Koordinator Nasional Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) Ubaid Matraji. DOK KPK
Koordinator Nasional Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) Ubaid Matraji. DOK KPK

3 Pemicu Penamparan dan Ancaman Senjata Oleh Guru ke Siswa di Jambi

Ilham Pratama Putra • 15 Januari 2026 13:36
Jakarta: Kasus kekerasan terhadap siswa kembali terjadi. Seorang guru di SMKN 3 Tanjung Jabung Timur (Tanjabtim), Jambi diduga menampar dan mengancam dengan senjata tajam sejumlah siswa. 
 
Koordinator Nasional Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) Ubaid Matraji mengungkapkan ada tiga hal yang memicu insiden tersebut. Hal ini sudah menjadi pola umum dari kekerasan yang terjadi di lingkungan pendidikan.
 
"Pertama, legitimasi kekerasan oleh otoritas. Tindakan menampar oleh guru memberikan sinyal bahwa kekerasan adalah alat penndisiplinan yang sah," kata Ubaid dalam keterangan kepada Medcom.id, Kamis, 15 Januari 2026.

Kedua, buruknya pedagogis yang dimiliki guru. Karena itu, guru cenderung melakukan tindak kekerasan karena tidak bisa berdialog dengan baik kepada siswa.
 
"Buruknya pendekatan pedagogis. Jika memang siswa melakukan kesalahan, guru lebih memilih jalan represif, mengabaikan dialog, bimbingan, dan restitusi sebagai inti dari pendidikan karakter," papar dia. 
 
Ketiga, adanya pergesaran citra sekolah. Ubaid mengatakan sekolah tidak mencerminkan zona aman.
 
"Maraknya ancaman dan ketakutan. Ancaman dengan senjata tajam telah mengubah lingkungan sekolah, yang seharusnya menjadi zona aman, menjadi lokasi ancaman kriminal, yang melanggar hak konstitusional anak atas rasa aman," ujar Ubaid.
 
Ubaid mengatakan kejadian tersebut menyalakan alarm darurat perlindungan anak. Sekolah bukan lagi tempat belajar untuk anak.
 
"Ini adalah darurat perlindungan anak di lingkungan pendidikan. Anak-anak kita datang ke sekolah untuk belajar dan bertumbuh, bukan untuk menjadi sasaran amuk kekerasan dari orang dewasa yang dipercaya negara untuk mendidik mereka,” kata Ubaid.
 
Terkait kasus tersebut, Dinas Pendidikan (Disdik) Provinsi Jambi tengah mendalaminya dengan menerjunkan tim investigasi. "Kami akan mendalami kejadian ini dan secepatnya tim bidang guru dan tenaga pendidikan (GTK) bersama bidang SMK Disdik akan turun ke SMKN 3 Tanjab Timur tersebut," kata pelaksana tugas Dinas Pendidikan Provinsi Jambi, Muhammad Umar.
 
Umar menyayangkan kejadian tersebut. Pihaknya mengingatkan sekolah sebagai tempat menimba ilmu mestinya membagi hal-hal yang bermanfaat.
 
"Bukan sebaliknya, menjadi lokasi perdebatan yang mengakibatkan baku hantam," tegas Umar.
 
Pihaknya menghimbau seluruh warga sekolah dapat berlaku bijak, termasuk menjamin pelaksanaan pembelajaran dapat berjalan dengan baik. Umar mengatakan pihak-pihak terlibat juga akan dilakukan pembinaan agar kejadian serupa tidak terulang lagi di kemudian hari.
 
"Kami akan berkoordinasi dengan BKD Provinsi Jambi terkait penanganan hasil dari pembinaan tersebut," jelasnya.
 
Kapolsek Berbak, Iptu Hans Simangunsong, membenarkan kejadian tersebut. Pihaknya akan melakukan mediasi antara pihak sekolah, guru yang bersangkutan, para orang tua murid dan forum komunitas pimpin kecamatan.
 
"Ya benar, kita akan mediasi hari ini terkait persoalan ini bersama pihak sekolah, guru, dan pihak terkait lainnya. Mudah-mudahan ada titik terang," ungkap Hans.

 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(REN)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan