Melalui akun Instagram pribadinya @andien, ia memaparkan perjalanan emosi selama menonton film terbaru garapan Visinema Pictures. Setelah penasaran dengan cuplikan teaser yang beredar di media sosial, perempuan berusia 40 tahun itu akhirnya mengajak sang suami dan anak-anaknya untuk menonton.
“...Suamiku, Kawa, dan Tabi datang tanpa ekspektasi. Mereka cuma tahu kita akan nonton film anak-anak. Titik,” akuinya.
Terpesona dengan Estetika Film
Pelantun “Saat Bahagia” itu mengaku terpesona dengan estetika yang disuguhkan dalam film Na Willa, mulai dari jajaran pemain, tata artistik, hingga pemilihan baju. Tak hanya itu, ia turut memuji alunan musik yang diciptakan oleh Laleilmanino.“Dan musiknya, aduh, bikin jatuh cinta. Terutama di lagu ‘Sikilku Iso Muni’. Karya Laleilmanino jaminan keren sih! (ps: Juni ini aku rilis lagu ama LIN juga nii yeay),” ungkap Andien.
Teringat Masa Lalu
Kemudian, Andien juga mengulas bagaimana film ini memperlakukan hal-hal kecil yang dianggap sederhana sebagai sesuatu yang penuh rasa. Keseharian tersebut pun terasa seperti sebuah peristiwa.“Dan mungkin memang begitu ya... keajaiban itu bukan datang dari hal besar, tapi dari cara kita memandang yang kecil,” tambahnya.
Salah satu lelucon tentang minuman soda dalam karya adaptasi Reda Gaudiamo ini juga mengingatkan musisi tersebut kepada masa kecilnya.
“Jujur, joke ‘Ora Nyekrus' itu sudah akrab di telingaku sejak kecil, dari cerita ibuku. Jadi di beberapa adegan, aku seperti pulang ke masa lalu, saat segalanya lebih ringan,” tulis musisi itu.
Ia juga menyoroti adegan ketika Na Willa mengaji bersama temannya. Selain merasa terharu, Andien bertanya-tanya tentang kapan masyarakat Indonesia mulai membangun “sekat” antara satu sama lain.
“Padahal dulu, kita bermain tanpa tanya latar belakang. Tanpa beban,” lanjutnya.
Puji Cara Pengemasan Pesan Moral
Andien turut memuji bagaimana pesan-pesan moral diselipkan dalam film ini sesuai dengan tingkat pemahaman anak-anak. Ia mengambil contoh saat adegan berbohong. Film Na Willa tak hanya mengajarkan tentang benar dan salah, tetapi juga melihat adanya perasaan ganjal yang tertinggal di hati.
“Meski film ini banyak menggambarkan relasi yang hangat dan lembut, ia juga jujur memperlihatkan bahwa hidup nggak selalu adil, dan kita tetap punya pilihan, bagaimana bersikap di tengah itu semua,” ulas Andien.
Samakan dengan Film Studio Ghibli
Kemudian, pelantun “Sahabat Setia” itu mengaku menemukan kenyamanan dalam kelambatan cara bercerita film Ryan Adriandhy. Ia memuji bagaimana karya ini mampu membuatnya merasa tenang tanpa distraksi.“Pacenya yang lambat justru terasa seperti ruang yang nyaman. Senyaman saat aku menonton film-film Studio Ghibli, yang membiarkan kita diam sejenak, tanpa distraksi. Mungkin itu juga yang membuatku menikmatinya,” sebut musisi tersebut.
Sambungnya, “Kayak memberi jeda dari dunia yang serba cepat. Di sini, semuanya berjalan pelan, dan justru karena itu terasa lebih utuh.”
Sempat Khawatir dengan Reaksi Anak
Di kesempatan yang sama, ia mengungkap rasa khawatir bagaimana film ini akan diterima oleh dua putranya: Kawa dan Tabi. Selama di bioskop, Andien mengaku sesekali melirik kepada mereka untuk melihat reaksinya.Alasannya, ia ragu kalau mereka akan mampu melihat film ini dari sudut pandang anak perempuan. Alur film yang lambat juga membuat Andien khawatir anak-anaknya tidak menikmati film tersebut.
“Tapi setiap kali aku melirik... mata mereka berbinar, tertuju ke layar. Mereka tertawa lepas di momen lucu, dan ikut tenggelam di momen sendu. Aku berkaca-kaca karena terharu melihat mereka bisa benar-benar masuk ke dalam filmnya,” ungkapnya.
Tuntut untuk Berani Menggunakan Perasaan
Andien juga menepis anggapan bahwa dirinya “lebay” saat membicarakan film yang ditujukan untuk anak-anak. Menurutnya, untuk menikmati Na Willa, para penonton tidak dituntut untuk harus memahami pemaknaan setiap adegan secara logis.
Namun, para penonton hanya perlu membuka hatinya. Ia merasa bahwa perasaan seringkali dipandang sebelah mata di dunia yang “penuh logika” ini.
“Padahal, justru lewat rasa, kita belajar mengerti: tentang orang lain, tentang diri sendiri, tentang luka, tentang maaf,” jawabnya.
Ia pun memberikan pernyataan penutup, “Makanya, Na Willa terasa penting. Nggak hanya untuk anak. Tapi juga untuk para orangtua, yang sedang mengasah cara mengasuh dengan lebih utuh. Mengasuh anak-anak kita… dan juga anak kecil yang hidup di dalam diri kita.”
(Nyimas Ratu Intan Harleysha)
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News