Jakarta: Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh membuka Fakultas Kedokteran. Pembukaan ini untuk menjawab kebutuhan nasional akan tenaga medis profesional.
Wakil Menteri Agama Romo M Syafi'i yang meresmikan langsung pembukaan Gedung Fakultas Kedokteran UIN Ar-Raniry Banda Aceh menegaskan integrasi ilmu agama dan ilmu kedokteran sangat krusial dalam pengembangan keilmuan di Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI).
Pemahaman terhadap Islam tidak semestinya dibatasi hanya pada disiplin ilmu keagamaan seperti fikih, tauhid, ibadah, Al-Qur’an, dan hadis, melainkan dapat dipahami dan diamalkan melalui berbagai bidang ilmu pengetahuan, termasuk kedokteran.
“Karena sesungguhnya Islam tidak membedakan bacaan tentang ayat-ayat Qauliyah maupun Kauniyah, itu sebuah ayat yang integritas. Sehingga memahami Islam tidak mesti semua ahli fikih, bisa juga ahli di bidang kedokteran,” ujar Syafi'i dikutip dari laman kemenag.go.id, Jumat, 6 November 2026.
Syafi'i menyebut ilmu kedokteran dan agama tidak perlu ditempatkan dalam dua kutub terpisah. Keduanya dapat berjalan beriringan dalam membentuk insan yang tidak hanya memiliki kompetensi profesional, tetapi juga memahami nilai-nilai keislaman dalam menjalankan keahliannya.
Pembukaan Fakultas Kedokteran di UIN Ar-Raniry menjadi wujud nyata dari pengembangan disiplin ilmu yang lebih luas di lingkungan universitas Islam. Dia mengatakan pembentukan Fakultas Kedokteran di lingkungan PTKI sejalan dengan perhatian pemerintah terhadap percepatan pemenuhan ketersediaan dokter di Indonesia.
“Upaya untuk mendirikan Fakultas Kedokteran harus dilayani cepat. Kenapa? Karena Indonesia sangat membutuhkan dokter-dokter,” ungkap dia.
Syafi'i berharap keberadaan Fakultas Kedokteran UIN Ar-Raniry mendapat dukungan penuh dari berbagai pihak, baik dalam penyediaan fasilitas pendukung, penguatan kapasitas pendidikan, maupun alokasi beasiswa bagi putra-putri daerah dari pemerintah daerah.
Dia juga mengingatkan pentingnya perhatian dan dukungan bagi para dokter yang mengabdi di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T). Menurut dia, fasilitas serta insentif yang memadai sangat diperlukan agar pelayanan kesehatan di daerah penugasan khusus dapat berjalan optimal.
“Jadi harus terhormat dia datang ke situ karena dia melindungi kesehatan, melindungi nyawa. Layak dia untuk mendapat fasilitas memadai karena dokter ini kan kalau betul-betul mengabdi, enggak ada jam kerjanya,” ujar dia.
Syafi'i mengatakan profesi dokter memiliki peran mulia dalam menjaga kehidupan manusia. Hal ini sejalan dengan salah satu prinsip utama syariat Islam, yakni hifz al-nafs (perlindungan terhadap jiwa).
FOLLOW US
Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan