Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat. DOK Istimewa
Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat. DOK Istimewa

Hampir 4 Juta Anak Putus Sekolah, Lestari Moerdijat Desak Intervensi Nyata

Renatha Swasty • 02 Juli 2026 15:39
Ringkasnya gini..
  • Rerie mengatakan upaya mengatasi angka tidak sekolah harus ditangani hingga menyentuh akar masalahnya.
  • Program pendidikan kesetaraan non-formal seperti Paket A, B, dan C, serta pendidikan vokasi berbasis keterampilan kerja harus menjadi prioritas.
  • Lulusan program tersebut harus dibekali kompetensi yang relevan dengan kebutuhan industri dan kewirausahaan.
Jakarta: Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat mengatakan angka anak tidak sekolah di Indonesia masih menjadi pekerjaan rumah besar yang harus segera diatasi bersama dengan langkah intervensi yang tepat. Dia mengatakan upaya mengatasi angka tidak sekolah harus ditangani hingga menyentuh akar masalahnya.
 
"Langkah nyata dan kolaborasi pihak-pihak terkait harus segera diambil untuk mengatasi angka anak tidak sekolah, selain langkah intervensi yang tepat," kata Rerie sapaan karib Lestari Moerdijat dalam keterangan tertulis, Kamis, 27 Juni 2026.
 
Data Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah per 1 April 2026 mencatat 3.966.858 anak usia sekolah belum mengakses pendidikan. Rinciannya, 1.913.633 anak belum pernah sekolah, 986.755 anak putus sekolah, dan 1.066.470 anak lulus tidak melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. 

"Angka ini alarm serius. Kita tidak bisa hanya berhenti pada data. Dibutuhkan langkah nyata dengan memanfaatkan data terkini agar intervensi yang dilakukan tepat sasaran," ujar Rerie. 
  Anggota Komisi X DPR RI itu mendorong optimalisasi pemanfaatan data anak tidak sekolah hingga tingkat desa serta political will dari para pemangku kepentingan untuk segera mengatasi persoalan tersebut. 
 
"Dengan data akurat, bantuan seperti peralatan pembelajaran jarak jauh, Program Indonesia Pintar, dan beasiswa bisa tepat sasaran," tegas Rerie. 
 
Selain itu, program pendidikan kesetaraan non-formal seperti Paket A, B, dan C, serta pendidikan vokasi berbasis keterampilan kerja harus menjadi prioritas. Legislator dari Dapil II Jawa Tengah itu mengatakan lulusan program tersebut harus dibekali kompetensi yang relevan dengan kebutuhan industri dan kewirausahaan. 
 
Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat dari total 86,34 persen anak yang mengenyam pendidikan SLTA, sebanyak 33,21 persen di antaranya terpaksa putus sekolah karena masalah ekonomi dan akses. 
 
"Seluruh pemangku kepentingan di pusat dan daerah harus bergerak bersama. Saatnya memastikan tidak ada satu pun anak bangsa yang tertinggal dari layanan pendidikan," ujar Anggota Majelis Tinggi Partai NasDem. 
 
 
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(REN)




TERKAIT

BERITA LAINNYA