Ilustrasi perundungan. Foto: MI
Ilustrasi perundungan. Foto: MI

PISA 2025: Skor Akademik Naik Tipis, tapi Sekolah Masih Rawan Perundungan

Citra Larasati • 09 September 2026 16:14
Ringkasnya gini..
  • Data PISA 2025 catat 24% pelajar Indonesia alami perundungan, lampaui rata-rata negara OECD yang hanya 20 persen.
  • P2G sebut tingginya angka perundungan jadi alarm keras bagi sekolah untuk ciptakan lingkungan belajar yang aman.
  • Meski literasi naik, PR Kemendikdasmen wujudkan sekolah bebas kekerasan jadi syarat mutlak capai mutu pendidikan.
Jakarta: Laporan Programme for International Student Assessment (PISA) 2025 tak hanya membedah skor akademik, tapi juga menyingkap realitas kelam di lingkungan sekolah. Laporan yang dirilis Selasa, 8 September 2026 ini, mencatat sebanyak 24 persen pelajar Indonesia mengalami perundungan (bullying) beberapa kali dalam sebulan.

Angka ini lebih memprihatinkan dibandingkan rata-rata negara OECD yang berada di level 20 persen. Fakta ini langsung menjadi sorotan serius Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G). Tingginya angka perundungan dinilai membahayakan ekosistem pendidikan dasar dan menengah.

"Ini menjadi alarm bagi satuan pendidikan untuk menciptakan ekosistem lingkungan belajar yang aman, nyaman, sehat, dan terlindungi," terang Kabid Advokasi P2G, Iman Zanatul Haeri dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Rabu, 9 September 2026.

Menurut Iman, seluruh pemangku kepentingan, mulai dari Kemendikdasmen, Kemenag, dinas pendidikan, hingga satuan pendidikan dituntut membangun sistem yang aman dari berbagai jenis kekerasan. Iklim keamanan merupakan fondasi utama dalam mewujudkan pendidikan yang berkualitas.

"Bagaimana kualitas atau mutu pendidikan akan dicapai, jika murid alami kekerasan, jika lingkungan belajarnya tak aman," ujar Iman.

Pemerintah pusat maupun daerah berkewajiban mendampingi sekolah untuk menghadirkan ruang yang menghargai perbedaan dan nol toleransi terhadap tindak kekerasan apa pun.

Skor Akademik Naik, tapi Sekolah Belum Aman

Kabar buruk soal bullying ini sejatinya beriringan dengan tren perbaikan di sektor akademik pascapandemi. PISA 2025 mencatat skor Indonesia mengalami kenaikan saat rata-rata negara OECD merosot di ketiga aspek uji (Matematika, Membaca, dan Sains).

"Yang menggembirakan adalah skor Indonesia justru meningkat dalam Membaca naik tujuh (7) poin dan Sains naik enam poin," ungkap Kornas P2G, Satriwan Salim.

Skor Membaca Indonesia kini menyentuh 365, disusul Sains di angka 389. Kenaikan ini dinilai sebagai bukti seriusnya Kemdikdasmen dalam memulihkan kualitas pembelajaran (learning recovery). Kendati demikian, skor Matematika masih harus menjadi bahan evaluasi lantaran turun 2 poin menjadi 364.

"Jadi yang dipelajari di kelas itu hendaknya bermakna, membangun nalar kritis murid, mereka dapat menyelesaikan persoalan riil menggunakan pendekatan matematika", jelas Satriwan.

Dedikasi Tinggi Guru yang Paradoksal

Di balik dinamika tersebut, data PISA 2025 turut mengonfirmasi dedikasi luar biasa para guru di Tanah Air. Sebanyak 85 persen guru di Indonesia dinilai terus mengajar hingga muridnya mengerti, melampaui rata-rata OECD sebesar 69 persen.

"Guru menjelaskan materi ke murid sampai mereka benar-benar memahaminya. Dukungan belajar yang kuat dari guru dapat memperkecil ketimpangan pemahaman antarmurid, sebab guru meluangkan waktu ekstra kepada semua murid tanpa kecuali," jelas Iman.

Namun, tingginya angka tersebut ibarat pisau bermata dua. Jika kemandirian belajar murid rendah, hal ini berisiko melambungkan beban kerja guru yang harus memberi waktu ekstra terus-menerus.

Iman mengingatkan, ke depan tugas pemerintahan Prabowo Subianto tak hanya menuntaskan krisis bullying di sekolah, tetapi juga mengejar target ambisius skor PISA pada 2029 (Membaca 409, Matematika 416, dan Sains 426) sesuai amanat RPJMN 2025-2029.

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(CEU)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan