Pondok Pesantren Baitul Arqom di Balung, Jember, Jawa Timur.
Pondok Pesantren Baitul Arqom di Balung, Jember, Jawa Timur.

Fakta Keren Pesantren Baitul Arqom Jember: Punya Sanad Elite Gontor

Citra Larasati • 26 September 2026 12:02
Ringkasnya gini..
  • Berdiri sejak 1959, ini pesantren pertama di Indonesia yang didirikan oleh alumni KMI Gontor.
  • Sanad keilmuannya konsisten dijaga selama 4 generasi guna merangkul seluruh lapisan masyarakat.
  • Sukses cetak tokoh nasional seperti eks Kapolri, kini bersiap fokus ke sektor ketahanan pangan.
Jakarta: Eksistensi Pondok Pesantren Baitul Arqom di Balung, Jember, Jawa Timur, memegang peranan vital dalam konstelasi sejarah pendidikan Islam di Tanah Air, khususnya di kawasan Tapal Kuda. Lahir pada tahun 1959 lewat tangan dingin K.H. Abdul Mu'id Sulaiman, institusi ini mencatatkan rekor emas sebagai pesantren pertama di Indonesia yang dibidani oleh alumnu Kulliyatu-l-Mu'allimin Al-Islamiyah (KMI) Pondok Modern Darussalam Gontor.

Dalam proses perintisannya, langkah K.H. Abdul Mu'id Sulaiman turut disokong oleh Kiai Mahin Ilyas dan Kiai Djawahir Abdul Muin, membentuk fondasi solid bagi lembaga pendidikan yang ikonik ini.

Pimpinan Pondok Pesantren Baitul Arqom Jember saat ini, K.H. Izzat Fahd, memastikan bahwa benang merah antara lembaganya dengan Gontor tak sekadar afiliasi di atas kertas. Ada keterikatan sanad keilmuan dan estafet perjuangan yang telah mengakar kuat hingga melintasi empat dekade generasi.

"Pengakuan bahwa Baitul Arqom merupakan pesantren alumni Gontor pertama bukan klaim sepihak dari kami, melainkan disampaikan langsung oleh dzuriat pendiri Gontor KH. Ahmad Hidayatulah Zarkasyi, begitu juga KH. Akrim Mariyat dan Alm. KH. Samsul Hadi Abdan. Nilai-nilai, sistem KMI, hingga Panca Jiwa Gontor telah menjadi ruh pendidikan di Baitul Arqom sejak awal berdiri hingga saat ini," ujar K.H. Izzat Fahd dalam keterangannya, dikutip Sabtu, 26 September 2026. 

Sanad Elite Empat Generasi

Loyalitas Baitul Arqom terhadap sistem Gontor terbukti nyata dari rekam jejak keluarga pendiri yang konsisten menimba ilmu di KMI Gontor tanpa putus:
  1. Generasi Pertama: Sang Pendiri, K.H. Abdul Mu'id Sulaiman, merupakan alumni KMI Gontor angkatan 1943.
  2. Generasi Kedua: K.H. Masykur Abdul Mu'id merampungkan studi di KMI Gontor pada tahun 1968.
  3. Generasi Ketiga: K.H. Izzat Fahd (lulusan KMI 2002) dan H. Ismat Syauqi (lulusan KMI 2004).
  4. Generasi Keempat: Barisan cucu pendiri, di antaranya Basma Tania (alumni Mantingan 2019) dan Haekal Nawafie yang kini berstatus Calon Pelajar (Capel) Gontor.
Meski tidak semuanya nyantri langsung di Gontor, anggota keluarga pendiri lainnya tetap diwajibkan menyerap sanad keilmuan KMI melalui PP Baitul Arqom. Tokoh seperti Iffat Maimunah dan Muhammad Imaduddin menjadi contoh nyata.

Menariknya, pesantren juga menyiapkan Azmi Farhadi untuk mengejar pendidikan kedokteran agar kelak Baitul Arqom memiliki dokter spesialis dari kalangan internal.

"Sejak kakek saya lulus dari KMI Gontor pada tahun 1943, kemudian di lanjutkan KH. Masykur Abdul Muid tradisi menimba ilmu di Gontor terus berlanjut tanpa terputus. Jika dihitung dari buyut hingga keponakan keluarga besar KH. Abdul Muid Sulaiman ada lebih dari 30 hingga 50 anggota keluarga besar kami yang mengenyam pendidikan di Pondok Modern Darussalam Gontor," kata Ustaz H. Ismat Syauqi Wakil Pimpinan sekaligus Adik KH. Izzat Fahd.

Ini adalah bentuk komitmen dalam menjaga sanad keilmuan tersebut. "Jadi kami putra alm KH. Masykur Abdul Muid memang di persiapkan sebagai kader lembaga ini untuk meneruskan sanad kepondokmodernan dengan mengeyam pendidikan di Pondok Modern Gontor atau di Baitul Arqom," tuturnya.
   

Perekat Umat dan Pabrik Tokoh Nasional

Bukan hanya soal akademik, Baitul Arqom di era 1950-an lahir sebagai respons atas dinamika kemerdekaan dan kebutuhan membangun benteng moral di kawasan Tapal Kuda. Menghadapi masyarakat primordial yang kerap terkotak-kotak, pesantren ini mengadopsi mantra sakti Gontor "Berdiri di Atas dan Untuk Semua Golongan."

"Saat Baitul Arqom berdiri tahun 1959, kondisi sosial masyarakat saat itu sangat primordial. Masing-masing kelompok cenderung eksklusif. Almarhum kakek kami melihat bahwa model pendidikan Gontor adalah solusi yang paling tepat untuk menjembatani dan merangkul semua komunitas," jelas Izzat Fahd.

"Model pendidikan ala Gontor yang kami terapkan terbukti mampu merangkul seluruh lapisan masyarakat. Santri kami berasal dari berbagai latar belakang, mulai dari NU, Muhammadiyah, persis, al irsyad dan datang dari pelbagai pelosok Indonesia mulai dari Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, hingga Papua. Begitu masuk Baitul Arqom, semuanya menyatu. Dan ketika lulus, mereka kembali mengabdi di komunitasnya masing-masing. Baitul Arqom hadir sebagai perekat umat," tegas Izzat.

Berbekal prinsip inklusif ini, enam dekade kiprah Baitul Arqom telah menetaskan ribuan alumni yang sukses menduduki posisi strategis nasional. Salah satu figur paling mentereng adalah mantan Kapolri, Jenderal Pol. (Purn.) Badrodin Haiti.

"Kami bersyukur alumni-alumni Baitul Arqom mampu berkiprah di puncak kepemimpinan nasional, seperti Bapak Badrodin Haiti di kepolisian, maupun yang mengabdi di lembaga-lembaga pendidikan baik di kota maupun di desa-desa. Harapan kami di usia pesantren yang terus matang ini, Baitul Arqom dapat terus memberikan manfaat seluas-luasnya bagi masyarakat sesuai dengan nilai-nilai Panca Jiwa," ungkap Izzat Fahd.

Kini, menatap masa depan, PP Baitul Arqom siap berinovasi tanpa harus meninggalkan tradisi. Berada di zona agraris yang subur, pesantren ini mulai membidik sektor ketahanan pangan dan kemandirian ekonomi umat sebagai fokus pengembangan selanjutnya.

Sebagaimana dituturkan oleh Direktur Badan Pemeliharaan, Pengelolaan dan Pengembangan Wakaf dan Amal Usaha, Al Ustadz H. Muhammad Imaduddin: "Karakteristik kita hidup di wilayah agraris, dan keluarga besar kami pun latar belakangnya adalah petani. Ke depan, kami ingin Baitul Arqom berkembang menjadi pesantren yang juga mampu menguatkan ketahanan pangan berbasis pertanian, melengkapi kurikulum KMI yang murni kami terapkan," tutupnya.
 

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(CEU)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan