Surat ditulis dalam bahasa daerah Ngada dan ditujukan kepada ibunya. Isi surat mengungkap dugaan alasan korban memilih mengakhiri hidup.
Sebelum YBR meninggal, ia sempat meminta dibelikan buku dan pensil kepada ibunya. Namun, sang ibu tidak bisa membelikan karena tak mempunyai uang.
Berikut isi surat YBR dengan bahasa daerah Ngada beserta artinya:
Kertas Tii Mama Reti (Surat buat Mama Reti)
Mama Galo Zee (Mama, saya pergi dulu)
Mama molo Ja'o (Mama, relakan saya pergi)
Galo mata Mae Rita ee Mama (Jangan menangis, Mama)
Mama jao Galo Mata (Mama, saya pergi)
Mae woe Rita ne'e gae ngao ee (Tidak perlu Mama menangis dan mencari atau merindukan saya)
Molo Mama (Selamat tinggal, Mama)
Peristiwa ini menyisakan luka mendalam bagi keluarga dan warga tempat tinggal YBR di Dusun Sawasina, Desa Nuruwolo, Kecamatan Jerebuu. YBS di lingkungannya dikenal baik, riang dan rajin belajar meski ekonomi keluarga tak mendukung.
YBR diduga memutuskan bunuh diri hanya selang sehari setelah meminta uang untuk membeli buku dan pena kepada ibunya. Tapi, ibu tak punya uang, sedangkan ayahnya sudah meninggal.
Sebelum kejadian bunuh diri itu, ibunya sudah memberikan nasihat untuk tetap rajin bersekolah, meski ekonomi keluarga serba terbatas. Memang, saat ini memperoleh uang tidak mudah.
YBR ditemukan tak bernyawa keesokan harinya oleh warga setempat yang sedang mengurus ternak kerbau. Tak jauh dari rumah nenek YBR, 80, tempat YBR tinggal.
Anggota Komisi X DPR RI dari Fraksi Partai NasDem Ratih Megasari Singkarru mengaku sedih dan prihatin atas peristiwa bunuh diri siswa berinisial YBR.
"Kami menyampaikan rasa duka yang sedalam-dalamnya atas peristiwa memilukan yang menimpa saudara setanah air. Hati kami sangat berat dan begitu pilu ketika mendengar kabar ini. Kami mendoakan agar ibu dan saudara-saudara yang ditinggalkan diberikan kekuatan, kesabaran, dan ketabahan yang besar untuk menghadapi masa yang sangat sulit ini," kata Ratih dalam keterangan tertulis, Rabu, 4 Februari 2026.
Legislator NasDem dari Dapil Sulawesi Barat itu memberi catatan, kejadian ini adalah sebuah pengingat yang sangat menyedihkan bagi negara. Di tengah kemajuan dunia saat ini, ternyata masih ada saudara-saudara kita yang hidup dalam kesulitan ekonomi yang sangat hebat.
"Rasanya sangat perih membayangkan ada anak yang harus berjuang begitu keras, bahkan hanya untuk memiliki alat tulis sederhana agar bisa belajar. Hal yang mungkin bagi banyak orang terasa sepele, namun bagi mereka adalah beban yang sangat berat," ujar Ratih.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News