Mendikdasmen Abdul Mu'ti. Foto: Ilham Pratama/Medcom.id
Mendikdasmen Abdul Mu'ti. Foto: Ilham Pratama/Medcom.id

Mendikdasmen Yakinkan Guru, Deep Learning Bisa Pakai Media Sederhana dan Alam Sekitar

Ilham Pratama Putra • 10 Juli 2026 11:56
Ringkasnya gini..
  • Deep learning tidak selalu bergantung pada AI atau perangkat digital.
  • Lingkungan sekitar dan pengalaman siswa dapat menjadi sumber belajar.
  • Teknologi hanya alat, kualitas pembelajaran tetap bergantung pada guru.
Jakarta: Pembelajaran mendalam atau deep learning tidak selalu identik dengan penggunaan kecerdasan artifisial (AI), coding, maupun perangkat digital di ruang kelas. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menegaskan konsep tersebut justru menekankan pengalaman belajar yang bermakna, termasuk melalui pemanfaatan lingkungan sekitar sebagai sumber belajar.
 
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu'ti, mengatakan masih banyak yang menganggap penerapan deep learning harus bergantung pada teknologi canggih. Padahal, guru dapat menghadirkan pembelajaran mendalam dengan memanfaatkan berbagai sumber belajar, mulai dari teknologi modern hingga pengalaman langsung siswa di lapangan.
 
"Banyak guru yang sudah menerapkan pembelajaran mendalam seperti tadi kita dengar dari pengalaman para guru. Mereka mengintegrasikan itu dengan Interactive Flat Panel (IFP) di sekolah masing-masing. Sehingga banyak hal yang bisa diselenggarakan dengan pembelajaran mendalam itu dengan memanfaatkan semua fasilitas yang ada, baik media pembelajaran modern seperti IFP, media yang dibuat sendiri oleh guru, maupun media pembelajaran yang memanfaatkan lingkungan," kata Mu'ti di Jakarta, Kamis, 9 Juli 2026.
 
Baca juga: AI dan Coding Jadi Prioritas Pendidikan Nasional, Ini Platform Panduan Mengajar Buat Guru  

Menurut dia, teknologi memang menjadi salah satu pendukung penting dalam transformasi pembelajaran. Namun, teknologi bukan satu-satunya cara untuk menghadirkan pembelajaran yang berkualitas.

Guru tetap dapat mengajak peserta didik belajar melalui observasi langsung, praktik di lapangan, hingga memanfaatkan lingkungan sekitar sekolah sebagai ruang belajar. Pendekatan tersebut justru menjadi bagian dari filosofi pembelajaran mendalam yang ingin dibangun Kemendikdasmen.
 
Mu'ti mencontohkan, sejumlah guru telah menerapkan pembelajaran dengan mengajak siswa belajar di luar kelas. Aktivitas seperti mengamati lingkungan, berdiskusi di taman, hingga mengeksplorasi fenomena di sekitar sekolah merupakan bagian dari implementasi deep learning.
 
"Tadi beberapa guru menceritakan praktik belajar ke lapangan, ke taman, dan sebagainya. Nah, sebenarnya itu yang dimaksud dengan pembelajaran mendalam. Jadi tidak selalu top-down, tetapi bisa bottom-up," ujarnya.
 
Ia menjelaskan, pendekatan tersebut memungkinkan peserta didik membangun pengetahuan berdasarkan pengalaman yang mereka alami sendiri. Sehungga murid tidak sekadar menerima informasi dari guru.
 
Kemendikdasmen menyebut pendekatan itu sebagai konsep 3P, yakni Preset, Proses, dan Produk. Ketiga komponen tersebut menjadi satu kesatuan dalam menciptakan pengalaman belajar yang utuh, mulai dari perencanaan, pelaksanaan, hingga hasil belajar yang dihasilkan siswa.
 
Baca juga: Guru Belum S1? Simak Syarat dan Link Pendaftaran Beasiswa Kualifikasi Akademik Kemendikdasmen 2026  

Meski demikian, Mu'ti menegaskan AI dan coding tetap memiliki peran strategis dalam mendukung pembelajaran mendalam. Kedua teknologi tersebut dapat dimanfaatkan guru untuk memperkaya metode pembelajaran, memperluas akses sumber belajar, hingga meningkatkan keterlibatan siswa di kelas.
 
Namun, ia mengingatkan bahwa teknologi hanyalah alat. Keberhasilan pembelajaran tetap bergantung pada kemampuan guru merancang pengalaman belajar yang relevan dengan kebutuhan peserta didik.
 
Karena itu, guru didorong tidak terpaku pada penggunaan perangkat digital. Media sederhana yang dibuat sendiri maupun lingkungan sekitar sekolah juga dapat menjadi sarana belajar yang efektif selama mampu mendorong siswa berpikir kritis, mengeksplorasi pengetahuan, dan terlibat aktif dalam proses pembelajaran.
 
Dengan pendekatan tersebut, ia berharap tidak muncul anggapan bahwa sekolah yang belum memiliki fasilitas teknologi lengkap tidak dapat menerapkan deep learning. "Sebaliknya, seluruh satuan pendidikan memiliki peluang yang sama untuk menghadirkan pembelajaran yang bermakna dengan memanfaatkan sumber daya yang tersedia," pungkasnya. 
 
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(CEU)




TERKAIT

BERITA LAINNYA