. Foto: BNPB

Gunung Anak Krakatau Erupsi Level 3, Intip Sejarah Letusannya Sejak 1883

Bramcov Stivens Situmeang • 05 September 2026 15:14
Ringkasnya gini..
  • Letusan Krakatau 1883 tewaskan lebih dari 36 ribu orang, salah satu bencana vulkanik paling mematikan dalam sejarah manusia.
  • Anak Krakatau kembali erupsi menerus sejak 4-5 September 2026 berupa lava fountain, status kini Level III Siaga.
  • Badan Geologi pastikan Gunung Api Anak Krakatau masih relatif kecil, belum berpotensi ambruk dan picu tsunami seperti 2018.
Jakarta: Letusan Gunung Krakatau pada 1883 tercatat sebagai salah satu bencana vulkanik paling mematikan dalam sejarah manusia. Peristiwa dahsyat itu menewaskan lebih dari 36 ribu orang dan meninggalkan dampak besar yang tidak hanya bagi wilayah sekitar, tetapi juga terhadap kondisi atmosfer dunia.

Peristiwa tersebut kini kembali menarik perhatian seiring aktivitas Gunung Anak Krakatau yang tengah mengalami erupsi pada awal September 2026. Gunung yang dikenal sebagai anak dari Krakatau itu berada di perairan Selat Sunda, Kabupaten Lampung Selatan, Lampung.

Gunung Anak Krakatau terbentuk setelah dahsyatnya letusan Krakatau pada 1883. Setelah sempat tertidur cukup lama, gunung ini kembali menunjukkan tanda-tanda kehidupan pada akhir 1927.

Tepi kerucut baru kemudian muncul di atas permukaan laut pada awal 1928 dan terus tumbuh menjadi pulau kecil dalam kurun waktu setahun. Gunung tersebut kemudian dikenal sebagai Anak Krakatau alias anak dari Krakatau.

Pada 22 Desember 2018, Gunung Anak Krakatau kembali mengalami longsoran sebagian tubuhnya akibat guncangan erupsi hingga memicu tsunami di kawasan Selat Sunda. Sejak saat itu, gunung ini terus mengalami serangkaian erupsi berskala rendah sebagai fase pertumbuhan kembali hingga 16 Desember 2023. 

Gunung Anak Krakatau kemudian kembali aktif meletus pada 2 Juli 2026. Aktivitas tersebut terus berlanjut hingga awal September 2026, sebelum akhirnya memuncak dalam beberapa hari terakhir. 

Puncaknya, gunung ini mengalami erupsi menerus sejak Jumat malam, 4 September 2026, pukul 23.07 WIB hingga Sabtu, 5 September 2026. Kondisi erupsi tersebut diinterpretasikan sebagai fenomena lava fountain atau air mancur lava, lengkap dengan suara dentuman dan gemuruh yang terdengar hingga Pos Pengamatan Gunung Api Pasauran.

Akibat aktivitas ini, status Gunung Anak Krakatau kini berada di Level III atau Siaga. Masyarakat, wisatawan, dan pendaki diimbau untuk tidak beraktivitas dalam radius tiga kilometer dari kawah aktif.

Menariknya, aktivitas Anak Krakatau tersebut memiliki kaitan erat dengan sejarah gunung yang menjadi cikal bakalnya. Lantas, seperti apa sejarah letusan Gunung Krakatau hingga melahirkan Anak Krakatau? Simak ulasannya dikutip dari laman history.com dan metrotvnews.com:

Sejarah Letusan Gunung Krakatau 1883

Pulau vulkanik yang dikenal sebagai Krakatau terletak di Selat Sunda, di antara Pulau Jawa dan Sumatra. Pada saat letusannya yang terkenal terjadi pada 1883, wilayah ini masih menjadi bagian dari Hindia Belanda, sebelum akhirnya kini menjadi bagian dari wilayah Indonesia. 

Sebelum meletus hebat pada Agustus 1883, gunung ini terakhir kali diketahui aktif pada 1680. Kondisi tersebut membuat banyak orang saat itu meyakini gunung tersebut sudah tidak aktif lagi.

Namun, keadaan mulai berubah pada Mei 1883. Warga mulai merasakan getaran dan mendengar ledakan, mula-mula di Jawa bagian barat lalu menyeberang ke Sumatra di sisi lain Selat Sunda.

Kapal-kapal yang melintasi perairan itu turut melaporkan kejadian aneh. Salah satunya kapal perang Jerman bernama Elizabeth yang kaptennya menyaksikan awan abu membubung sekitar 6 mil di atas Krakatau.
  Aktivitas sempat mereda menjelang akhir bulan. Meski begitu, asap dan abu masih terus keluar dari salah satu kawahnya.

Kondisi ini kemudian berkembang menjadi letusan besar beberapa bulan setelah aktivitas awal terdeteksi. Puncak petaka terjadi pada 26 hingga 27 Agustus 1883.

Ledakan pertama pada 26 Agustus melontarkan awan gas dan material vulkanik sejauh sekitar 15 mil ke udara. Setelah itu, rentetan ledakan yang makin dahsyat terjadi selama 21 jam berikutnya.

Klimaksnya terjadi pada 27 Agustus. Ledakan besar melemparkan abu hingga ketinggian sekitar 50 mil ke udara dan suaranya terdengar hingga Perth, Australia.

Akibat ledakan ini, sebagian besar tubuh pulau ambruk ke dalam kaldera hingga kedalaman 820 kaki di bawah permukaan laut. Dampak paling mematikan justru bukan berasal dari material panas letusan itu sendiri. 

Gelombang tsunami yang ditimbulkan akibat runtuhnya gunung ke dalam kaldera menjadi salah satu penyebab utama banyaknya korban. Dinding air raksasa yang terbentuk usai ledakan puncak menyapu bersih ratusan desa pesisir di Jawa dan Sumatra. 

Gelombang tersebut bahkan menyeret sebuah kapal uap sejauh hampir dua kilometer ke daratan dan menewaskan seluruh awaknya. Dari rangkaian bencana inilah, jumlah korban jiwa akibat letusan Krakatau tercatat lebih dari 36 ribu orang.

Dampak Letusan Krakatau

Tak hanya menghancurkan wilayah sekitar, letusan Krakatau juga mengguncang dunia secara global. Ledakan ini melontarkan material vulkanik dalam volume sangat besar ke atmosfer.

Material tersebut membuat langit menggelap dan memunculkan warna-warni senja yang spektakuler di berbagai belahan dunia. Bahkan, fenomena itu sempat diabadikan lewat tulisan seorang penyair asal Inggris, Gerard Manley Hopkins.

Hopkins menggambarkan langit kala itu dipenuhi rona hijau, biru, emas, dan ungu dengan cahaya yang begitu intens. Dia menyebut pijaran warna itu seolah memperpanjang waktu siang dan sempat dikira sebagai pantulan dari kobaran api besar.

Selain itu, debu vulkanik yang menyebar diyakini turut menurunkan suhu rata-rata global selama beberapa tahun. Kondisi tersebut sekaligus memicu rekor curah hujan tahunan tertinggi di Los Angeles pada masa-masa setelah letusan terjadi.

Dahsyatnya letusan Krakatau pada 1883 kemudian menjadi bagian penting dari sejarah terbentuknya Anak Krakatau. Gunung yang lahir dari kawasan bekas Krakatau itu kini kembali menunjukkan aktivitas vulkaniknya.

Melansir laporan resmi Badan Geologi Kementerian ESDM, rangkaian erupsi Gunung Anak Krakatau yang berlangsung sejak 2 Juli 2026 merupakan aktivitas tipe Strombolian yang melontarkan batu pijar dan abu vulkanik hingga awal September 2026.

Badan Geologi menegaskan bahwa tubuh Gunung Anak Krakatau yang kembali terbentuk pascaruntuhnya sebagian tubuh gunung pada akhir 2018 itu masih relatif kecil. Saat ini, gunung tersebut tidak berpotensi ambruk dalam skala yang dapat memicu tsunami.

Ancaman bahaya yang perlu diwaspadai saat ini datang dari aliran lava yang bisa disertai lontaran batu pijar. Warga di pesisir Banten dan Lampung diminta tetap tenang sembari terus mengikuti arahan BPBD setempat.

"Hingga saat ini, status aktivitas Gunung Api Anak Krakatau masih dalam Level III (Siaga). Potensi ancaman bahaya erupsi saat ini berasal dari aliran lava yang dapat disertain dengan lontaran batu pijar," tulis informasi di laman geologi.esdm.go.id, dikutip Sabtu, 5 September 2026.
 

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(CEU)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan