Andien bersama anaknya Kawa dan Tabi. Foto: Instagram @andien
Andien bersama anaknya Kawa dan Tabi. Foto: Instagram @andien

Kunci Andien Cegah Bullying: Sekolah Tanpa Kompetisi, Rumah Penuh Validasi

Renatha Swasty • 29 Juli 2026 14:32
Ringkasnya gini..
  • Musisi Andien menilai perilaku bullying pada anak paling besar dipicu oleh pola asuh rumah yang sering membandingkan dan kurang menghargai anak.
  • Untuk mencegahnya, Andien memberikan validasi cukup di rumah serta memilih sekolah dengan sistem mixed age group demi menekan batas senioritas.
  • Andien juga tidak memaksakan anak ikut kompetisi atau kejar ranking agar anak tumbuh nyaman tanpa merasa harus selalu menang di atas temannya.
Jakarta: Kasus kekerasan termasuk perundungan (bullying) di sekolah masih terus terjadi bahkan angkanya masih tinggi. Peran orang tua sangat diperlukan untuk mengantisipasi perundungan sekaligus mencegah anak menjadi pelaku.
 
Musisi Andien yang memiliki dua anak berusia sekolah dasar memahami pentingnya keluarga untuk mencegah bullying. Andien menilai perilaku bullying paling besar disebabkan oleh pola asuh di rumah. 
 
"Jadi, pasti anak-anak yang membully, dia berasal dari sebuah keluarga yang bisa dibilang mungkin pertama suka membanding-bandingkan atau dia juga tidak merasa nyaman dan dihargai, tidak merasa diterima di keluarganya, sehingga dia seperti melampiaskan di sekolah," kata Andien saat berbincang dengan Medcom.id, Rabu, 29 Juli 2026. 

Andien mengatakan pemilihan sekolah penting bagi sang anak. Dia mengutamakan kenyamanan anak termasuk sekolah yang peduli pada pencegahan perundungan. 
 
Dia mengungkapkan di sekolah anaknya menggunakan sistem mixed age group, di mana kelas 1, 2, dan 3 dalam satu kelas dan 4, 5, 6 dalam satu kelas. Hal ini bisa membantu meminimalisir gesekan junior dan senior. 
 
Selain itu, Andien juga memastikan anak-anaknya nyaman di rumah dan cukup mendapat validasi baik dari orang tua maupun diri sendiri. Sehingga, tidak melampiaskannya ke orang lain. 
  "Kalau dari aku pribadi, aku tuh, pasti banyak orang yang nggak setuju juga, cuma aku tuh, nggak terbiasa untuk meng-encourage dia untuk ikutan perlombaan sebenarnya," tutur Andien. 
 
Hal ini didukung sekolah anak-anaknya yang tidak ada ranking, tidak hanya mementingkan akademis dan nilai, bahkan tidak terima rapor. 
 
"Jadi mengedepankan nilai-nilai kalau di sekolahnya dia. Dan di sekolahnya pun juga nggak ada kompetisi yang kayak gitu-gitu tuh nggak ada. Tapi kalau dia mau ikut perlombaan dengan sendirinya, boleh. Tapi bukan aku yang menyuruh dia untuk, ayo, lomba ini," tutur dia.
 
Hal ini membuat anak-anaknya melihat kekalahan dan kemenangan bukan sesuatu yang mesti dilebih-lebihkan. Ketika menang tidak dirayakan dengan heboh dan ketika kalah tidak sangat sedih. 
 
"Menang biasa, kalah biasa juga. Nah ini yang menurutku salah satu yang yang membuat mereka tuh kayak nyaman-nyaman aja gitu dalam kesehariannya. Nggak merasa ada kayak menjadi victim mode gitu, ataupun dia yang harus jadi menang di atas temannya gitu," tutur dia. 
 

 
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(REN)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan