Perubahan tersebut dilakukan untuk memberikan gambaran kemampuan akademik murid secara lebih informatif. Melalui skala baru ini, hasil asesmen diharapkan dapat membantu murid memahami capaian belajarnya, sekaligus menjadi bahan evaluasi bagi guru, sekolah, dan orang tua dalam menentukan langkah perbaikan pembelajaran.
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menegaskan skor 200–800 bukan merupakan persentase jawaban benar. Oleh karena itu, peserta dan orang tua perlu memahami cara membaca hasil TKA agar tidak keliru menafsirkan angka yang diperoleh.
Melansir dari laman resmi Kemendikdasmen, perubahan skala tersebut berkaitan dengan pendekatan pengukuran kemampuan akademik yang digunakan dalam pelaksanaan TKA.
Bagaimana ketentuan terbaru lainnya? Yuk simak informasi berikut dilansir dari sosial media Instagram Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Utara!
Mengapa Skor TKA Berubah dari 0–100 Menjadi 200–800?
Perubahan skala pelaporan TKA berkaitan dengan metode pengukuran yang digunakan untuk memperkirakan kemampuan akademik peserta.TKA menggunakan pendekatan Item Response Theory (IRT) atau teori respons butir. Metode ini mempertimbangkan karakteristik soal, terutama tingkat kesukaran dan daya pembeda, dalam memperkirakan kemampuan akademik peserta.
Melalui pendekatan tersebut, dua murid yang memperoleh jumlah jawaban benar sama belum tentu mendapatkan skor yang sama. Hal ini karena pengukuran turut mempertimbangkan karakteristik soal yang dikerjakan.
Hasil pengukuran kemudian dilaporkan menggunakan skala 200–800 agar variasi kemampuan akademik murid dapat disajikan secara lebih informatif.
Hal yang Perlu Dipahami tentang Skor Baru TKA
Terdapat beberapa hal penting yang perlu dipahami murid, orang tua, dan satuan pendidikan mengenai perubahan skala pelaporan TKA.
-
Skor 200–800 Bukan Persentase Jawaban Benar
Sebagai contoh, apabila seorang peserta memperoleh skor 600, angka tersebut bukan berarti peserta menjawab benar 60 persen dari seluruh soal yang diujikan. Skor tersebut merupakan hasil estimasi kemampuan akademik berdasarkan metode pengukuran yang digunakan.
Peserta tidak perlu menghitung skor TKA dengan cara membandingkannya secara langsung dengan jumlah jawaban benar.
-
Skor Perlu Dibaca Bersama Penjelasan Capaian
Hasil TKA dapat menjadi bahan evaluasi untuk menentukan strategi belajar berikutnya, bukan sekadar angka untuk membandingkan kemampuan antarmurid.
-
Perubahan Skala Tidak Berarti Soal Lebih Sulit
Perubahan rentang skor dari 0–100 menjadi 200–800 bukan berarti tingkat kesulitan soal TKA meningkat. Tingkat kesulitan soal ditentukan melalui rancangan dan karakteristik butir soal, sedangkan skala pelaporan digunakan untuk menunjukkan hasil pengukuran kemampuan peserta.
Perubahan skala tersebut merupakan pembaruan dalam penyajian hasil asesmen, bukan perubahan yang secara otomatis membuat soal menjadi lebih sulit.
Hasil TKA untuk Perbaikan Pembelajaran
Hasil TKA diharapkan dapat dimanfaatkan untuk memahami kebutuhan belajar murid. Informasi capaian akademik tersebut dapat digunakan oleh berbagai pihak sesuai dengan perannya.
Bagi guru dan sekolah, hasil TKA dapat menjadi bahan evaluasi untuk mengetahui kompetensi yang telah dikuasai peserta didik serta materi yang masih membutuhkan penguatan. Informasi tersebut dapat digunakan untuk menyusun strategi pembelajaran dan pendampingan yang lebih tepat.
Bagi orang tua, dapat memanfaatkan hasil asesmen untuk memahami perkembangan akademik anak. Melalui hasil TKA, orang tua dapat mengetahui bagian yang masih perlu ditingkatkan dan dapat memberikan dukungan belajar sesuai kebutuhan anak.
Bagi murid, hasil TKA dapat menjadi bahan refleksi untuk mengenali kemampuan diri dan menentukan aspek pembelajaran yang perlu diperbaiki.
Hasil TKA juga dapat menjadi informasi pendukung bagi perguruan tinggi dalam proses seleksi jalur prestasi sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Informasi tersebut dapat dibaca bersama nilai rapor untuk memberikan gambaran capaian akademik calon mahasiswa secara lebih utuh.(Adinda Kinanthi)