Pidato Bung Tomo. Foto: Wikimedia Commons
Pidato Bung Tomo. Foto: Wikimedia Commons

Isi Pidato Bung Tomo 10 November 1945, Akar dari Seruan “Merdeka atau Mati”

Muhammad Syahrul Ramadhan • 06 November 2026 13:36
Ringkasnya gini..
  • Pidato Bung Tomo menjadi pembakar semangat rakyat Indonesia dalam melawan penjajahan Inggris di Surabaya.
  • Pidato ini menjadi cikal bakal Pertempuran 10 November yang kini diperingati sebagai Hari Pahlawan.
  • Salah satu bagian paling ikonik dari pidatonya adalah semboyan "Lebih baik kita hancur lebur daripada tidak merdeka."
Jakarta: Pidato Bung Tomo menjadi salah satu bagian penting dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia, khususnya menjelang Pertempuran Surabaya pada 10 November 1945. 

Melalui siaran radio, tokoh bernama asli Sutomo tersebut menyerukan semangat perjuangan kepada rakyat Surabaya agar tidak menyerah menghadapi ancaman tentara Sekutu.

Orasi yang diawali dengan seruan "Merdeka!" dan diakhiri dengan takbir "Allahu Akbar" tersebut dikenal luas karena pesan keberanian dan keteguhan dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia. 

Salah satu bagian paling ikonik dari pidatonya adalah semboyan "Lebih baik kita hancur lebur daripada tidak merdeka."

Pidato tersebut disampaikan dalam situasi genting ketika tentara Inggris memberikan ultimatum kepada rakyat Surabaya untuk menyerahkan senjata dan menghentikan perlawanan.


Dibalik Pidato Bung Tomo


Pidato Bung Tomo berkaitan erat dengan situasi politik dan militer di Surabaya setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945.

Pada September 1945, pasukan Sekutu mulai datang ke Indonesia, termasuk Surabaya. Kedatangan mereka awalnya berkaitan dengan tugas melucuti tentara Jepang, membebaskan tawanan perang, dan memulangkan pasukan Jepang.

Namun, kehadiran Sekutu yang diboncengi Netherlands Indies Civil Administration (NICA) menimbulkan kekhawatiran di kalangan masyarakat Indonesia. NICA merupakan pemerintahan sipil Belanda yang berupaya mengembalikan kekuasaan kolonial di Indonesia.

Ketegangan semakin meningkat setelah terjadi sejumlah bentrokan antara pejuang Indonesia dan tentara Sekutu. Situasi mencapai titik kritis setelah Brigadir Jenderal Mallaby, komandan pasukan Inggris di Surabaya, tewas pada 30 Oktober 1945.

Sebagai tindak lanjut, pihak Inggris mengeluarkan ultimatum kepada rakyat Surabaya agar menyerahkan senjata dan menghentikan perlawanan. Ancaman tersebut justru memicu semangat perlawanan masyarakat.

Dalam situasi inilah Bung Tomo menyampaikan pidato melalui Radio Pemberontak milik Barisan Pemberontakan Rakyat Indonesia (BPRI). Orasinya menjadi salah satu seruan yang membangkitkan semangat rakyat dalam mempertahankan kemerdekaan menjelang pertempuran besar 10 November 1945.


Isi Pidato Bung Tomo


Berikut isi pidato Bung Tomo yang disampaikan menjelang Pertempuran Surabaya. Naskah berikut menggunakan ejaan yang disesuaikan dengan bahasa Indonesia modern.

Pidato Bung Tomo diawali dengan salam pembuka dan seruan kemerdekaan. Ia kemudian mengingatkan rakyat bahwa tentara Inggris telah menyebarkan pamflet berisi ultimatum agar masyarakat menyerahkan senjata yang sebelumnya diperoleh dari tentara Jepang.

Bismillahirrahmanirrahim.
Merdeka!

Saudara-saudara rakyat jelata di seluruh Indonesia terutama saudara-saudara penduduk kota Surabaya.
Kita semuanya telah mengetahui.
Bahwa hari ini tentara Inggris telah menyebarkan pamflet-pamflet yang memberikan suatu ancaman kepada kita semua.
Kita diwajibkan untuk dalam waktu yang mereka tentukan,
menyerahkan senjata-senjata yang telah kita rebut dari tangannya tentara Jepang.
Mereka telah minta supaya kita datang pada mereka itu dengan mengangkat tangan.
Mereka telah minta supaya kita semua datang pada mereka itu dengan membawa bendera putih tanda bahwa kita menyerah kepada mereka

Saudara-saudara.
Di dalam pertempuran-pertempuran yang lampau kita sekalian telah menunjukkan bahwa rakyat Indonesia di Surabaya.
Pemuda-pemuda yang berasal dari Maluku,
Pemuda-pemuda yang berawal dari Sulawesi,
Pemuda-pemuda yang berasal dari Pulau Bali,
Pemuda-pemuda yang berasal dari Kalimantan,
Pemuda-pemuda dari seluruh Sumatera,
Pemuda Aceh, pemuda Tapanuli, dan seluruh pemuda Indonesia yang ada di Surabaya ini.
Di dalam pasukan-pasukan mereka masing-masing.
Dengan pasukan-pasukan rakyat yang dibentuk di kampung-kampung.
Telah menunjukkan satu pertahanan yang tidak bisa dijebol.
Telah menunjukkan satu kekuatan sehingga mereka itu terjepit di mana-mana.

Hanya karena taktik yang licik daripada mereka itu saudara-saudara.
Dengan mendatangkan presiden dan pemimpin-pemimpin lainnya ke Surabaya ini.
Maka kita ini tunduk untuk memberhentikan pertempuran.
Tetapi pada masa itu mereka telah memperkuat diri.
Dan setelah kuat sekarang inilah keadaannya.
Saudara-saudara kita semuanya, kita bangsa Indonesia yang ada di Surabaya ini.
Akan menerima tantangan tentara Inggris itu.
Dan kalau pimpinan tentara Inggris yang ada di Surabaya.
Ingin mendengarkan jawaban rakyat Indonesia.
Ingin mendengarkan jawaban seluruh pemuda Indonesia yang ada di Surabaya ini.

Dengarkanlah ini tentara Inggris.
Ini jawaban kita. Ini jawaban Rakyat Surabaya.

 
Hai tentara Inggris!
Kau menghendaki bahwa kita ini akan membawa bendera putih untuk takluk kepadamu.
Kau menyuruh kita mengangkat tangan datang kepadamu.
Kau menyuruh kita membawa senjata-senjata yang telah kita rampas dari tentara Jepang untuk diserahkan kepadamu
Tuntutan itu walaupun kita tahu bahwa kau sekali lagi akan mengancam kita untuk menggempur kita dengan kekuatan yang ada tetapi inilah jawaban kita.

Selama banteng-banteng Indonesia masih mempunyai darah merah
Yang dapat membikin secarik kain putih merah dan putih
Maka selama itu tidak akan kita akan mau menyerah kepada siapapun juga Saudara-saudara rakyat Surabaya siaplah keadaan genting!
Tetapi saya peringatkan sekali lagi.
Jangan mulai menembak,
Baru kalau kita ditembak,
Maka kita akan ganti menyerang mereka itu. Kita tunjukkan bahwa kita ini adalah benar-benar orang yang ingin merdeka.

Dan untuk kita saudara-saudara.
Lebih baik kita hancur lebur daripada tidak merdeka.
Semboyan kita tetap: merdeka atau mati!

Dan kita yakin saudara-saudara.
Pada akhirnya pastilah kemenangan akan jatuh ke tangan kita,
Sebab Allah selalu berada di pihak yang benar.
Percayalah saudara-saudara.
Tuhan akan melindungi kita sekalian.

Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar!
Merdeka!


 


Pidato Bung Tomo dan Pertempuran 10 November 1945


Pidato Bung Tomo memiliki hubungan erat dengan Pertempuran Surabaya yang pecah pada 10 November 1945. Pertempuran tersebut menjadi salah satu perlawanan terbesar rakyat Indonesia terhadap pasukan Sekutu setelah proklamasi kemerdekaan.

Pada 10 November 1945, pasukan Inggris melancarkan serangan besar-besaran melalui darat, laut, dan udara. Rakyat Surabaya bersama para pejuang dari berbagai daerah melakukan perlawanan untuk mempertahankan wilayah tersebut.

Meskipun menghadapi persenjataan dan kekuatan militer yang lebih modern, masyarakat tetap bertahan dalam pertempuran selama beberapa pekan.

Peristiwa tersebut kemudian dikenang sebagai Hari Pahlawan yang diperingati setiap 10 November. Penetapan tanggal tersebut menjadi bentuk penghormatan terhadap perjuangan dan pengorbanan para pahlawan dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Pidato Bung Tomo pun terus dikenang sebagai salah satu simbol semangat perjuangan rakyat Surabaya dalam sejarah kemerdekaan Indonesia.

(Vira Farhatul Maula)

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(RUL)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan