Anggota Komisi X DPR RI dari Fraksi Partai NasDem Ratih Megasari Singkarru. Medcom.id/Ilham Pratama Putra
Anggota Komisi X DPR RI dari Fraksi Partai NasDem Ratih Megasari Singkarru. Medcom.id/Ilham Pratama Putra

Kasus Siswa SD Bunuh Diri, Legislator NasDem Pertanyakan PIP

Renatha Swasty • 04 Februari 2026 19:03
Ringkasnya gini..
  • Kejadian siswa SD bunuh diri ini adalah sebuah pengingat yang sangat menyedihkan bagi semua pihak.
  • Anggota Komisi X DPR RI dari Fraksi Partai NasDem, Ratih Megasari Singkarru, mempertanyakan penyaluran bantuan pendidikan, seperti PIP.
  • Ratih mengatakan harus ada pemeriksaan kembali terhadap data penerima bantuan PIP agar tepat sasaran.
Jakarta: Anggota Komisi X DPR RI dari Fraksi Partai NasDem, Ratih Megasari Singkarru, mengaku sedih dan prihatin atas peristiwa bunuh diri siswa kelas IV SD berinisial YBR, 10, di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT) karena tidak dibelikan buku dan pulpen. Ratih mempertanyakan soal penyaluran bantuan Program Indonesia Pintar (PIP). 
 
"Kami menyampaikan rasa duka yang sedalam-dalamnya atas peristiwa memilukan yang menimpa saudara setanah air. Hati kami sangat berat dan begitu pilu ketika mendengar kabar ini. Kami mendoakan agar ibu dan saudara-saudara yang ditinggalkan diberikan kekuatan, kesabaran, dan ketabahan yang besar untuk menghadapi masa yang sangat sulit ini," kata Ratih dalam keterangan tertulis, Rabu, 4 Februari 2026. 
 
Legislator NasDem dari Dapil Sulawesi Barat itu menilai kejadian ini adalah sebuah pengingat yang sangat menyedihkan bagi semua pihak. Di tengah kemajuan dunia saat ini, ternyata masih ada saudara-saudara kita yang hidup dalam kesulitan ekonomi yang sangat hebat. 

"Rasanya sangat perih membayangkan ada anak yang harus berjuang begitu keras, bahkan hanya untuk memiliki alat tulis sederhana agar bisa belajar. Hal yang mungkin bagi banyak orang terasa sepele, namun bagi mereka adalah beban yang sangat berat," ujar ratih.
 
Anggota Komisi X DPR RI itu juga meminta tidak menutup mata pada beban berat yang dipikul keluarga ini. Sang ibu harus berjuang sendirian membesarkan banyak anak tanpa kehadiran sosok ayah. 
 
"Kondisi seperti ini seharusnya tidak ditanggung sendirian. Ini adalah tanggung jawab kita bersama masyarakat, komunitas di sekitar, hingga pemerintah untuk hadir dan saling menjaga," tegas Ratih.
 
Ratih juga mempertanyakan penyaluran bantuan pendidikan, seperti Program Indonesia Pintar (PIP). "Mengapa anak yang jelas-jelas sangat membutuhkan ini seolah tidak terjangkau? Apakah bantuan tersebut memang tidak sampai kepada yang berhak, ataukah jumlah bantuan yang diberikan selama ini memang sudah tidak cukup lagi untuk memenuhi kebutuhan hidup yang semakin mahal?" tanya Ratih.
 
Dia mendesak pemerintah dan seluruh lapisan masyarakat menjadikan kejadian ini sebagai momentum evaluasi besar. Ratih mengatakan harus ada pemeriksaan kembali terhadap data penerima bantuan PIP agar tepat sasaran.
 
Selain itu, perlu ada penyesuaian nilai bantuan PIP agar benar-benar cukup untuk membantu biaya hidup dan sekolah saat ini. "​Jangan ada lagi warga yang merasa sendirian dalam kesulitan. Mari kita lebih peduli dan lebih peka terhadap tetangga dan orang-orang di sekitar kita, agar kejadian menyedihkan seperti ini tidak terulang kembali di masa depan," tegas Ratih. 
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(REN)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan