Hari Pahlawan menjadi simbol pengorbanan para pejuang. Ribuan di antara mereka rela mengorbankan jiwa dan raga demi bangsa yang baru saja merdeka.
Kemerdekaan yang telah diproklamasikan ternyata belum membuat keadaan tenang. Pasukan asing datang dengan alasan melucuti tentara Jepang, tetapi menyimpan misi mengembalikan kekuasaan Belanda.
Dari situlah rangkaian peristiwa bersejarah di Surabaya bermula, mulai dari perobekan bendera hingga pertempuran besar. Semua itu membuktikan kemerdekaan Indonesia bukan hadiah, melainkan hasil perjuangan.
Lantas, kapan Hari Pahlawan Nasional diperingati dan bagaimana sejarah lengkap di baliknya?
Kapan Hari Pahlawan Diperingati?
Hari Pahlawan diperingati setiap tahun pada 10 November. Tahun ini, tanggal tersebut jatuh pada hari Selasa.Tanggal ini dipilih untuk mengenang Pertempuran Surabaya pada 10 November 1945. Meski diperingati secara nasional, Hari Pahlawan bukan hari libur, sehingga masyarakat tetap beraktivitas sambil mengenang jasa para pejuang.
Sejarah Hari Pahlawan Nasional
Mengutip laman bpu.ub.ac.id dan feb.umsu.ac.id, Pertempuran Surabaya diawali oleh sejumlah peristiwa setelah proklamasi kemerdekaan. Berikut urutannya.Awal Mula: Indonesia Belum Sepenuhnya Tenang
Setelah proklamasi 17 Agustus 1945, kondisi Tanah Air belum sepenuhnya stabil. Pasukan asing masih datang ke berbagai wilayah dengan alasan melucuti tentara Jepang, padahal mereka juga ingin mengembalikan kekuasaan Belanda.Pemerintah lalu mengeluarkan maklumat pada 1 September 1945 yang menetapkan Bendera Merah Putih dikibarkan di seluruh wilayah Indonesia. Gerakan ini menjadi simbol semangat kemerdekaan, termasuk di Surabaya, salah satu kota besar di Jawa Timur.
Pada pertengahan September, tentara Inggris mendarat di Jakarta dan tiba di Surabaya pada 25 September 1945. Mereka tergabung dalam Allied Forces Netherlands East Indies (AFNEI) dan datang bersama tentara Netherlands Indies Civil Administration (NICA).
Tugas resmi mereka adalah melucuti dan memulangkan tentara Jepang serta membebaskan tawanan perang. Namun, mereka juga ingin mengembalikan Indonesia kepada pemerintahan Belanda sebagai negara jajahan.
Insiden Hotel Yamato: Simbol Keberanian Arek-Arek Suroboyo
Ketegangan meningkat pada 19 September 1945, ketika sekelompok orang Belanda di bawah pimpinan W.V.Ch. Ploegman mengibarkan bendera Belanda (Merah-Putih-Biru) di Hotel Yamato, Jalan Tunjungan, Surabaya. Tindakan itu dianggap menghina kedaulatan Indonesia.Rakyat Surabaya berbondong-bondong datang ke depan hotel dan menuntut agar bendera Belanda diturunkan. Mereka meminta agar bendera Indonesia dikibarkan sebagai gantinya.
Dua pemuda, Hariyono dan Koesno Wibowo, berhasil memanjat atap hotel dan merobek bagian biru bendera Belanda sehingga menjadi Merah Putih. Insiden ini menjadi simbol keberanian dan harga diri rakyat yang tidak sudi dijajah kembali.
Bentrok dan Gugurnya Brigjen Mallaby
Pada 27 Oktober 1945, perundingan antara pihak Indonesia dan Belanda di Hotel Yamato berakhir ricuh. Ploegman tewas dalam kericuhan itu.Pada 29 Oktober, Indonesia dan Inggris sepakat melakukan gencatan senjata atas perintah Presiden Soekarno. Namun, keesokan harinya, 30 Oktober 1945, kedua pihak kembali bentrok.
Dalam bentrokan itu, Brigadir Jenderal A.W.S. Mallaby, pemimpin pasukan Inggris di Surabaya, tewas ketika mobil yang ditumpanginya meledak. Kematian Mallaby membuat pihak Inggris murka.
Ultimatum dan Pertempuran 10 November
Sebagai balasan, Mayor Jenderal Robert Mansergh yang menggantikan Mallaby mengeluarkan ultimatum. Isinya, semua pimpinan dan orang Indonesia bersenjata harus menyerahkan senjata paling lambat 10 November 1945 pukul 06.00 pagi.Rakyat Surabaya menolak menyerah dan memilih bertahan demi kehormatan bangsa. Pertempuran pun meletus dan berlangsung sekitar tiga minggu.
Meski kalah dalam persenjataan, semangat juang rakyat tidak pernah padam, dan seruan ‘Merdeka atau Mati!’ menggema di seluruh kota. Bung Tomo, K.H. Hasyim Asy'ari, dan K.H. Wahab Hasbullah berperan besar membangkitkan semangat rakyat lewat seruan jihad mempertahankan kemerdekaan.
Pertempuran ini menelan banyak korban jiwa, terutama dari pihak Indonesia. Sumber yang berbeda mencatat jumlah korban yang berbeda, dari sekitar 6.000 hingga 16.000 jiwa di pihak Indonesia.
Penetapan Hari Pahlawan Nasional
Pertempuran Surabaya menjadi tonggak penting dalam sejarah perjuangan Indonesia. Pemerintah menetapkan 10 November sebagai Hari Pahlawan melalui Keppres Nomor 316 Tahun 1959 pada 16 Desember 1959.Keputusan itu ditetapkan oleh Presiden Soekarno, yang menjadikannya hari nasional. Penetapan ini bertujuan mengenang jasa para pejuang yang telah berkorban demi kemerdekaan bangsa.
Makna Hari Pahlawan bagi Generasi Muda
Kini, setiap 10 November, rakyat Indonesia mengibarkan Bendera Merah Putih dan mengheningkan cipta untuk mengenang jasa para pahlawan. Semangat juang mereka menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk berkarya dan mengisi kemerdekaan dengan hal-hal yang membangun bangsa.Kisah perjuangan ini juga ada di buku pelajaran sekolah dari SD hingga SMA, dan mengajarkan keteladanan seperti kejujuran, kegigihan, dan pantang menyerah. Anak-anak bisa mengenal makna Hari Pahlawan lewat kebiasaan sehari-hari, seperti:
- Belajar dengan tekun
- Meraih prestasi di bidang yang diminati
- Menolong teman yang sedang kesusahan
- Membiasakan diri mengucapkan terima kasih, maaf, dan tolong