Wakil Ketua MPR RI, Lestari Moerdijat
Wakil Ketua MPR RI, Lestari Moerdijat

Duh! Kurikulum Sudah Keren Pakai STEM, Tapi Ketersediaan Guru Masih Timpang

Citra Larasati • 04 September 2026 16:21
Ringkasnya gini..
  • Peningkatan kompetensi STEM percuma jika distribusi guru di Indonesia masih timpang dan menumpuk di Jawa.
  • RI defisit 722 ribu pendidik, tapi ironisnya 1,5 juta guru justru terkonsentrasi secara eksklusif di Pulau Jawa.
  • MPR mendesak pemerataan dan peningkatan skill guru berjalan serentak demi pendidikan merata tanpa pandang bulu.
Jakarta: Upaya peningkatan kompetensi guru dalam menerapkan program pembelajaran STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics) harus dibarengi dengan pemerataan alokasi guru di seluruh Tanah Air.

"Guru adalah panglima literasi dan inovasi di lapangan. Tidak cukup hanya meningkatkan kompetensinya, kita juga harus memastikan distribusi yang merata agar setiap anak Indonesia memiliki akses yang setara terhadap pembelajaran berkualitas," kata Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat dalam keterangan tertulisnya, Jumat, 4 September 2026.

Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Dirjen GTK) Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) Nunuk Suryani sebelumnya mengatakan bahwa komitmen penguatan STEM hadir melalui berbagai program prioritas. Upaya itu diwujudkan melalui berbagai upaya peningkatan kompetensi, termasuk menargetkan 3.272 guru yang menjadi sasaran pengimbasan oleh fasilitator daerah.

Penerapan Program STEM di sekolah perlu didukung dengan meningkatkan kompetensi guru dalam menerapkan pembelajaran STEM yang sesuai prinsip Pembelajaran Mendalam serta prinsip 5M (Mudah, Murah, Menggembirakan, Mindful, dan Meaningful).  Rerie, sapaan akrab Lestari, menekankan bahwa tanpa pemerataan guru, implementasi STEM hanya akan dinikmati oleh sebagian siswa di wilayah tertentu saja. 

Data terbaru menunjukkan ketimpangan yang signifikan. Berdasarkan Rencana Strategis Ditjen GTK 2025 - 2029, kebutuhan guru nasional mencapai 3.249.356 orang, sementara itu ketersediaan saat ini hanya 2.526.572 atau terdapat kekurangan 722.784 guru. 

Ironisnya, tambah Rerie yang juga Anggota Komisi X DPR RI itu, di tengah informasi kekurangan, masih tercatat kelebihan guru sekitar 172.796 orang yang menunjukkan distribusi tidak merata. Faktanya, sekitar 44 persen atau 1,5 juta guru dari total 3,47 juta guru terkonsentrasi di Pulau Jawa. 

Diakui Rerie, pemerintah melalui Kemendikdasmen telah mendorong kebijakan redistribusi guru sebagaimana diatur dalam Permendikdasmen Nomor 1 Tahun 2025 tentang Redistribusi Guru Aparatur Sipil Negara pada Satuan Pendidikan yang Diselenggarakan oleh Masyarakat.

Redistribusi Guru 

Kebijakan tersebut memungkinkan guru ASN, baik PNS maupun PPPK, untuk ditempatkan tidak hanya di sekolah negeri tetapi juga di sekolah swasta yang membutuhkan.  Anggota Majelis Tinggi Partai NasDem itu menilai langkah tersebut positif, namun membutuhkan konsistensi. 

Menurut Rerie, penguatan kompetensi guru melalui program STEM dan kebijakan redistribusi merupakan dua sisi mata uang yang harus berjalan seiring. Guru yang kompeten namun tersebar tidak merata, ujar Rerie, tidak akan mampu mengangkat mutu pendidikan secara nasional. 

Sebaliknya, tambah dia, pemerataan guru tanpa peningkatan kompetensi tidak akan menghasilkan pembelajaran yang inovatif dan berkualitas. Rerie mendorong sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan masyarakat untuk memastikan dua agenda itu berjalan beriringan. 

"Pendidikan adalah fondasi kedaulatan bangsa. Kita harus memastikan bahwa peningkatan kompetensi dan pemerataan guru menjadi prioritas bersama untuk mewujudkan Indonesia Emas 2045 yang inklusif dan berkeadilan," pungkas Rerie.

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(CEU)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan