Hotel Majapahit di Jalan Tunjungan, Surabaya, dahulu dikenal sebagai Hotel Yamato dan menjadi saksi insiden perobekan bendera Belanda pada 1945. Foto: tangkapan layar YouTube Falsafah Kopi
Hotel Majapahit di Jalan Tunjungan, Surabaya, dahulu dikenal sebagai Hotel Yamato dan menjadi saksi insiden perobekan bendera Belanda pada 1945. Foto: tangkapan layar YouTube Falsafah Kopi

Sejarah Hotel Yamato, Saksi Bisu Perobekan Bendera yang Jadi Ikon Hari Pahlawan

Muhammad Syahrul Ramadhan • 05 November 2026 15:18
Ringkasnya gini..
  • Hotel Yamato yang kini bernama Hotel Majapahit menjadi lokasi insiden perobekan bendera Belanda pada September 1945.
  • Berdiri dengan nama Hotel Oranje pada 1911, bangunan ini mengalami beberapa kali perubahan nama hingga menjadi Hotel Majapahit.
  • Hotel Majapahit di Surabaya masih mempertahankan arsitektur dan sejumlah interior antik yang menjadi bagian dari sejarahnya.
Jakarta: Hotel Yamato menjadi salah satu bangunan bersejarah yang tidak bisa dipisahkan dari perjuangan rakyat Indonesia dalam mempertahankan kemerdekaan. Hotel yang kini dikenal sebagai Hotel Majapahit di Surabaya, Jawa Timur, merupakan lokasi terjadinya insiden perobekan bendera Belanda yang menjadi salah satu peristiwa penting sebelum Pertempuran 10 November 1945.

Meski Indonesia telah memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, para penjajah tidak serta-merta meninggalkan Tanah Air. Sejumlah pihak masih berupaya menggagalkan kedaulatan Republik Indonesia, termasuk melalui peristiwa yang terjadi di Surabaya.

Melansir Pariwisata Indonesia, insiden di Hotel Yamato bermula setelah pemerintah Indonesia mengeluarkan peraturan pada 1 September 1945 untuk mengibarkan bendera Merah Putih di seluruh wilayah Indonesia.

Namun, pada malam 18 September 1945, sekelompok orang Belanda mengibarkan bendera Belanda berwarna merah, putih, dan biru di Hotel Yamato tanpa izin maupun pemberitahuan kepada pemerintah RI daerah Surabaya.

Tindakan tersebut dianggap sebagai penghinaan terhadap kedaulatan Republik Indonesia dan memicu protes dari para pemuda Indonesia.

Insiden Perobekan Bendera di Hotel Yamato

Mengetahui pengibaran bendera Belanda tersebut, para pemuda Indonesia mendatangi Hotel Yamato untuk meminta penjelasan. Mereka kemudian menuju kamar 33 yang dijadikan markas sementara pemerintah Belanda.

Namun, perundingan tidak berjalan lancar hingga berujung pada insiden perobekan bendera. Bagian berwarna biru pada bendera Belanda dirobek sehingga hanya menyisakan warna merah dan putih.

Peristiwa tersebut menjadi simbol perlawanan para pemuda Surabaya dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Setelah insiden itu, terjadi rentetan bentrokan lainnya yang kemudian memicu pertempuran besar pada 10 November 1945. Pertempuran antara arek-arek Suroboyo melawan pasukan Belanda dan sekutunya tersebut memakan korban jiwa hingga belasan ribu orang.

Tanggal 10 November kemudian diperingati sebagai Hari Pahlawan untuk mengenang perjuangan dan pengorbanan para pejuang dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Sejarah Hotel Yamato, Awalnya Bernama Hotel Oranje

Sebelum dikenal sebagai Hotel Yamato, bangunan tersebut memiliki nama Hotel Oranje. Hotel ini didirikan oleh Lucas Martin Sarkies, putra dari keluarga pebisnis hotel besar di Asia Tenggara.

Sarkies membeli tanah seluas 1.000 meter persegi di kawasan Tunjungan, Surabaya. Ia kemudian menyewa Alfred Bidwell, seorang desainer, untuk merancang bangunan hotel dengan gaya art nouveau colonial.

Hotel Oranje resmi dibuka pada 1911. Seiring perkembangannya, bangunan tersebut mengalami beberapa perluasan, termasuk pelebaran sayap pada 1923 hingga 1926.

Pada 1936, hotel kembali diperluas dengan pembangunan lobi bergaya art deco. Peresmian lobi baru tersebut dihadiri sejumlah tokoh terkenal, seperti Pangeran Leopold III dan Putri Astrid dari Belgia, aktor Charlie Chaplin dan Paulette Goddard, serta novelis Inggris-Polandia Joseph Conrad.

Ketika Jepang tiba di Indonesia pada 1942, Hotel Oranje diambil alih dan berganti nama menjadi Hotel Yamato. Bangunan tersebut kemudian pernah digunakan sebagai markas pasukan Jepang di Jawa Timur.

Setelah pasukan Jepang meninggalkan Indonesia pada 1945, hotel kembali berganti nama menjadi Hotel Merdeka.

Pada 1946, hotel kembali dikuasai oleh keluarga Sarkies dan namanya diubah menjadi Hotel L.M.S. Nama tersebut digunakan untuk mengenang pendirinya, Lucas Martin Sarkies.

Selanjutnya, pada 1969, hotel berganti nama menjadi Hotel Majapahit, yang diambil dari nama salah satu kerajaan besar dalam sejarah Nusantara.
 

Hotel Majapahit Masa Kini

Hingga kini, Hotel Majapahit masih mempertahankan nuansa bangunan bergaya Eropa dari masa lampau. Arsitekturnya menjadi salah satu daya tarik bagi pengunjung yang ingin merasakan suasana hotel bersejarah.

Selain bangunannya, hotel ini juga memiliki pepohonan tua dan hamparan rumput hijau yang membuat suasananya terasa teduh. Berbagai benda antik seperti gramofon, lukisan, mobil kuno, dan sepeda kuno turut menjadi bagian dari daya tariknya.

Interior kamar juga masih mempertahankan sejumlah perabot bergaya Eropa, mulai dari ranjang, lemari, kursi, hingga meja rias. Bahkan, toilet kunonya masih menggunakan sistem tombol flush berupa tali yang digantung di bagian samping.

Hotel Majapahit berlokasi di Jalan Tunjungan Nomor 65, Surabaya, Jawa Timur. Selain menjadi tempat penginapan, bangunan ini juga menjadi pengingat sejarah perjuangan arek-arek Suroboyo dalam mempertahankan kedaulatan Republik Indonesia.
(Ellen Octovia Suherman)

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(RUL)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

>