Senpi mainan yang dibawa pelaku peledakan di SMAN 72 Jakarta. DOK
Senpi mainan yang dibawa pelaku peledakan di SMAN 72 Jakarta. DOK

Karena Internet, Anak-anak Bisa Jadi Radikal Cuma dalam 3 Bulan

Ilham Pratama Putra • 02 Januari 2026 16:03
Jakarta: Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Komjen Pol (Purn) Eddy Hartono, menyebut anak-anak bisa menjadi korban paham radikalisme. Bahkan, proses radikalisasinya terbilang sangat cepat. 
 
Ia menjelaskan ada sejumlah faktor yang membuat anak lebih cepat terpapar paham radikalisme, salah satunya perkembangan teknologi.  Eddy menjelaskan anak-anak terpapar radikalisme melalui media online, termasuk gim online. 
 
"Sekarang dengan media online atau ruang digital itu hanya butuh waktu 3 sampai 6 bulan (terpapar radikalisme)," ujar Eddy dalam tayangan di Metro TV dikutip Jumat, 2 Januari 2026. 

Ia menjelaskan paparan radikalisme kepada anak tidak selalu soal agama. Tapi juga dalam wujud ideologi. 
 
Baca juga: Apa Itu Memetic Violence yang Menginspirasi Pelaku Ledakan SMAN 72 Jakarta? Simak Penjelasannya

"Seperti paham Neo-Nazi atau ideologi Supremasi Kulit Putih," ujar Eddy. 
 
Dia menyebut paparan internet terhadap anak sangat mempercepat proses radikalisasi. Bahkan dibandingkan dengan era sebelumnya, proses radikalisasi biasanya butuh waktu bertahun-tahun. 
 
"Dibandingkan dulu ketika proses radikalisasi secara konvensional itu membutuhkan waktu 2 sampai 5 tahun," sebut dia.  
 
Terpisah, Kabareskrim Polri Komjen Pol Syahardiantono mengungkap 68 anak tergabung dalam sebuah grup kekerasan ekstrem di internet. Anak-anak tersebut terpapar ideologi Neo-Nazi dan White Supremacy atau supremasi kulit putih.
 
Baca juga: Mendikdasmen Abdul Mu'ti Setuju Pembatasan Medsos dan Game Online bagi Pelajar

Syahardiantono menjelaskan 68 anak itu tergabung dalam grup bernama True Crime Community (TCC). Anak-anak tersebut tersebar di berbagai wilayah di Indonesia.
 
"Penanganan 68 anak di 18 provinsi yang terpapar ideologi kekerasan ekstrem melalui grup TCC seperti Neo-Nazi dan White Supremacy," kata Syahardiantono.
 
Ia menjelaskan di grup tersebut, anak-anak belajar menggunakan senjata berbahaya. Bahkan belajar menyusun strategi untuk menyerang sekolah.
 
"Mereka ditemukan telah menguasai berbagai senjata berbahaya dengan rencana aksi yang menyasar lingkungan sekolah serta teman sejawat mereka," sebut dia.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(REN)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan