Skor kemampuan sains siswa Indonesia pada PISA 2025 adalah 389. Lalu 364 untuk matematika, dan 365 untuk membaca. Angka itu secara umum nyaris tak bergeser dari 2022 dan masih di bawah capaian 2015 di ketiga bidang.
Pemerhati Pendidikan dari Universitas Harkat Negeri, Indra Charismiadji mengatakan, sebutkan stabil yang disematkan pada hasil PISA tahun ini justru menggambarkan adanya masalah tersendiri. "Kalau (diibaratkan) seseorang terbaring di ICU tiga tahun lalu dan hari ini kondisinya tetap di ICU. Secara teknis itu stabil. Tapi tidak ada dokter yang menyebutnya keberhasilan," kata Indra dalam keterangan tertulisnya, dikutip di Jakarta, Raby, 9 September 2026.
Indra menunjuk angka yang menurutnya lebih penting ketimbang perbandingan tahun ke tahun, yakni sejak 2015, proporsi siswa Indonesia yang berada di bawah kompetensi minimum (Level 2) naik 14 poin persentase di matematika, 18 poin di membaca, dan 7 poin di sains. Tren ini bertahan melewati tiga kali pergantian kurikulum.
"Ini bukan kegagalan program. Ini kegagalan institusi," tegas Indra.
Apa Itu PISA?
PISA adalah asesmen OECD untuk mengukur kemamuan murid usia 15 tahun dalam membaca, matematika, dan sains. Pada PISA 2025 fokus utamanya adalah literasi sains. Tahun ini, sebanyak 75 persen negara OECD mengalami penurunan hasil PISA.Sementara itu, kata Indra, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah justru menyoroti dua kemampuan yang skornya naik, yakni literasi dan sains dengan nada positif. "Itu bukan ukuran yang tepat," tandas Indra.
Sebelumnya, Kepala Badan Kebijakan Pendidikan Dasar dan Menengah (BKPDM) Kemendikdasmen, Toni Toharudin, menyambut hasil PISA 2025 dengan nada positif. Dalam peluncuran hasil PISA 2025 di Kemendikdasmen, Selasa (8/9), ia menyebut kebijakan Kemendikdasmen sudah berada di arah yang tepat, terutama dari sisi pengayaan kompetensi guru dan penguatan literasi.
Skor membaca naik dari 359 ke 365 dan sains dari 383 ke 389 dibandingkan 2022, meski matematika justru turun tipis dari 366 ke 364. Bagi Indra, kenaikan itu bukan patokan yang tepat untuk mengukur keberhasilan.
Sains naik dari sekitar 383 menjadi 389, dan membaca dari 359 menjadi 365; tapi menurutnya perubahan sekecil itu secara statistik tidak cukup untuk disimpulkan sebagai perbaikan yang berarti. Apalagi dijadikan alasan selebrasi.
Ukuran yang menurutnya lebih jujur bukan skor 2025 dibanding skor 2022, melainkan skor 2025 dibanding target yang ditetapkan pemerintah sendiri dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) untuk tahun yang sama. Dalam ukuran tersebut, membaca maupun sains sama-sama masih meleset jauh, persis seperti matematika.
"Kalau kita hanya membandingkan ke tiga tahun lalu, kenaikan tiga sampai enam poin bisa terasa seperti prestasi. Tapi kalau dibandingkan ke target yang kita tetapkan sendiri, itu masih jauh dari kata berhasil," kata Indra.
Indra justru lebih khawatir pada nada selebrasi itu memunculkan kemungkinan yang menurutnya lebih berbahaya ketimbang sekadar salah kaprah membandingkan tahun ke tahun. "Jangan-jangan para pejabat Kemendikdasmen memang tidak menyadari bahwa kementeriannya sendiri, lewat RPJMN, sudah menetapkan target yang jauh lebih tinggi dari hasil yang baru saja dirayakan," terangnya.
Jika itu benar, katanya, persoalannya bukan lagi soal cara membaca data, melainkan soal apakah dokumen perencanaan negara sendiri benar-benar menjadi acuan kerja sehari-hari di kementerian yang membuatnya.
Sebelumnya, Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) merilis skor Programme for International Student Assessment (PISA) Tahun 2025 dirilis. Skor PISA 2025 Indonesia secara umum tidak bergeser jauh dari tahun 2022, meski literasi dan sains naik tipis, namun untuk kemampuan numerasi atau matematika semakin merosot.
Sebelumnya, pada 2018 skor PISA matematika Indonesia sebesar 379, sedangkan di tahun 2022, skor matematika turun menjadi 366. Pada tahun 2025 ini, skor PISA matematika Indonesia kembali turun. Skor PISA Indonesia turun 2 poin menjadi 364.
"Matematika ada penurunan 2 poin," kata Kepala Pusat Asesmen Pendidikan (Pusmendik) Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) Rahmawati di Jakarta, Selasa 8 September 2026.