Ilustrasi seseorang yang sedang tidur dan mengalami mimpi. Foto: Gemini Ai
Ilustrasi seseorang yang sedang tidur dan mengalami mimpi. Foto: Gemini Ai

Kenapa Manusia Bisa Bermimpi? Ini Proses dan jenisnya

Muhammad Syahrul Ramadhan • 06 November 2026 13:46
Ringkasnya gini..
  • Manusia bermimpi karena aktivitas otak selama tidur dan sejumlah proses psikologis yang berkaitan dengan alam bawah sadar.
  • Jenis mimpi meliputi lucid dream, mimpi REM, mimpi non-REM, dan mimpi buruk.
  • Mimpi diduga membantu mengatur emosi, mengolah ingatan, serta memproses stres dan pengalaman traumatis.
Jakarta: Mimpi merupakan pengalaman yang dialami seseorang ketika sedang tidur. Pengalaman tersebut dapat berupa gambaran, pikiran, hingga emosi yang muncul selama seseorang tertidur. Terkadang, mimpi terasa sangat nyata, bahkan dapat memengaruhi suasana hati setelah bangun.

Lantas, kenapa manusia bisa bermimpi? Fenomena ini dapat dijelaskan melalui beberapa teori, mulai dari proses biologis hingga psikologis. Mimpi juga diduga berkaitan dengan kondisi mental dan emosional seseorang.

Melansir Halodoc, da beberapa teori yang menjelaskan bagaimana mimpi terjadi dan apa saja manfaatnya.

Kenapa Manusia Bisa Bermimpi?

Ada beberapa teori yang menjelaskan alasan manusia mengalami mimpi. Berikut empat penjelasannya.

1. Proses biologis

Mimpi berkaitan dengan fase tidur yang disebut Rapid Eye Movement (REM). Pada tahap ini, aktivitas otak meningkat sehingga mimpi biasanya muncul dengan lebih jelas dan intens.

Fase REM dapat terjadi sekitar 90 menit setelah seseorang mulai tidur. Tahap ini juga bisa berulang beberapa kali sepanjang malam. Aktivitas otak ketika REM bahkan memiliki kemiripan dengan kondisi saat seseorang sedang sadar.

2. Teori psikoanalitik

Dari sudut pandang psikologi, mimpi sering dikaitkan dengan alam bawah sadar. Teori yang dipelopori Sigmund Freud menjelaskan bahwa mimpi menjadi cara pikiran bawah sadar mengungkapkan perasaan, keinginan, dan konflik yang terpendam.

Freud membagi mimpi menjadi dua tingkatan, yaitu manifest dan laten. Manifest merupakan hal-hal yang diingat atau dilihat seseorang dalam mimpi, sedangkan laten merujuk pada makna tersembunyi yang berhubungan dengan keinginan bawah sadar.

3. Teori kognitif

Teori kognitif menjelaskan bahwa mimpi merupakan salah satu cara otak memproses informasi yang diterima sepanjang hari.

Dalam proses tersebut, otak mengatur, menyimpan, dan mengingat informasi. Mimpi juga dikaitkan dengan upaya mengorganisasi memori serta membantu memecahkan masalah yang belum terselesaikan.

4. Teori evolusioner

Menurut teori evolusioner, mimpi merupakan mekanisme bertahan hidup. Melalui mimpi, seseorang seolah mendapatkan kesempatan untuk berlatih menghadapi ancaman atau situasi berbahaya.

Pengalaman tersebut digambarkan sebagai simulasi terhadap kemungkinan situasi berisiko yang dapat terjadi dalam kehidupan nyata.
 

Jenis-Jenis Mimpi yang Perlu Diketahui

Mimpi memiliki beberapa jenis berdasarkan karakteristik dan fase tidur ketika pengalaman tersebut terjadi. Berikut beberapa di antaranya.

1. Lucid Dream

Lucid dream atau mimpi sadar merupakan kondisi ketika seseorang menyadari bahwa dirinya sedang bermimpi. Dalam beberapa kasus, orang yang mengalaminya bahkan dapat mengendalikan jalan cerita mimpi tersebut.

Jenis mimpi ini biasanya terjadi selama fase REM dan lebih sering dialami oleh individu yang berlatih meningkatkan kesadaran ketika tidur.

2. Mimpi REM

Mimpi REM merupakan pengalaman mimpi yang terjadi selama fase tidur REM. Pada tahap ini, aktivitas otak meningkat sehingga mimpi cenderung terasa lebih jelas dan nyata.

Sekitar 25 persen dari total waktu tidur manusia dihabiskan dalam fase REM.

3. Mimpi Non-REM

Berbeda dengan mimpi REM, mimpi non-REM terjadi ketika seseorang berada dalam fase tidur non-REM.

Mimpi pada tahap ini umumnya terasa kurang jelas dan tidak terorganisasi dibandingkan mimpi yang terjadi selama fase REM.

4. Mimpi Buruk

Mimpi buruk merupakan pengalaman tidur yang dapat menimbulkan perasaan takut, cemas, atau trauma. Ceritanya sering melibatkan situasi yang mengancam, seperti dikejar, terjatuh, atau terjebak dalam keadaan berbahaya.

Jika sering terjadi, mimpi buruk juga dapat memengaruhi kualitas tidur seseorang.
(Ellen Octovia Suherman)

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(RUL)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan