Peluncuran Program STEM Nasional. Foto: BKHM
Peluncuran Program STEM Nasional. Foto: BKHM

Kemendikdasmen Luncurkan Program STEM Nasional, Belajar Sains Sejak PAUD

Despian Nurhidayat • 03 September 2026 18:16
Ringkasnya gini..
  • Kemendikdasmen rilis program STEM mulai tingkat PAUD untuk asah critical thinking anak sejak dini.
  • Tepis stigma mahal dan rumit, program ini usung prinsip 5M: Mudah, Murah, Menggembirakan, Mindful, dan Meaningful.
  • Ribuan guru disiapkan lewat pelatihan khusus guna ciptakan ekosistem belajar yang asyik dan relevan bagi siswa.
Jakarta: Mata pelajaran Sains, Teknologi, Engineering, dan Matematika (STEM) kerap dianggap "momok" menakutkan yang hanya bisa dikuasai oleh siswa jenius di laboratorium mahal. Namun, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) baru saja mendobrak stigma tersebut dengan langkah berani, yakni mengenalkan STEM langsung dari bangku Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD).

Gebrakan peluncuran Pembelajaran STEM Nasional ini mengambil titik mula di PAUD Terpadu Kalirejo Kudus, Jawa Tengah. Pemilihan lokasi ini menjadi bukti komitmen pemerintah bahwa kemampuan adaptasi, inovasi, dan nalar kritis tidak bisa dibentuk secara instan, melainkan harus ditanamkan sejak usia dini lewat cara yang paling sederhana dan menyenangkan.

"Urgensi dari program STEM mengacu pada Panduan Pembelajaran STEM, BSKAP Kemendikdasmen tahun 2025, bahwa Program melalui pelatihan STEM dilaksanakan antara lain untuk menutup defisit keterampilan tingkat tinggi, mengurangi kesenjangan mutu antar satdik, hingga memperkuat capaian Delapan DImensi Profil Lulusan," kata Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan, Kemendikdasmen, Nunuk Suryani, dalam acara Peluncuran Program STEM Nasional di Kudus, Jawa Tengah, dkutip dari Media Indonesia, Kamis, 3 September 2026.

Tepis Stigma Mahal dengan Jurus 5M

Untuk menyukseskan program ini, Kemendikdasmen secara khusus merancang pendekatan baru agar STEM tak lagi terasa kaku. Transformasi cara pandang ini diwujudkan lewat prinsip 5M yang siap diaplikasikan oleh para guru di lapangan.

"Kami memandang STEM sangat penting untuk didalami dan diinternalisasi sebagai fondasi bagi murid sebagai insan masa depan yang diharapkan memiliki kemampuan adaptasi tinggi dan pemecahan masalah relevan," terangnya.

Nunuk menyadari, selama ini STEM diidentikkan sebagai bidang mahal dan sulit untuk diterapkan dalam pembelajaran. "Stigma ini menjadi salah satu alasan mendorong kami untuk merancang Program STEM secara menyeluruh, termasuk di dalamnya penguatan kompetensi guru melalui pelatihan STEM yang mengusung prinsip 5M, yaitu Mudah, Murah, Menggembirakan, Mindful, dan Meaningful," jelas dia.

Melalui formula 5M ini, para pendidik diharapkan mampu meramu pembelajaran STEM yang aplikatif, dekat dengan keseharian anak, serta ramah di kantong, tanpa mengurangi esensi sains dan logika.

Siapkan Ribuan Guru sebagai Katalisator

Gagasan besar tentu membutuhkan eksekutor yang mumpuni. Oleh sebab itu, Ditjen GTK menargetkan peningkatan kompetensi terhadap 3.272 guru yang akan menerima pengimbasan langsung dari fasilitator daerah.

Pembekalan ini menuntut guru untuk tidak sekadar transfer ilmu, tapi menjadi fasilitator yang menginspirasi. "Penerapan Program STEM di sekolah perlu didukung dengan meningkatkan kompetensi guru dalam menerapkan pembelajaran STEM yang sesuai prinsip Pembelajaran Mendalam serta prinsip 5M," ucapnya.

Saat ini, pembentukan tim ahli yang terdiri dari Fasilitator Nasional, Daerah, hingga UPT terus digenjot untuk menciptakan ekosistem belajar lintas disiplin. Peluncuran di PAUD Kudus ini bukanlah sekadar seremoni, melainkan katalisator awal untuk merombak gaya belajar di kelas agar siswa terbiasa berkolaborasi dan memecahkan tantangan dunia nyata. (Adinda Kinanthi)

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(CEU)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan