Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan KOI menggandeng Putera Sampoerna Foundation untuk membangun program student athlete. Melalui kolaborasi itu, atlet tidak hanya mendapatkan akses beasiswa, tetapi juga pendampingan agar mampu memenuhi standar akademik yang dipersyaratkan kampus luar negeri.
| Baca juga: Atlet Siap-Siap Daftar! UI Spill Bakal Buka Prodi Manajemen Olahraga |
Raja mengatakan persoalan utama yang dihadapi atlet bukan terletak pada prestasi olahraga. Banyak atlet telah dilirik perguruan tinggi di Amerika Serikat, tetapi gagal berangkat karena tidak lolos tes kemampuan bahasa maupun persyaratan akademik lainnya.
"Keseringan mereka mentok di tes. Ada SAT, ada TOEFL, mentok semuanya. Keseringan enggak jadi pergi karena tesnya gagal," kata Raja di Jakarta, Kamis 30 Juli 2026.
Raja menjelaskan sejumlah atlet Indonesia sebenarnya telah memenuhi kriteria dari perguruan tinggi di Amerika Serikat berdasarkan prestasi olahraga yang dimiliki. Namun, proses seleksi tidak dapat dilanjutkan karena mereka belum memenuhi standar kemampuan bahasa Inggris maupun hasil tes akademik.
Ia menyebut kondisi tersebut masih terjadi hingga saat ini. Bahkan, terdapat atlet yang telah mendapatkan ketertarikan dari kampus di Amerika Serikat, tetapi keberangkatannya tertunda akibat belum lolos persyaratan tersebut.
"Sudah bahkan diminta dari US-nya, semuanya sudah masuk kriteria, ternyata bermasalah dengan bahasa dan tes," ujarnya.
Melalui kerja sama dengan PSF, KOI ingin mengatasi hambatan tersebut dengan memberikan pendampingan sejak dini. Atlet yang memiliki potensi akan memperoleh dukungan untuk meningkatkan kemampuan bahasa Inggris, mempersiapkan tes masuk perguruan tinggi, hingga memenuhi persyaratan administrasi pendidikan internasional.
| Baca juga: Atlet Berprestasi Dapat 'Karpet Merah' Masuk UI, Rektor Ungkap Jalur Khusus |
Head of Program Sampoerna Foundation, Juliana, mengatakan pihaknya telah menyiapkan berbagai bentuk dukungan akademik sesuai kebutuhan masing-masing atlet. "Kami memberikan English support, ada Academic English Program, ada IELTS preparation dan lain-lain. Jadi bantuan yang diberikan disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing," kata Juliana.
Menurutnya, pembinaan atlet perlu dilakukan secara menyeluruh agar mereka mampu bersaing tidak hanya di arena pertandingan, tetapi juga di dunia pendidikan. Dengan bekal akademik yang memadai, atlet akan memiliki peluang lebih besar memperoleh beasiswa dan melanjutkan studi di luar negeri.
"Kolaborasi ini diharapkan menjadi awal terbentuknya sistem pembinaan atlet yang mengintegrasikan prestasi olahraga dengan pendidikan, sebagaimana telah diterapkan di berbagai negara maju," terang Juliana.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda