Pengeroyokan. DOK
Pengeroyokan. DOK

Tak Terima Anak Dipukul, Wali Murid Keroyok Guru Madrasah di Sampang

Renatha Swasty • 09 Februari 2026 11:50
Ringkasnya gini..
  • Seorang guru di madrasah dikeroyok oleh wali murid di Kabupaten Sampang, Madura, Jawa Timur pada Kamis, 5 Februari 2026.
  • Kasus ini dipicu ketidakterimaan wali murid karena anaknya sempat dipukul oleh korban saat kegiatan belajar mengajar di sebuah madrasah.
  • Kejadian ini bukan sekadar kasus kriminal biasa, melainkan bukti nyata rapuhnya sistem perlindungan anak dan guru, serta problem akut soal komunikasi.
Jakarta: Konflik antara wali murid dan guru kembali terjadi. Seorang guru dikeroyok oleh wali murid karena tak terima anaknya dipukul. 
 
Insiden ini terjadi di Kabupaten Sampang, Madura, Jawa Timur pada Kamis, 5 Februari 2026. Motif penganiayaan kasus ini dipicu oleh ketidakterimaan wali murid karena anaknya sempat dipukul oleh korban saat kegiatan belajar mengajar di sebuah madrasah.   
 
Koordinator Nasional Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI), Ubaid Matraji, mengecam insiden ini. Dia menilai ini bukan sekadar kasus kriminal biasa, melainkan bukti nyata rapuhnya sistem perlindungan anak dan guru, serta problem akut soal komunikasi di lingkungan satuan pendidikan.

"Sekolah adalah tempat adu pikiran, bukan adu otot layaknya ring tinju," tegas Ubaid dalam keterangan tertulis, Senin, 9 Februari 2026.  
 
Dia mengatakan tren kekerasan di sekolah atau madrasah sudah berada pada titik yang mengkhawatirkan. Merujuk pada Data JPPI 2025, kasus kekerasan di sekolah masih didominasi oleh ketegangan relasi antar-aktor di dalamnya.
 
"Data JPPI 2025 menunjukkan bahwa kasus kekerasan di sekolah didominasi oleh relasi guru dengan siswa sebanyak 46,25 persen kasus. Sementara itu, relasi teman sebaya menyumbang 31,11 persen kasus, dan relasi orang dewasa/senior-junior ditemukan sebesar 22,63 persen kasus," papar Ubaid.
 
Ubaid menuturkan angka 46,25 persen pada relasi guru-siswa mencerminkan adanya kebuntuan dalam pola komunikasi dan cara pendisiplinan. Dia menyebut angka ini adalah peringatan. 
 
Di satu sisi, siswa harus dilindungi dari segala bentuk kekerasan dalam pembelajaran. Di sisi lain, guru juga harus mendapatkan jaminan keamanan saat menjalankan tugasnya. 
 
"Jangan sampai ketegangan relasi ini berakhir pada tindakan anarkis seperti yang terjadi di Sampang," ujar dia. 

 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(REN)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan